
Beberapa detik berlalu, tidak terjadi apa-apa. Zalfa pun membuka kelopak matanya, ia terkejut melihat wajah Arkhan yang sudah berada sangat dekat dengan wajahnya. Pantas saja ia merasakan sapuan hangat nafas pria itu.
“Aku belum menyuruhmu membuka mata,” protes Arkhan lagi.
“Kelamaan.”
Lagi-lagi senyum tipis Arkhan mengembang. Jujur saja, Zalfa merasa terkesima menatap wajah tampan yang semakin mempesona saat dihias senyum.
“Apa yang mau kamu lakukan?” Zalfa menahan nafasnya.
“Apa saja.” Arkhan kembali memiringkan wajahnya. Namun gerakan tubuh Arkhan terhenti saat mendengar pesan masuk yang tidak hanya sekali ke ponselnya. Ia menoleh ke arah ponsel dan lengannya menjulur menyambar ponsel di atas nakas. Jempolnya menyapu layar ponsel, mengetuk pesan masuk yang sumbernya dari sadapan. Wajahnya yang putih mendadak merah padam membaca pesan hasil sadapan.
“Baji*gan!” Arkhan mengumpat sambil meremas ponselnya. Urat rahangnya menegang dan kemudian ia langsung bangkit bangun.
__ADS_1
Zalfa yang terkejut pun ikut terbangun. “Tunggu, kamu mau kemana?” Zalfa meraih lengan kekar Arkhan, berusaha untuk menghentikan gerakan tubuh pria itu. Ia tidak perduli jika tindakannya yang berusaha menghentikan gerakan Arkhan itu akan berujung dengan kemarahan pria itu, yang jelas ia tidak ingin ada hal buruk yang akan dilakukan suaminya.
“Aku akan menjumpai Reza,” jawab Arkhan dengan kemarahan yang meledak. Ia turun dari ranjang dengan gerakan cepat hingga pegangan Zalfa di lengan pria itu terlepas. Dengan gerakan kilat, Arkhan mengenakan sandal di rak dan menuju laci meja dekat ranjang. Ia menyambar pistol lalu menyelipkannya di balik kemeja.
Zalfa terkejut melihat benda yang baru saja diambil oleh suaminya itu. Ia pun berlari menghadang Arkhan, berdiri tepat di hadapan pria itu.
“Plis, jangan pergi kalau kamu hanya akan melakukan perbuatan di luar akal sehat!” Zalfa memohon.
“Menyingkir dari hadapanku!”
“Bukan hanya Reza. Tapi aku juga akan melumpuhkan Atifa, wanita itu telah berbuat kurang ajar terhadapku. Reza juga mengkhianatiku. Minggirlah!” Arkhan menyingkirkan tubuh kecil Zalfa dari hadapannya, namun Zalfa tetap bertahan tidak ingin menyingkir.
Zalfa masih belum mengerti dengan ucapan Arkhan yang menyebut-nyebut nama Atifa di balik kemarahan pria itu.
__ADS_1
“Kenapa harus bawa-bawa nama kakak iparku? Jangan lakukan apapun, Arkhan. Tetaplah di sini!” Zalfa memperlihatkan ekspresi penuh permohonan.
Arkhan melewati Zalfa dari samping wanita itu.
Zalfa menghambur kembali menghadang. Ia tidak perduli meski setelah itu dia akan emndapat hujatan atau bahkan pukulan dari suaminya. “Aku nggak akan membiarkanmu pergi!”
“Atifa telah membohongimu. Dia dalang dibalik penjebakan hubungan *****ual antara kita sebelum kita menikah. Apa kau akan membiarkannya tetap tertawa setelah mengetahui smeua ini? Menyingkirlah!” Arkhan memegang lengan Zalfa dan menariknya hingga tubuh Zalfa terseret beberapa langkah masuk kea rah dalam kamar. Dan dengan gerakan kilat, Arkhan keluar kamar lalu menutup pintu dengan hentakan kuat.
Zalfa berlari mendekati pintu yang tertutup lalu mengguncang handle. Sial, pintu dikunci dari luar.
Ya Tuhan, apa yang akan dilakukan suamiku? Dia sedang emosi dan tentunya dia bisa melakukan tindakan brutal. Sekarang senjata api ada di tangannya. Bagaimana jika dia benar-benar menghabisi Reza atau pun Atifa? Dan tentang penjelasan Arkhan yang mengatakan kalau Atifa adalah dalang penjebakan itu, Zalfa tidak mau berpikir lebih panjang mengenai itu. Dia hanya ingin agar Arkhan tidak mengotori tangannya dengan perbuatan yang dilarang, Zalfa tidak ingin Arkhan menambah dosa dengan menganiaya orang lain.
BERSAMBUNG
__ADS_1
CEEITA INI MASIH BERSAMBUNG YAAA
VOTENYA MANA 🥰🥰🥰