
Zalfa mengembalikan pandangannya ke wajah Arkhan. Suaminya itu balas menatap Zalfa.
“Jangan menduga kalau aku adalah pelakunya, Zalfa! Aku tidak melakukan apapun pada wanita tua itu,” ungkap Arkhan.
Zalfa menatap manik mata Arkhan lekat-lekat, berusaha mencari kebenaran di mata itu. Kata orang, mata tidak pernah bisa berbohong meski lidah berdusta.
“Sungguh?” tanya Zalfa.
“Sungguh,” tegas Arkhan.
“Tapi kejadian itu terjadi jam satu dini hari. Dan pada jam itu kamu bersamanya.”
“Memang jam satu kurang aku keluar dari rumah itu, mungkin sekitar jam satu kurang sepuluh menitan. Seingatku begitu. Karena aku sempat melihat jam di tangan saat menyetir mobil pergi dari rumah itu. aku yakin, setelah kedatanganku, ada orang lain yang menemuinya.”
“Tapi aku takut kamu akan terlibat, jika sempat ada yang melihatmu, orang bisa saja beranggapan kamulah orang terakhir yang menemui Bu fatima.” Zalfa tampak panik.
“Jangan cemas, Zalfa. Aku sungguh-sungguh tidak melakukan apapun pada wanita tua itu. Tentunya tidak akan ada bukti kalau aku pelakunya.”
Zalfa memeluk Arkhan erat-erat. “Aku nggak ingin terjadi hal buruk padamu.”
__ADS_1
Arkhan tersenyum tipis. Lengannya terangkat dan membalas pelukan Zalfa.
Zalfa berusaha mempercayai Arkhan, bahwa benar Arkhan bukanlah pelakunya. Setiap hela nafasnya, berdoa agar keyakinannya itu adalah kenyataan.
Pagi itu, rasanya semuanya berebda. Zalfa terus saja merasa was-was sebelum pelakunya benar-benar tertangkap. Ia takut Arkhan terlibat aksi tersebut. Satu hal yang menjadi ketakutan Zalfa adalah dalang dibalik kejadian itu. memang benar bukan Arkhan pelaku pembunuhan itu, tapi bagaimana jika Arkhan yang menyuruh orang untuk melakukannya?
Rasanya belum hilang kepanikan yang melanda, sudah datang kecemasan baru yang membuat Zalfa merasa deg-degan. Suara bel pintu mengejutkannya. Zalfa bergegas membuka pintu sambil melihat jam di tangan, pukul enam. Siapa yang bertamu jam segini?
Zalfa buru-buru membuka pintu. Faisal berdiri di ambang pintu membuat Zalfa terkejut. Ada apa Faisal mendatangi rumahnya pagi-pagi begini? Bukankah seharusnya Faisal sedang sibuk mengurus kematian Bu Fatima? Apakah kedatangan Faisal adalah untuk menuntut Arkhan karena dia tahu pelakunya adalah Arkhan? Eh, kenapa pikiran Zalfa menjadi buruk sekali?
“Fa… Faisal?” kejut Zalfa.
“Assalamu’alaikum, Zalfa.” Ekspresi wajah Faisal tampak mendung dan tidak cerah. Dia jelas sedang merasa kehilangan sosok ibunya.
“Aku ingin bicara dengan Arkhan.”
Zalfa menelan. Rasanya salivanya berubah menjadi duri. Sakit sekali saat ditelan.
“Apa yang ingin kamu bicarakan dengannya?” Tanya Zalfa dengan jantung deg-degan.
__ADS_1
“Tentang ibuku. Tolong ijinkan aku bertemu dengannya.”
Zalfa diam terpaku. Matanya berputar dan nafasnya terdengar keras. “Memangnya ibumu kenapa?”
“Aku akan bicarakan ini dengan Arkhan. Tolong panggilkan dia untukku.”
“Sebelumnya, kita udah sama-sama tahu kalau antara kamu dan Arkhan memiliki hubungan kurang baik, tolong untuk tidak membicarakan hal-hal yang bisa memancing keributan. Maaf Faisal, jika ini membuatmu tersinggung.”
“Tidak, Zalfa. Kedatanganku untuk bicara baik-baik.”
Sebenarnya Zalfa tidak ingin mempertamukan Arkhan dengan Faisal sebab takut kalau Faisal akan membahas masalah yang tidak ingin ia dengar, tapi rasanya ia egois dengan hanya mementingkan dirinya sendiri karena rasa takut kehilangan Arkhan. Ya, Zalfa merasa sangat egois. Segala kesalahan Arkhan selalu dia tutupi dan dia lindungi supaya tidak seorang pun tahu. Ia hanya ingin Arkhan berada di sisinya, berbahagia dengannya tanpa tahu bagaimana kesulitan orang lain dalam mengusut masalah.
“Baiklah, akan kupanggil dia untuk menemui. Masuklah!” Zalfa balik badan. Melangkah menuju ke ruangan lain, ia tahu Arkhan berada di ruangan lantai bawah.
TBC
Hayoo... klik like dulu sebelum next.
.
__ADS_1
.
.