
Sesampainya di rumah, Zalfa memarkirkan mobil ke garasi. Ia meraih ponsel di dashboard dan menelepon Ismail.
“Assalamu’alaikum!” sapa Ismail di seberang.
“Wa’alaikumsalam.”
“Ada apa, Zalfa? Jam segini kok nelepon Mas? Kamu nggak kenapa-napa, kan? Apa ada masalah?” berondong Ismail yang merasa cemas.
“Ya Allah, aku sampai nggak sadar kalau sekarang udah larut malem.” Sekilas Zalfa melihat jam di pergelangan tangannya. “Saking kangennya sama Mas Ismail. Kapan Mas pulang?”
“Baru aja berangkat kok udah ditanya kapan pulang. Mas hanya nginep semalem kok. Besok sore juga udah pulang lagi. Kenapa? Kamu nggak apa-apa, kan?”
“Nggak pa-pa.”
“Arkhan gimana? Dia baik sama kamu, kan? Jangan tutupi apapun dari Mas. Kalau ada apa-apa cepat cerita ke Mas. Setelah ayah nggak ada, Mas-lah yang bertanggung jawab atas kamu.”
Zalfa tertegun. Bahkan Ismail malah emncemaskan dirinya. Bukan biduk rumah tangganya yang harus dikhawatirkan, melainkan rumah tangga Ismail sendiri.
“Halo, Zalfa!”
“Eh… Iya, Mas. Aku ngantuk. Ya udah, teleponnya kututup. Kabari aku kalau Mas udah pulang.”
“Iya.”
__ADS_1
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Zalfa menghela nafas panjang. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Ismail saat nanti tahu perilaku istrinya. Zalfa tidak bisa jujur sekarang karena Ismail akan melalui perjalanan panjang saat pulang, kabar buruk dari Zalfa tentu akan mempengaruhi konsentrasi Ismail di perjalanan.
Zalfa keluar dari mobil. langkah lebarnya membawanya sampai ke depan pintu kamar. Sesaat ia menahan nafas. Apakah Arkhan sudah sampai di kamar? Ataukah pria itu tidak ada di rumah?
Tangan Zalfa menjulur menyentuh knop pintu, kemudian memutar dan mendorong pintunya. Ia melihat Arkhan sedang melepas kemejanya dan meletakkan kemeja kotor ke keranjang. Zalfa menutup pintu, menyandar di pintu yang baru saja dia tutup. Manik matanya masih terfokus ke arah gerakan tubuh Arkhan yang kini berjalan dari sudut kamar menuju ke arah lemari. Pria itu membuka lemari dan mencari kaos kemudian mengenakan kaos tersebut. Dia menoleh saat sadar sedang diperhatikan oleh Zalfa. Wajah pria itu masih tampak tegang dipenuhi dnegan emosi. Dia belum sepenuhnya bisa melepaskan kekesalannya terhadap Reza dan Atifa.
“Apa yang kamu lihat?” tanya Arkhan datar. Nada suaranya jelas menunjukkan kekesalan yang amsih dipendam.
Zalfa mengalihkan pandangan ke meja. Ia berjalan menuju meja itu dan meletakkan tas di sana. “Aku akan buatin kopi hangat untukmu.”
“Apa kamu masih sangat marah dengan kejadian tadi?”
“Ya. Aku menyesal kenapa tadi tidak sempat menghabisinya. Sekarang mereka bahkan masih bisa bernafas dengan tenang dan mungkin menertawakan kita.”
“Arkhan, apa dengan menghabisinya smaka masalah akan selesai? Justru masalah baru akan bermunculan. Perbuatan mereka nggak harus dibalas dengan pelenyapan.”
“Mereka sudah menjebakmu dan membuat kita menjadi seperti boneka mainan. Mereka bahkan membuatmu melanggar larangan dalam perintah Tuhan, kau berbuat zina denganku atas kemauan mereka. Apa kematian nggak setimpal untuk membalas perbuatan mereka?”
“Tuhan lebih berhak atas umur manusia. Saat kamu berhasil membunuh, apakah kamu tahu hukuman apa yang akan diberikan Allah padamu yang telah mendahului ketetapan Allah atas nyawa seseorang?”
__ADS_1
“Cukup! Jangan bawa-bawa nama Allah!” hardik Arkhan merasa gusar mendengar kebesaran nama itu.
“Tuhan maha besar, Tuhan maha adil. Dia jauh lebih tahu hukuman apa yang pantas diberikan untuk Reza dan Mbak Atifa. Serahkan semuanya kepada-Nya. Tugasmu hanya mengingatkan mereka.”
Arkhan mengusap wajah kasar. Rasa kesalnya masih mengobrak-abrik dalam dirinya. “Seharusnya kamu nggak ada di sana. Kamu membuat semuanya menjadi kacau.”
Zalfa menghela nafas. Semua apa yang dia katakan tidak mempan juga untuk membuat Arkhan memahami maksud ucapannya. Betapa keras hati Arkhan.
“Baiklah, kalau memang kamu ingin menghabisi mereka, lalu kenapa tadi nggak kamu tembakkan saja pistolmu ke mereka? Kenapa kamu harus mendengarkanku? Lakukanlah kalau kamu mau. Pergilah sekarang, maka aku nggak akan melarangmu. Aku udah cukup memperingatkanmu.”
Arkhan menatap Zalfa tajam. Ia berjalan mendekati wanita itu. Jantung Zalfa deg-degan melihat langkah Arkhan yang mendekat dan kini sudah berada di jarak dua jengkal saja dari tempatnya berdiri.
“Kamu tahu kenapa aku nggak menghabisi mereka? Kamu tahu kenapa aku lebih memilih berdamai dengan situasi meski sebenarnya aku muak harus mengampuni mereka, hm?” Suara Arkhan terdengar serak dan bergetar menahan kekesalan. “Karena kamu.” Kata-katanya penuh penekanan.
Zalfa tercekat.
“Entah kenapa aku lemah jika mendengarmu. Kamulah penyebab semuanya hingga aku harus menuruti kata-katamu. Puas?” sambung Arkhan. “Segala permohonanmu menjadikanku seperti kerbau dicucuk hidung, yang selalu mematuhi perintah orang yang memecut. Gila! Sekarang aku baru tahu kalau ternyata kamu adalah kelemahanku.”
BERSAMBUNG
BANTU SALAH NIKAH UNTUK TETAP PADA POSISINYA DI RANK 10 BESAR YUK.
KASIH POIN YAAA
__ADS_1