
Akhirnya Zalfa mengurungkan niat dan menjauhkan kembali wajahnya dari wajah Arkhan. Ia meletakkan pipinya ke dada Arkhan. “Rasanya sia-sia aku masak banyak hari ini. Kamu juga nggak mau makan.”
Zalfa mendongak, kembali menatap wajah Arkhan. Bahkan saat dalam kondisi tertidur pulas pun Arkhan masih tampak tampan. Zalfa membelalak saat sadar bibirnya sudah menyatu dengan bibir Arkhan. Ya ampun, ia sampai tidak sadar kapan ia mengangkat wajahnya dan mendaratkan bibirnya ke pelabuhan itu.
Merasakan sentuhan bibir Zalfa, sontak mata Arkhan terbuka. Lengannya terangkat dan melingkar di punggung Zalfa.
Huh, tak butuh waktu lama untuk Arkhan membuka matanya lebar-lebar saat dipancing dengan hal-hal mesra.
Tubuh Zalfa tertarik oleh lengan Arkhan dan dengan mudahnya Arkhan membuat tubuh mungil itu melompati tubuh Arkhan kemudian kini posisi pun terbalik, Zalfa berada di bawah Arkhan.
“Hei, apa yang kau lakukan? Kenapa mencuri ciumanku, hm?” Arkhan menatap wajah Zalfa di bawahnya. Telunjuknya mengelus kening wanita itu.
Dengan muka merah merona, Zalfa menjawab, “Kamu dibangunin nggak bangun-bangun sejak tadi. Aku hanya membangunkanmu. Ini adalah trik terbaik untuk membuatmu bangun. Aku udah masak banyak spesial untukmu tapi kamu malah tertidur jam segini. Bukankah kita udah sepakat kan makan malam bersama?”
Penjelasan Zalfa yang panjang lebar tak membuat Arkhan menyadari kesalahannya. Ia malah mendekatkan wajahnya ke wajah Zalfa.
“Arkhan! Mama udah menunggu di bawah. Jangan membuat mama terlalu lama menunggu!” Zalfa mendorong dada Arkhan.”
“Ya. Tapi setelah ini.” Arkhan menyingkirkan tangan Zalfa yang menahan dadanya kemudian melanjutkan ciumannya.
Terpaksa Zalfa nurut. Ia membalas ciuman itu demi menyenangkan hati Arkhan.
__ADS_1
Arkhan menjauhkan wajahnya kemudian bangkit bangun. “Baiklah, ayo kita turun!” Arkhan menyibakkan selimut dan menurunkan kakinya ke lantai.
Zalfa bangkit bangun dengan senyum lebar. Dia sangat girang dan terlihat bersabar menunggui Arkhan yang mencuci muka di kamar mandi. Tak lama Arkhan keluar dari kamar mandi, Zalfa mengikuti Arkhan keluar kamar.
Sesampainya di ruang makan, Maria sudah menunggu.
“Malam, Mama!” Zalfa menghampiri meja amakan.
Arkahn menarik kursi dan duduk. Ia terkesiap menatap meja makan yang dipenuhi oleh aneka ragam lauk pauk. Ia kemudian menoleh ke arah Zalfa.
“Ini semua hasil masakanmu?” Tanya Arkhan tak yakin.
Arkhan mengangguk. Ia meneliti meja makan dengan dahi mengernyit. Ia tidak menyangka jika ternyata dirinya menikahi wanita super yang pintar memasak.
“Tunggu di sini. Aku akan memanggil Elia,” ujar Zalfa kemudian meninggalkan ruang makan.
Dengan mengajak makan bersama, Zalfa ingin membuat Elia berdamai dengan situasi. Tidak ada lagi kenyamanan tinggal serumah jika tidak ada kedamaian antara satu dengan yang lain.
Zalfa berdiri di depan pintu kamar, ia menyentuh handle. Pintu dikunci. Akhir-akhir ini Elia memang selalu mengunci pintu kamarnya.
Zalfa mengetuk pintu.
__ADS_1
Tidak ada jawaban.
“Elia!” panggil Zalfa.
Sunyi.
Zalfa kembali mengetuk pintu sambil memanggil-manggil nama Elia. Tak lama terdengar suara lubang kunci pintu diputar. Zalfa tersenyum melihat pintu dibuka dari dalam. Elia menyembul keluar. Seperti baisa, mukanya jutek dan bengis. Tatapannya tajam melebihi tajamnya pisau belati.
“Mau apa kau kemari?” sadis Elia kemudian balik badan dam amsuk ke kamar.
Zalfa ikut masuk kamar. “Aku mau mengajakmu makan malam.”
“Nggak perlu ngajakin aku. Aku makan di luar aja,” ketus Elia sambil menghempaskan tubuhnya duduk di sisi ranjang.
“Aku masak banyak tadi. Aku yakin kamu menyukai hasil masakanku.”
“Cih, jangan harap aku menyentuh masakan buatanmu. Aku jijik!” Elia menatap Zalfa sangar.
Sabar, Zalfa! Harus sabar! Dalam hati Zalfa menenangkan diri.
TBC
__ADS_1