SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
200.


__ADS_3

Zalfa keluar melintasi pintu kaca balkon. Angin sepoi-sepoi membelai kulitnya. Ia melihat-lihat ke arah bawah, berharap masih bisa melihat mobil arkhan yang mungkin saja baru melesat keluar. Tapi, nihil. Ia tidak melihat apapun.


Perasaan Zalfa tidak nyaman tatkala Arkhan keluar rumah di jam yang tidak normal begini. Adakah kegiatan positif yang dikerjakan pada jam-jam segini? Kalau pun ada kegiatan mendadak, kenapa Arkhan pergi tanpa berpamitan. Ah, Zalfa lupa jika Arkhan memang memiliki kebiasaan pergi tanpa berpamitan.


Zalfa melempar senyum ke arah Arumi yang saat itu melakukan hal yang sama. GAdis itu tengah berdiri di balkon lantai kamarnya membawa segelas minuman.


“Hei.. Jam segini kamu belum tidur?” Zalfa mengernyit heran pada gadis itu. bisa-bisanya begadang dan bersantai menikmati malam di sana. Zalfa tidak perlu berteriak untuk berbincang dengan Arumi meski jarak balkon lumayan jauh, suasana malam yang hening membuat suara mereka terdengar cukup keras.


Arumi tersenyum. “Belum.”


“Apa kamu terbiasa begadang?”


“Enggak juga. Ini karena ada kerjaan kantor numpuk dan kubawa pulang. Anggap aja lemburan.” Arumi menjelaskan dengan seulas senyum. “Kepalaku pusing sejak tadi ngeliatin laptop, ini sedang nyegerin pikiran biar fresh.”


Zalfa sebenarnya ingin menanyakan apakah Arumi melihat Arkhan keluar atau tidak, namun ia enggan. Ia tidak mau membuat tetangganya itu berpikir macam-macam tentang hubungannya dengan Arkhan. Bagaimana mungkin istri sendiri tidak tahu kepergian suaminya?


“Sejak kapan kamu di luar menikmati pemandangan malam?” Zalfa memancing pertanyaan.

__ADS_1


“Baru setengah jam.”


Artinya sejak jam setengah dua belas, Arumi berdiri di balkon. Zalfa mulai menjadi detektif. “Berarti kamu melihat mobil Arkhan keluar?”


“Enggak. Memangnya suamimu kemana?”


“Ada perlu. Ya udah, aku masuk dulu.”


Arumi mengangguk.


Zalfa kembali ke kamar dan menutup pintu balkon. Ia melangkah ke ranjang, pandangannya kembali tertuju ke bantal di sebelah. Huuh… kenapa perasaannya jadi tidak karuan? Ia meraih ponsel dan menghubungi ponsel Arkhan. Dering ponsel menyahut, suaranya terdengar sangat dekat dengannya. Ia menoleh ke sumber suara, ponsel Arkhan yang tergeletak di nakas berdering.


Zalfa meraih remot televisi, memencet tombol power dan layar televisi pun menyala. Kegelisahan Zalfa membuat tidurnya tidak pulas hingga ia memutuskan untuk nonton TV saja.


Dini hari, berita itu disiarkan secara live di televisi, sungguh menggemparkan hati Zalfa. Mata Zalfa pun terbelalak lebar menyaksikan berita pembunuhan.


Zalfa yang terbaring di atas ranjang, kini terduduk. Lidahnya tanpa sadar membaca nama korban. Fatima Azzahra.

__ADS_1


Ya Tuhan. Apa ini? Zalfa menyingkap selimut dan turun dari ranjang. Perasaannya kian cemas. Zalfa menyisir rambut hitamnya dengan lima jari ke balakang. Ia mondar-mandir di depan TV, sesekali gigit bibir, tak jarang jempol tangan yang menjadi korban gigitannya.


TBC


Hayoo jangan pelit ngevote dan nge-like, gratis kok gak bayar. 😪😪


Makasih banyak buat yg setia nglike di setiap chapter.


Oke, tengkyuh. dadah.


Love,


Emma Shu


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2