
Perdebatan antara Arkhan dan Faisal di depan restoran masih membuat Arkhan memndam kesal. Terbukti pria itu masih tampak emosi. Sepanjang perjalanan pun, Arkhan tidak bicara walau hanya sepatah kata. Sorot matanya tajam, kulit wajahnya merah padam, dan urat-urat rahangnya mengeras. Caranya menyetir juga tidak stabil. Sempat hampir serempetan akibat tidak fokus menyetir. Untung saja Arkhan gesit banting stir ke kiri untuk mengelak. Sayangnya justru Zalfa yang terkejut akibat gerakan mobil yang berbelok dengan kasar.
Zalfa menatap Arkhan kesal. Ya ampun, Arkhan. Kesal boleh aja, tapi bukan malah efeknya mengancam nyawa orang lain begini. Zalfa sampai jantungan dibuatnya. Andai Zalfa boleh memilih, ia lebih baik berada di atas kuda yang berlari kencang dari pada berada di dalam mobil selaju itu, rasanya lebih menakutkan dari apa pun.
“Berhati-hatilah! Kita bisa mati konyol dengan caramu menyetir begini,” ucap Zalfa dengan jantung deg-degan akibat rasa terkejut.
Arkhan hanya menoleh singkat.
“Pelankan mobilnya!” titah Zalfa yang merasa ketakutan dengan cara Arkhan menyetir mobil. Kelajuannya bisa membuat Zalfa mati kaku.
__ADS_1
Arkhan seperti tidak peduli dengan perkataan Zalfa. Kelajuan mobil tidak berkurang, bahkan malah semakin tinggi. Pria itu fokus menatap ke depan.
“Arkhan, apa kamu nggak mendengarku? Kamu sekarang nggak hanya sendiri. Ada aku di sampingmu. Apa kamu mau melihatku mati?” Zalfa berpegangan pada handle pintu. Detakan jantungnya berpacu semakin kencang.
“Diamlah!” ujar Arkhan tanpa menoleh.
“Arkhan, kamu membuatku ketakutan!” pekik Zalfa dengan mata berair. Ditatapnya jalanan di depan yang seakan-akan bergerak mendekat dnegan cepat, perumahan di sisi kiri kanan jalan pun seperti bergerak menjauh dengan cepat. Ya Tuhan, Zalfa merasa sangat ketakutan. “Kalau kamu masih nekat, aku akan lompat!”
Zalfa tidak membalas ucapan Arkhan. Sesungguhnya ia tadi hanya mengancam, karena tidak mungkin ia akan berani melompat turun disaat kecepatan mobil setinggi itu, namun ia berharap gertakannya tersebut mampu membuat Arkhan memahaminya. Dan ternyata usahanya tidak sia-sia.
__ADS_1
“Kamu membuatku ketakutan, Arkhan,” ulang Zalfa. Jantungnya masih ketar-ketir, deg-degan bukan main, mukanya memucat, dan matanya berkaca-kaca. Bagaimana mungkin ia tidak merasaketakutan, dia sedang berada di dalam mobil tapi rasanya seperti di ambang kematian. Dan Arkhan tidak menyadari rasa takut yang dia rasakan.
Zalfa melepas tangannya yang dipegang oleh Arkhan dan menoleh ke luar jendela. Sudahlah, ia tidak peduli lagi. Biarkan saja Arkhan melakukan apapun yang dia mau. Zalfa memilih diam.
Sesampainya di rumah, Zalfa langsung masuk. Ia melirik Arkhan yang melangkah lebar melewati dirinya. Pria itu melempar jaket yang tadi dia sambar dari sandaran jok mobil ke meja, gelas di atas meja pun menggelinding dan jatuh sesaat setelah terkena lemparan jaket, lalu pecah berserakan di lantai.
Jantung Zalfa kembali deg-degan mendengar dentingan pecahan gelas.
“Arkhan!” panggil Zalfa membuat Arkhan menghentikan langkah dan menoleh. Wajah pria itu masih tampak kesal. Mungkin masih terbawa emosi mengenai Bu Fatima.
__ADS_1
Arkhan berdiri di tengah-tengah ruangan menunggu Zalfa angkat suara.
TBC