
“Arkhan, ajaklah aku ke tempat kerjamu agar aku tahu lokasi kerjamu,” pinta Zalfa.
“Hm?” Arkhan menautkan alis dan menoleh ke arah Zalfa. “Apa kau tahu PT. Sarimasindo Group? Perusahaan yang bergerak di bidang multinasional?”
Zalfa tampak mengingat-ingat. Kemudian mengangguk. Ia tahu betul nama perusahaan besar yang produknya sudah menyebar di seluruh negeri, bahkan juga ke luar negeri.
“Aku memiliki saham di sana. Lusa kamu akan kubawa ke sana kalau kamu mau,” lanjut Arkhan.
“Saham?” Zalfa tidak menyangka jika Arkhan ternyata adalah seorang pengusaha.
“Tidak banyak saham yang kumiliki, hanya beberapa persen saja.” Arkhan mengingat baru beberapa bulan yang lalu ia membeli saham tersebut setelah aksinya meretas bank senilai triliunan berhasil. Tak hanya itu, bisnis narkoba yang dia lakukan juga mendapat keuntungan besar.
Arkhan membelokkan mobil menuju mall. Mobil terparkir di basement.
“Kita turun sebentar,” ajak Arkhan.
__ADS_1
“Apa ada yang ingin kamu cari di sini?” Zalfa mengikuti Arkhan memasuki mall.
“Ya,” jawab Arkhan.
Keduanya naik ke lantai dua dengan menggunakan eskalator, kemudian memasuki sebuah tempat penjualan elektronik. Arkhan membeli sebuah flashdisk, laptop dan ponsel. Setelah selesai membayar, Arkhan dan Zalfa beriringan keluar.
“Untuk apa kamu membeli falshdisk dengan kapasitas sebesar itu? laptop di rumah juga masih ada, kok beli lagi? ponsel juga,” berondong Zalfa penasaran. Seingatnya benda-benda yang dibeli oleh Arkhan sudah lengkap di rumah.
“Untuk cadangan,” jawab Arkhan meski sebenarnya barang-barang itu untuk keperluan meretas. Mana mungkin ia jujur pada Zalfa. Ekspresi Arkhan berubah menegang saat ia melihat dari kejauhan sosok pria yang tengah berjalan beriringan dengan seorang wanita. Pria itu tak lain adalah Reza. Hal yang membuat Arkhan terkejut bukanlah keberadaan Reza, melainkan wanita yang bersama anak buahnya itu. Reza dan wanita itu sedang menuruni eskalator. Sepertinya Arkhan mengenali wanita itu, namun wajah wanita itu tidak begitu jelas akibat jarak pandang yang cukup jauh.
“Tunggu di sini!” ucap Arkhan pada Zalfa sambil menyerahkan barang-barang yang baru saja dia beli kemudian dia berlari mengejar Reza. Ia bahkan sampai tidak mendengar teriakan Zalfa yang menanyakan kepergiannya yang mendadak. Langkah Arkhan lebar mendahului banyak orang yang lalu lalang di sekitarnya. Ia melompat menuju ke escalator. Kakinya terus melangkah di atas escalator yang bergerak membawanya turun ke lantai bawah.
“Reza!” panggil Arkhan dengan nafas agak ngos-ngosan akibat larinya tadi.
Reza menoleh dan mendapati Arkhan. “Eh Bang, Abang di sini juga? Ada apa, Bang?”
__ADS_1
Dahi Arkhan sedikit mengernyit melihat sikap Reza yang kelihatan rileks dan tenang menghadapinya. Seharusnya Reza bersikap gugup jika dia kepergok sedang bersama dengan wanita yang tadi jalan bersamanya, tapi kenyataannya Reza tampak tenang. Apakah itu artinya Arkhan salah orang?
“Dengan siapa kau di sini?” tanya Arkhan dengan ekspresi wajah penuh kecurigaan.
“Aku? Sendirian, Bang. Kenapa?” Reza terlihat seperti tanpa rahasia saat menjawab, namun kecurigaan Arkhan belum berakhir.
“Wanita yang bersamamu tadi siapa?” Arkhan kembali menginterogasi.
“Ooh… Biasalah, Bang. Cewek kafe. Kenapa, Bang?”
“Kau yakin?”
“Masak aku bohong, Bang?” Senyum dan ekspresi wajah Reza tidak membuat kecurigaan Arkhan menipis.
“Apa mungkin cewek kafe yang doyan nges*ks itu berjilbab?”
__ADS_1
“Ah Abang kayak nggak tahu aja. Cewek jaman sekarang jarang yang bener, atasnya aja pakai jilbab, bawahnya warung.” Reza sedikit tergelak. "Mereka yang suka begitu memakai jilbab bukan karena menjalankan perintah, tapi hanya untuk kedok dan menutupi perilaku mereka."
BERSAMBUNG