SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
209.


__ADS_3

Hari-hari yang telah berlalu terasa berbeda bagi Zalfa. Ia menjalani keseharian tanpa Arkhan. Tidak ada lagi kekonyolan Arkhan di kamar yang kerap membuat Zalfa merasa terhibur. Tidak ada pelukan atau kecupan manis. Semuanya terasa berubah.


Zalfa hanya bisa termenung di meja makan, menatap kursi kosong di sisinya, kursi yang biasanya diduduki oleh Arkhan.


“Nasimu akan dingin, makanlah!” ucap Maria menatap Zalfa yang hanya diam.


Zalfa mengalihkan pandangan ke piring Maria dan Elia. Dua piring itu sudah hampir habis. Apakah artinya Zalfa sudah cukup lama berdiam di sana? Nafsu makannya hilang entah kemana. Is kepikiran Arkhan sekarang sedang apa, dia makan dengan lauk apa, tidur pun alasnya apa, apakah dia berselimut?


“Kak Zalfa, apa kamu begitu menyayangi Kak Arkhan?” Tanya Elia setelah meneguk air mineral untuk menutup makannya.


Zalfa tersenyum tipis. “Tentu,” lirihnya.


“Bukankah Kak Arkhan adalah penjahat? Buktinya dia selama ini merampok uang milik orang banyak. Lalu kenapa kamu masih terlihat menyayanginya? Lihatlah, kamu sampai nggak berselera makan gara-gara Kak Arkhan berada di tahanan. Apa kamu nggak mau cari yang lain saja? Laki-laki di dunia ini banyak, bahkan yang kaya dan ganteng juga banyak. Kamu cantik, pasti banyak yang suka padamu.”


Ucapan Elia yang panjang lebar tidak membuat Zalfa merasa tertekan atau sakit hati, dia justru mengulas sneyum meski senyuman itu bernilai getir.


“Elia, kau tidak perlu banyak bicara. Jika sudah selesai makan, pergilah ke kamar dan selesaikan PR-mu!” sergah Maria yang merasa tidak nyaman mendengar perkataan bungsunya.


“Nggak apa-apa, Mama. Elia nggak salah, kok.” Zalfa menatap Maria dengan teduh. Kemudian pandangannya beralih ke wajah Elia, bocah paling nyablak yang selalu memiliki banyak pertanyaan. Namun Zalfa tidak pernah membenci sikap dan perlakuan Elia. Wajar, elia masih butuh pendidikan dan pengarahan. “Kamu yang bilang kalau Kak Arkhan adalah orang baik bukan? Begitu juga menurut penglihatanku, Kak Arkhan sebenarnya memang orang baik. Aku nggak pernah memandang kakakmu sebagai orang jahat, sebab kejahatan itu dilakukan oleh orang yang nggak memiliki iman. Buktinya, Kak Arkhan bersedia mengubah jalan hidupnya setelah mengetahui bahwa apa yang dia lakukan itu adalah dosa besar karena perbuatannya itu juga merupakan tindakan zolim terhadap orang lain, dia merampas hak-hak orang lain. Dia saat ini sedang ingin mengubah jalan hidup ke jalan yang benar, dia sedang menjemput hidayah, supaya menjadi salah satu dari orang-orang yang beruntung.”


“Ck ck ck… kamu begitu tulus menyayanginya. Lihatlah, kamu berubah setelah Kak Arkhan nggak ada.”


Zalfa menghela nafas. Bahkan bocah seusia Elia pun bisa membaca kemurungan Zalfa. Zikir dan doa terus mengalir di hati Zalfa, namun kondisi Arkhan di tahanan menjadi bayang-bayang dalam pikiran Zalfa.

__ADS_1


“Mungkin sudah takdirnya wanita untuk menyayangi.” Zalfa tersenyum.


Elia terdiam menatap Zalfa. Tatapannya terlihat berbeda. Kemudian ia berucap, “Boleh aku bertanya sesuatu?”


“Tanyakan saja!”


“Kenapa kamu rela memasak di rumah ini? Kenapa kamu rela membuat tubuhmu lelah demi kami? Aku selama ini nggak suka padamu, kan?”


Lembut Zalfa menjawab, “Karena Tuhan memerintahku untuk berbuat baik pada semua orang. Kulakukan karena perintah Tuhan.”


“Kamu menyayangi kak Arkhan juga karena perintah Tuhan?”


“Ya. Aku wajib menyayanginya, tentunya juga karena naluriku sebagai kakak iparmu, tentu menyayanginya.”


“Hentikan pertanyaanmu, Elia!” sergah Maria membuat Elia langsung membungkam.


“Nggak ada yang salah dengan pertanyaan Elia, Mama. Biarkan saja dia bertanya,” ucap Zalfa.


“Zalfa, bawalah kami mengucap syahadat!” tukas Maria dengan pandangan teduh ke mata Zalfa.


Zalfa membelalak dan tersenyum lebar. “Sungguh?”


Maria mengangguk mantap. Elia pun mengangguk-anggukkan kepalanya, sebagai isyarat kalau dia juga ingin mengikuti jalan yang ditempuh oleh mamanya.

__ADS_1


“Alhamdulillah…” Zalfa menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Dia terkejut sekaligus terharu saat Maria dan Elia menghambur memeluknya dari kiri dan kanan.


Subhanallah walhamdulillah walaaillahailallah wallahuakbar… Hati Zalfa berbisik penuh keharuan.


“Kita akan menemui ustad Dahlan, beliau akan membimbing mama dan Elia,” ungkap Zalfa menatap wajah Maria dan Elia satu per satu, wajah-wajah yang begitu dekat dengan wajahnya saat itu.


“Sekarang?” polos Elia dan langsung diangguki oleh Zalfa.


“Aku akan berkemas. Kau cepatlah habiskan makanmu, sejak tadi kau belum menyentuh makananmu sedikitpun.” Maria meninggalkan ruang makan.


Elia menghambur pergi dengan langkah lebar.


Tinggalah Zalfa sendirian di ruangan itu. Begitu banyak kejadian indah yang seharusnya membuat Zalfa tertawa bahagia. Salah satunya pengakuan Maria dan Elia yang mengaku ingin mengucap syahadat. Namun bagaimana ia bisa tersenyum bahagia disaat kondisi batinnya sedang kacau, disaat Arkhan berada di posisi yang sulit, disaat ia jauh dari orang yang dia cintai? Sangat sulit untuk Zalfa jalani.


Pandangan Zalfa kembali tertuju ke kursi kosong di sisinya. Hanya perlu sedetik saja, air matanya jatuh berguguran. Sampai kapan ia harus berada di posisi ini?


“Mas Arkhan, aku kangen kamu.” Zalfa terisak.


“Zalfa!”


Panggilan Maria membuat Zalfa tersentak. Piring yang masih berisi penuh makanan pun dia sorong menjauh darinya dan menutupnya dengan penutup makanan. Ia bergegas memenuhi panggilan mertuanya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2