SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
293.


__ADS_3

“Masyaa Allah... Imutnyaaaa...” Tini kagum menatap bayi dalam gendongan Zalfa. Bayi dalam bedungan yang tertidur pulas. Bahkan suara ramai di sekitarnya pun seakan tidak mempengaruhi tidur lelapnya. “Mungil dan kecil, tapi badannya padat berisi. Ini pasti karena ASI-nya terpenuhi.”


Ismail tersenyum menatap reaksi istrinya yang terlihat begitu antusias melhat bayi lain. “Cup cup cup... Sssh ssh ssh...” Ismail menepuk-nepuk kecil paha bayi dalam gendongannya saat bayinya itu menggeliat hendak menangis. Tak lain putranya yang baru beberapa bulan lahir. Begitu luwesnya cara Ismail menggendong bayinya, dia tampak telaten dan tampak terbiasa mengurus bayi.


Zalfa dulu dibsearkan oleh tangan Ismail, tentu saja dia sudah tidak asing lagi saat harus merawat bayi.


Jika dibandingkan bayi Zalfa dan bayinya Tini, tentu tubuh keduanya berbeda jauh. Mengingat Shanum terlahir dalam keadaan prematur dan berat badan yang tidak normal. Meski begitu, berat badan Shanum naik dengan pesat karena ASI ibunya lancar dan deras. Pipinya tembem dan menggemaskan.


Selama satu minggu Shanum dirawat di rumah sakit, dan sekarang sudah dibawa pulang.


“Maaf, aku baru bisa menjengukmu sekarang. Aku nggak bisa menjenguk di rumah sakit. Sebab aku repot banget mengurus bayiku,” kata Tini sambil memposisikan duduk di sisi Zalfa.


Zalfa yang berada di posisi duduk di kasur dengan punggung menyandar pun tersenyum. “Aku mengerti banget, Mbak. Lagian kan Mas Ismail juga udah menjagaku saat proses kelahiran Shanum. Maaf Mbak, aku pinjam Mas Ismail waktu itu hingga membuatmu mesti sendirian di rumah ngurusin si kecil.”


“Elah, kamu apaan sih? Aku malah senang banget Mas Ismail bisa menunggumu di rumah sakit.”


Sejurus pandangan tertuju ke arah Arkhan yang baru masuk kamar. pria yang selalu terlihat tampan dan bersih itu berhenti di tengah-tengah ruangan, mengamati Zalfa yang sedang duduk nyender, kemudian Shanum yang dibaringkan di kasur bayi di sisi Zalfa, ada Tini juga di sana, serta Ismail yang menimang-nimang putranya.


“Arkhan, dari mana saja kamu? Kami tidak melihatmu sejak datang tadi.” Ismail berbasa-basi.


“Aku mencari makanan untuk Zalfa.” Arkhan menatap plastik yang dia tenteng. “Aku tidak tahu kalau kalian datang, jadi aku hanya membawa ini.”

__ADS_1


“Tidak masalah. Kami datang tidak untuk merepotkanmu,” jawab Ismail.


“Permisi!” Emy muncul. “Apa ada pakaian kotor yang bisa saya cuci?”


“Ya, kau ambil saja pakaian di tas itu. Itu semua pakaian kotor milik Shanum,” titah Arkhan sambil menunjuk tas yang baru saja dia bawa pulang dari rumah sakit.


“Emy, kamu nggak perlu mencuci semua itu kalau kamu capek. Besok nyucinya juga nggak apa-apa,” ucap Zalfa dengan senyum. “Lihat ini, Shanum yang baru lahir dan ingin bermain sama Bibi Emy.” Zalfa menatap bayinya dengan raut gembira.


Emy tersenyum melihat bayi yang tertidur pulas dan tertutup kelambu bayi. Dia mendekati kasur bayi sambil berkata, “Ck ck ck! Cantik sekali. Selamat ya Non Zalfa. Saya turut bahagia, akhirnya semuanya lancar dan sehat.”


Zalfa mengangguk.


“Kalau lelah, jangan dipaksain ya. Pelan-pelan aja kerjanya, nggak usah diburu-buru,” kata Zalfa.


“Iya, Non.” Emy berlalu pergi melintasi Arkhan.


Arkhan meletakkan plastik tentengannya ke meja. Dia mengeluarkan piring dan garpu beserta roti sosis dari plastik tersebut.


“Itu untukku?” tanya Zalfa.


“Ya. Kau suka roti sosis kan?”

__ADS_1


“Iya. Makasih ya.”


Arkhan membuka pembungkus roti lalu meletakkan roti ke piring dan memotongnya dnegan garpu. Dia menyuapi Zalfa.


Ismail dan Tini bertukar pandang memperhatikan interaksi antara Zalfa dan Arkhan.


“Kok, kamu langsung ngelirik Mas? Kamu mau juga digituin?” tanya Ismail menggoda Tini.


Sontak muka Tini memerah seperti kepiting rebus.


Tiba-tiba terdengar suara Shanum menggeliat. Segera Arkhan dan Zalfa bergerak mendekati bayi mereka. Arkhan bahkan tanpa sadar telah melempar piring yang tadi dia bawa ke meja begitu saja. Hampir saja roti di atasnya melompat keluar.


Zalfa membuka resleting kelambu, lalu tangannya bersamaan dengan tangan Arkhan menyentuh tubuh mungil Shanum.


TBC


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2