
“Arkhan, kamu masuk lewat pintu samping. Ini tempat khusus untuk wanita,” terang Zalfa yang sudah menginjak lantai masjid bagian wanita.
Tanpa banyak kata, Arkhan balik badan, keluar dari pintu yang ia lalui, kemudian memasuki pintu samping masjid. Ia terlihat sedikit bingung, namun kemudian memilih duduk di sisi salah seorang pria lainnya.
“Assalamu’alaikum warahmatullahiwa barakatuh...” Ustad Dahlan mengucap salam melalui mikrophone. Disambut dengan jawaban salam menggemuruh oleh jamaah. “Sebelum acara kita mulai, dengan kuasa Allah dan dengan ijin Allah, kebetulan di hari yang baik ini, telah hadir salah seorang saudara kita di masjid ini, insyaa Allah dengan bersama-sama disaksikan oleh kita mengucapkan dua kalimah syahadat dan masuk islam. Alhamdulillah. Nama beliau adalah Jonathan Yoseph.” Ustad Dahlan mengingat nama yang Zalfa sebutkan di telepon. “Berdasarkan informasi dari teman kita, Jonathan Yoseph sudah hadir di masjid ini. Mari kita bersama-sama menjadi saksi masuknya salah satu orang menjadi muslim. Alhamdulillah...”
Jeda sejenak.
Para jamaah tidak langsung pulang, mereka masih bertahan duduk di masjid demi menyaksikan bertambahnya daftar umat muslim.
“Baiklah, saya akan awali dengan membimbing beliau untuk masuk Islam sehingga Insyaa Allah pada kesempatan shalat Ashar nanti, beliau akan menunaikan shalat pertamanya sebagai seorang uslim atas ijin Allah SWT. Kita undang Jonathan Yoseph untuk duduk di sebelah saya,” lanjut Ustad Dahlan.
Arkhan langsung bangkit berdiri. Dengan penuh percaya diri dan sikap yang tenang, Arkhan melewati beberapa shaf hingga sampai di barisan paling depan. Sesuai perintah ustad, ia pun duduk di sisi ustad. Sosok Arkhan menjadi pusat perhatian seluruh jamaah.
“Alhamdulillah telah hadir bersama kita saudara Jonathan Yoseph.” Ustad Dahlan menatap Arkhan. “Silahkan Anda pegang mike untuk kemudian bisa saya bimbing.”
Arkhan mengambil mike yang diserahkan oleh asisten ustad Dahlan.
__ADS_1
“Berapa usiamu, Nathan?” tanya Ustad Dahlan yang mengenal Arkhan dengan nama Jonathan.
“Dua puluh sembilan.”
“Alhamdulillah... Di usia dua puluh sembilan mendapat hidayah dari Yang Maha Kuasa untuk mencintai Allah. Kamu yakin masuk Islam?”
“Yakin.”
“Ada paksaan?”
“Adakah iming-iming untuk masuk Islam?”
“Tidak sama sekali.”
“Misalnya ada yang mengiming-imingi uang atau barang supaya masuk Islam.”
“Tidak ada.”
__ADS_1
“Baiklah, perlu saya ingatkan bahwa bagi siapapun yang akan masuk Islam untuk diingatkan tiga hal. Ini adalah aturan dari Al Qur’an sebelum anda dibimbing untuk masuk Islam. Pertama, Al Baqarah ayat 256, tidak boleh ada paksaan bagi seseorang untuk dibawa memeluk Islam. Baik secara halus apa lagi kasar. Ini melanggar ketentuan dalam Al Qur’an. Kedua, Al Baqarah 208, bagi yang sudah masuk Islam, maka beliau harus siap menunaikan aturan dalam Islam. Menunaikan kewajiban sesuai perintah Allah. Lisan dan hati mesti dijaga. Tidak boleh mencela orang lain, pandangan harus dijaga, tidak boleh mencuri dan bermaksiat. Ketiga, boleh menolak dengan cara halus bila orang tua memaksa supaya mengikuti ritual ibadah pada agama sebelumnya bila orang tuanya belum masuk Islam. Tapi dalam urusan dunia, jangan tinggalkan mereka. Tetap bergaul dengan mereka dalam urusan dunia dengan cara yang baik.”
“Baik, kita mulai. Bismillahirrahmanirrahim... Siap?”
“Siap!” jawab Arkhan yakin.
“Ikuti saya! Bismillah...”
“Bismillah...” Arkhan mengikuti.
“Bismillahirahman...”
“Bismillahirahmanirrahim...”
Ustad Dahlan agak terkejut mendengar Arkhan melangsungkan bacaan sebelum Ustad Dahlan memberitahukan bacaan basmallah secara lengkap tanpa dibimbing. Bahkan lidah Arkhan terdengar fasih melafazkannya. Ustad Dahlan kemudian melanjutkan bimbingannya.
TBC
__ADS_1