
Arkhan berjalan di koridor dengan langkah lebar. Semangatnya tumbuh saat mendengar sipir mengatakan kalau istrinya akan bertemu. Sepanjang berjalan, ia sudah sangat ingin memeluk Zalfa. Sudah seminggu berlalu setelah terakhir kali Zalfa membesuknya. Dan akhir-akhir ini Marialah yang membesuknya di sel. Tentu saja Arkhan sudah sangat merindukan Zalfa. Seminggu rasanya seperti sebulan.
Tubuh Arkhan terhuyung mundur saat ditubruk oleh sesosok wanita sebelum sempat ia duduk di kursi. Baru selangkah memasuki ruangan pembesukan, wanita itu sudah memeluknya erat. Zalfa.
Oh…
Arkhan membalas pelukan itu dengan sangat erat. Membiarkan aliran darah dalam tubuhnya seperti menyatu dengan rasa bahagia. Matanya terpejam, tangannya mengelus punggung Zalfa. Pelukan itu seperti menyatukan jiwa keduanya. Kerinduannya yang membuncah pun melebur.
Zalfa membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Respon organ tubuhnya seperti sedang mengungkapkan apa yang dia rasakan, bahwa kerinduannya sudah sangat berat.
Pelukan hangat berlangsung sampai beberapa menit lamanya, tanpa pembicaraan. Keduanya sudah saling memahami, seperti saling mengungkap melalui gerakan tubuh masing-masing, bahwa mereka saling menyayangi, saling merindukan, saling membutuhkan. Detakan jantung keduanya seperti menyatu. Sama-sama bisa merasakan detakan lawan.
“Mas Arkhan!” Inilah pertama kalinya Zalfa membuka suara.
Arkhan masih memejamkan matanya, tanpa menjawab. Ia ingin menikmati keadaan itu hingga beberapa menit lagi.
“Aku kangen,” lirih Zalfa dengan senyum.
“Aku juga.” Arkhan mempererat pelukan saat Zalfa ingin melepaskan diri dari lingkaran lengan Arkhan.
__ADS_1
Zalfa pun mengalah, membiarkan pelukan it uterus berlangsung hingga beberapa menit lamanya. Hingga saatnya Arkhan melepas pelukan, pria itu menatap wajah cantik istrinya dnegan seksama. Wajah itu kini dihias dengan senyum manis. Tidak lagi murung seperti yang sudah-sudah.
“Kau terlihat berbeda malam ini,” ungkap Arkhan.
“Apa iya?” tantang Zalfa dengan alis terangkat.
Sudut bibir Arkhan tertarik sedikit, akhirnya istrinya itu tersenyum juga. “Akhir-akhir ini kau tidak datang kemari. Dan Mama mengatakan kalau kau kurang sehat. Jangan menjadikanku beban sehingga membuatmu sakit karena memikirkanku. Kau tidak mau aku menambah dosa dnegan menjadi penyebabmu sakit, kan?”
“Enggak enggak. Itu nggak bener.”
“Sakit apa?” Tanya Arkhan.
“Tuhan telah mempercayakan kita untuk memiliki momongan. Di sini, ada anak kita.” Zalfa menarik tangan Arkhan dan menempelkan telapak tangan pria itu ke permukaan perutnya.
Arkhan mengernyit. “Tapi aku sudah sebulan lebih di penjara, bagaimana kau bisa hamil?”
Plak!
Ini adalah ke dua kalinya Zalfa mendaratkan tamparan kecil ke pipi Arkhan.
__ADS_1
“Sembrono! Memangnya kamu anggap aku apa sampai-sampai bilang begitu? Usia kandunganku sudah dua bulan.” Zalfa cemberut.
Arkhan terdiam. Ia sungguh tidak bisa bicara lagi. Ternyata Tuhan masih mempercayainya dengan menitipkan amanah anak kepadanya melalui Zalfa. Tubuh Arkhan seperti bergetar. Hatinya basah. Dia berlutut di hadapan Zalfa. Tangannya menyentuh pinggul Zalfa, wajahnya maju dan bibirnya mendarat di permukaan perut Zalfa.
Mata Zalfa mendadak berair melihat respon Arkhan. Ia terharu. Sentuhan bibir Arkhan di permukaan perutnya seperti snegatan listrik di aliran darahnya. Meski ciuman itu terhalang oleh pakaiannya, namun tetap saja sentuhan Arkhan terasa mendebarkan.
“Allahu Akbar!” bisik Arkhan di perut Zalfa. “Jadilah anak yang baik!” dia Sangat lama menempelkan wajahnya di permukaan perut Zalfa. Rasanya masih tidak percaya, Tuhan sungguh Maha Besar. “Apakah aku bisa menjadi sosok ayah?” bisik Arkhan.
BERSAMBUNG
.
.
.
Ayoo...yang belum follow instagramku, follow sekarang ya biar tahu informasi tentang Salah Nikah. @emmashu90
Aku aktif di ig.
__ADS_1