
“Help me! Plis buka pintunya! Tolong aku! Kumohon buka pintunya!” Zalfa berteriak sambil menggedor-gedor pintu. Ia berharap teriakannya akan didengar oleh Elia atau Maria, mertuanya. Tidak sia-sia, pintu terbuka setelah terdengar suara kunci diputar dari arah luar. Elia yang berada di luar pintu pun memasang muka jutek.
“Apa yang kamu lakukan? Malam-malam begini teriak-teriak? Lihatlah, mama sampai terbangun gara-gara teriakanmu itu!” Elia menunjuk Maria yang berdiri di pintu tak jauh dari kamar Zalfa.
Maria menatap ke arah kamar Zalfa dengan wajah sayu akibat kantuknya yang masih menyerang.
Zalfa yang sudah berada di luar kamar, kembali menghambur masuk ke kamar menjemput jilbab lalu membungkus kepala dengan jilbab panjangnya.
“Kakakmu keluar dan aku akan menyusulnya!” ucap Zalfa sambil melewati Elia dan berhenti saat berpapasan dengan Maria. “Mama, aku pergi sebentar menyusul Arkhan.”
Tak ingin membuat Zalfa terlalu lama membuang waktu, Maria mengangguk. “Berhati-hatilah! Jangan ngebut. Berkonsentrasilah. Arkhan pasti sudah jauh meninggalkanmu.”
Zalfa tersenyum singkat sambil mengangguk, “Terima kasih, mama.” Zalfa berlari menuruni anak tangga.
“Hei, kakakku udah gede dan dia nggak perlu diikuti istrinya saat akan bepergian! Crazy!” Elia berteriak nyolot.
Zalfa tidak menggubris rutukan Elia. Ia terus berlari hingga sampai ke luar rumah. Arkhan sudah pergi dan mobil pria itu tidak lagi terlihat di sana. Zalfa terpaksa memasuki garasi dan menyetir salah satu mobil milik Arkhan untuk mengejar. Ia tidak tahu kemana harus mengikuti Arkhan karena sudah kehilangan jejak, namun ia sungguh-sungguh berharap Tuhan akan memberinya petunjuk.
Sementara Arkhan menyetir mobilnya dengan kelajuan tinggi. Ia ingat saat di mall bertemu dengan Reza dan melihat anak buahnya itu bersama dengan wanita berjilbab. Saat itu, Arkhan yakin kalau wanita berjilbab yang bersama Reza itu adalah Atifa, hanya saja ia belum begitu yakin karena jarak pandang yang cukup jauh membuatnya merasa ragu-ragu. Arkhan sempat curiga kalau Reza menyembunyikan sesuatu hal padanya. Dan benar, terbukti Reza telah membohonginya. Sengaja Arkhan meminjam ponsel Reza untuk menelepon dengan alasan ia sedang kehabisan pulsa, padahal ia sedang menyadap ponsel Reza saat itu.
__ADS_1
Arkhan mengingat pesan hasil sadapan yang yang saling berbalas antara Reza dan Atifa.
Atifa
Kita ketahuan Arkhan nggak?
Reza
Aman.
Bang Arkhan gak curiga
Atifa
Kalau dia sempat lihat aku bersamamu, tentu dia akan curiga
Sejak kapan kita saling kenal?
Dan bahkan bisa saja dia curiga bahwa sebenarnya aku yg udah menjebak Zalfa supaya bisa tidur dengannya di hotel waktu itu.
__ADS_1
Reza
Dasar nakal.
Atifa
Ya sudah, temui aku di jalan Sudirman sekarang
Suamiku sedang ke luar kota
Masih ada beberapa pesan yang belum dibaca oleh Arkhan. Dan Arkhan tidak berminat untuk membacanya saat ini. Beberapa pesan masuk yang terbaca sudah cukup membuat gerah. Dan mengingat pesan itu, dada Arkhan kian menggemuruh.
“Habislah kau Reza!” gerutu Arkhan sambil mengegas mobilnya. Dia menyetir dengan kelajuan tinggi hingga membuatnya dengan cepat sampai ke alamat yang dituju. Ia menepikan mobil dan turun. Pandangannya berkeliling menatap sekitar. Sepi. Jalanan juga sunyi, tak satu pun ada kendaraan melintas.
Dimana keberadaan Atifa dan Reza? Bukankah mereka janjian di sana? Tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Reza dan Atifa di sana.
Bola mata Arkhan bergerak dan tanpa sengaja menatap nama jalan yang tertulis di sana. Ya ampun, ia salah jalan. Arkhan mengusap wajah kasar kemudian balik badan dan kembali masuk ke mobil. mobil berputar dengan gerakan kilat hingga menimbulkan suara deritan.
TBC
__ADS_1