
Tangan mungil kecil yang jari-jarinya kisaran tiga centi meter bergerak-gerak, kakinya yang juga sangat kecil bergerak-gerak, tubuhnya sangat mungil dengan panjang yang hanya dua puluh delapan centi. Mulutnya yang bulat mangap-mangap dan mengeluarkan jerit tangis, matanya terbuka sedikit, rambutnya baru tumbuh sedikit, berat badannya dua kilo gram. Dia sangat mungil sekali. Cantik, menggemaskan. Meski tubuhnya sangat mungil karena lahir prematur, namun suara tangisnya sangat kencang.
Hanya dalam waktu beberapa detik saja tubuh mungil itu terpapar udara, telapak tangan dan kakinya langsung membiru. Segera tubuh itu dililit dnegan kain bedung setelah dibersihkan, kemudian dibawa ke luar ruangan untuk dimasukkan ke inkubator.
Di sisi lain, Arkhan menyetir mobil dengan kecepatan tinggi sesaat setelah meninggalkan acara keagamaan sebagai qori. Senyum tipis mengembang di bibir Arkhan, terbayang wajah lucu baby yang akan dia gendong. Tangisnya pasti terdengar nyaring, matanya pasti lucu, dan hidungnya juga menggemaskan. Arkhan sudah tidak sabar ingin segera melihat bayinya. Dan Zalfa... Wanita itu entah bagaimana keadaannya sekarang. Arkhan juga ingin mencium kening istrinya, mengatakan banyak hal sebagai wujud terimakasih karena telah mengijinkan anaknya tumbuh dan besar di rahimnya.
Arkhan merasa snagat rindu pada Zalfa meski baru beberapa jam saja tidak bertemu. Dia ingat terakhir kali pertemuannya dengan Zalfa, dia ingat saat terakhir kali tangannya terlepas dari genggaman Zalfa, dia juga ingat senyuman Zalfa yang terlempar dengan begitu manisnya hingga hilang dari pandangan.
“Bagaimana kondisimu sekarang, Zalfa?” lirih Arkhan entah bicara dengan siapa. Mobil berhenti tepat di lampu merah. Arkhan menghela nafas beberapa kali sambil sesekali mengawasi lampu, detik berjalan terasa sangat lama. Dia sangat ingin bertemu dengan nak dan istrinya. Momen ini sudah lama sekali ditunggu-tunggu, bagaimana mungkin dia akan sanggup menunggu walau hanya beberapa detik saja.
“Zalfa...” Nama itu tersebut begitu saja tanpa sadar.
“Icik icik icik... inongnong weleh weleh... Apaan tuh bunyinya, Bang. Aduduu.. Aduh aduh duh asiknya...” Suara nyanyian seorang wanita membuat pandangan Arkhan tertuju ke samping, tepat pada pengamen yang menggoyang-goyangkan krincingan di tangannya hingga menimbulkan bunyi seperti musik.
“Sawerannya dong, Bang!” seru wanita itu sambil mengetuk kaca mobil.
Arkhan menurunkan kaca mobil. Lalu menyerahkan uang seratus ribuan yang dia gulung.
__ADS_1
“Makasih, Bang Ganteng! Eh, aku pernah lihat abang ini yang ngajinya bagus banget itu kan ya?” Gadis itu menunjuk Arkhan.
Arkhan hanya menarik sudut bibirnya.
Wanita itu membuka gulungan uang dan terkejut melihat lembarannya yang ternyata bukan hanya satu lembar saja. Dia pun mulai menghitung lembaran uang. “Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas. Waaah.... banyak buanget. Makasih, bang.” Wanita berakaian kumal itu histeris dan menjingkrak girang. “Makasih banyak. Semoga semakin dilancarkan rejekinya, semoga selalu diberi kesehatan, semoga keluarga Abang juga diberi umur panjang dan diberi rahmat yang berlimpah oleh Yang Maha Kuasa.”
Lagi-lagi, Arkhan hanya bisa tersenyum tipis melihat reaksi wanita itu. lalu dia kembali menutup jendela mobil.
Ponsel di sisinya berdering, Arkhan melihat nama penelepon. Zalfa.
“Sayang, kau meneleponku. Apa kau sudah sehat?” Arkhan berbicara sendiri. Kemudian dia meraih ponsel dengan senyum lebar dan menjawabnya. “Halo, sayang!”
“Oh..” Terlanjur sudah, Arkhan memanggil dengan sebutan sayang, ternyata bukan Zalfa yang meneleponnya. “Ada apa, Mama? Bagaimana keadaan Zalfa? Apa dia sudah sehat?” Perasaannya berbeda saat ingin bertemu dengan anak dan istri. Ini adalah momen pertama kalinya akan menjadi seorang ayah.
“Arkhan, kau dimana sekarang?” Maria malah balik tanya.
“Aku masih di perjalanan menuju ke rumah sakit. Bagaimana kondisi Zalfa dan bayi kami?”
__ADS_1
“Bayimu berada di inkubator.”
“Lalu Zalfa? Bisakah aku bicara dengannya?”
“Tidak, Arkhan. Kau cepatlah kemari. Tinggalkan semua pekerjaanmu. Apa pun itu.”
“Ada apa ini, Mama?” Arkhan panik mendengar suara mamanya yang jauh lebih panik di seberang sana. “Apa yang terjadi? Katakan, Mama!”
“Zalfa... Zalfa, Arkhan!”
“Zalfa kenapa? Katakan!”
“Zalfa tidak bisa diselamatkan. Hu hu huuu...” Tangis Maria terdengar histeris. Tak lama kemudian terdengar suara Ismail entah mengatakan apa di sisi Maria. Mereka seperti sedang membicarakan hal serius. Sambungan telepon diputus oleh Arkhan.
TBC
.
__ADS_1
.
.