
“Kau harus mulai belajar hidup tanpa aku,” bisik Arkhan di telinga Zalfa.
Bresss…. Air mata Zalfa merembes deras. Kata-kata Arkhan membuat hatinya mencelos. Hatinya semakin kebas. Dadanya pun sesak. Baru saja ia merasakan kebahagiaan bersama sosok suami yang berhasil membuatnya move on sekaligus merasakan kembali indahnya jatuh cinta, yaitu cinta yang lebh dan lebih setelah cinta kepada yang Maha Agung. Dan sekarang ia harus belajar untuk hidup tanpa Arkhan?
Selama ini, hari-hari yang dia lalui diisi dengan kehadiran Arkhan di sisinya, dihiasi dengan pelukan hangat dan kemesraan di setiap malam-malamnya, diwarnai dengan senyum tipis pria itu, dihiasi dengan pelukan hangat dan kemesraan di setiap malam-malamnya, Zalfa sudah terbiasa berbagi segala hal dengan Arkhan. Lalu bagaimana Zalfa bisa menjalani hidup tanpa itu semua?
Beberapa menit Zalfa hanya bisa menangis di pelukan Arkhan tanpa bisa bicara apapun. Lehernya tercekat dan isak tangisnya seperti tidak memberinya peluang untuk berbicara.
Ya Tuhan, sesakit ini rasanya saat diambang perpisahan. Nyeri sekali dadanya. Tidak lagi bisa dijabarkan dnegan kata-kata bagaimana perasaan Zalfa saat ini. Ternyata begini rasanya saat harus berpisah dengan orang yang sangat dia cintai.
“Sudah! Jangan menangis!” ucap Arkhan lagi dengan tenangnya.
Zalfa melepas pelukan, mengangkat wajah dan menatap wajah Arkhan.
“Lihatlah mukamu berubah menjadi kusut karena air mata.” Arkhan menempelkan jemarinya ke wajah Zalfa dan mengusap air mata di pipi putih bercahaya itu.
__ADS_1
“Aku nggak ingin jauh darimu, aku ingin selalu bersamamu.” Zalfa tidak peduli dengan air mata yang terus merembes meski sudah beberapa kali Arkhan mengusapnya. Ia juga tidak peduli dengan wajahnya yang berubah sembab dan menjadi jelek karenanya, matanya bahkan juga sudah sedikit membengkak. “Jika malam hari aku merasa pusing, nggak akan ada lagi kamu yang menemaniku tertidur sampai aku pulas. Jika subuh aku telat bangun, nggak aka nada kamu yang membangunkanku untuk shalat subuh lagi, jika aku menangis, nggak ada jari-jarimu yang menghapus air mataku. Dan jika aku lapar, nggak ada kamu yang menemaniku makan bersama di meja makan. Semuanya akan berubah, Mas Arkhan.” Zalfa menghela nafas panjang.
Arkhan diam saja. Dia biarkan Zalfa mengungkap keluh-kesahnya. Arkhan hanya perlu mendengarkan keluhan wanita.
“Aku bahkan nggak akan tahu bagaimana kondisimu di sini. Bagaimana makanmu, bagaimana tidurmu, selimutmu, alas kasurmu, dan semua tentangmu. Hari-harimu akan membuatku merasa sulit menjalani waktu,” sambung Zalfa lagi.
“Jangan pikirkan aku. Aku sudah terbiasa dengan kehidupan yang keras. Makan dnegan nasi dan garam pun sanggup kujalani, jadi jangan pernah menjadikanku sebagai beban bagimu. Ingat itu!” tegas Arkhan.
“Mas Arkhan, pokoknya aku pasti akan merasa sangat merindukanmu, aku akan sangat kehilanganmu.”
“Aku butuh doamu.”
“Karena aku yakin doa dan permintaanku tidak akan dikabulkan.”
“Mas Arkhan, kenapa bicara begitu?” Zalfa membelalak.
__ADS_1
“Tuhan tidak akan pernah mengabulkan orang yang memiliki banyak dosa besar. Benar begitu, bukan?”
“Mas Arkhan, Tuhan maha pengasih maha penyayang, dosa sebesar apapun pasti akan diampuni jika kita bertaubat. Yakinlah itu!”
“Jika Tuhan menyayangiku, tentu Dia tidak akan membiarkanku berada di sini di saat aku ingin mengubah diriku menjadi manusia baik. Tapi Tuhan mematahkan semuanya dengan begitu mudahnya. Niatku bahkan baru dimulai dan Tuhan sudah mengacaukan segalanya, membuatku putus asa sebelum memulai.”
“Mas Arkhan, aku sedih mendengar pengakuanmu ini. Aku mohon, percayalah bahwa Tuhan adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, seperti yang sering kamu lafazkan dalam shalat.”
Arkhan mendesah. Kini raut kesal muncul ke permukaan wajahnya. Namun detik kemudian ia mengusap wajahnya itu dengan kedua telapak tangannya.
“Astaghfirullahal’adzim…” Zalfa mengalungkan kedua lengannya ke leher Arkhan dan menyatukan kening mereka. “Ikuti aku, sayang!” bisik Zalfa kemudian mengucap istighfar.
Tanpa sadar, Arkhan membisikkan kalimat yang sama seperti yang Zalfa lafazkan.
Arkhan tidak hanya sekali mengucapkannya. Setelah ketiga kalinya melafazkan, ia pun berhenti. Entah keajaiban apa yang membuat batinnya mendadak merasa tenang dari kegundahan dan keresahan. Arkhan kini tampak sangat tenang, sama seperti saat pertama kali Zalfa melihat pria itu muncul.
__ADS_1
TBC
🥰🥰🥰