
Zalfa mendorong pintu dan masuk ke rumah. “Mas Ismail!” panggil Zalfa langsung ngeloyor masuk ke kamar kakaknya. Tampak Ismail sedang dalam posisi setengah berbaring dan disuapi makan oleh Tini.
Zalfa menghambur duduk di sisi ranjang. “Ya Allah, Mas Ismail sakit kok nggak ngabarin aku? Badan Mas panas begini.” Zalfa menyentuh lengan Ismail.
Ismail yang terlihat pucat, balas menatap Zalfa dengan tenang. “Nggak usah berlebihan. Mas nggak apa-apa. Cuma demam aja. Kemarin juga udah panggil dokter.”
Zalfa melirik meja di sisi ranjang. Di atas meja tampak beberapa buah kantong plastic biru khas pemberian dokter yang berisi pil obat.
“Tapi bukankah selama ini Mas selalu ngabarin aku dengan kondisi Mas? Kenapa sekarang nggak ngabarin aku?” Zalfa masih tampak cemas.
“Udah ada Tini yang mengurusku.”
Zalfa menoleh ke arah Tini. Yang ditoleh menunduk malu-malu, mukanya merah merona. Zalfa jadi merasa aneh atas sikap Tini, kenapa Tini tampak tersipu saat pandangan mereka bertemu.
“Tini, selama aku nggak ada, Mas Ismail nggak kenapa-napa, kan?”
“Enggak, kok, kak. Mas Ismail hanya demam biasa,” jawab Tini dengan canggung.
Sikap Tini yang mendadak berubah malu-malu, membuat Zalfa bertanya-tanya. Namun Zalfa tidak mau mengutarakan rasa penasarannya karena takut Tini akan tersinggung. Zalfa menatap isi piring di tangan Tini yang masih tersisa sesuap lagi.
__ADS_1
“Hei, amu dibawa kemana? Kok, nggak disuapin ke Mas Ismail, itu kan masih ada sesuap lagi,” celetuk Zalfa saat Tini bangkit berdiri hendak pergi.
“Oh. Iya.” Tini kembali dan kemudian menyodorkan suapan terakhir ke mulut Ismail. Tangannya gemetaran sehingga sendoknya pun ikut bergetar.
“Aduh, Tini. Kamu kenapa kok gemeteran begini? Sini biar aku aja yang suapin.” Zalfa mengambil alih sendok dari tangan Tini kemudian menyuapkannya ke mulut Ismail.
Setelah selesai makan dna menyudahi dengan meneguk air minum, Ismail menatap Zalfa dan Tini silih berganti. Kemudian ia berkata, “Zalfa, apakah kamu setuju kalau Mas menikah dnegan Tini?”
Zalfa terkejut. Pertanyaan itu seperti hanya dongeng semata. Bagaimana bisa kakaknya itu berharap bisa meminang Tini? Apakah ini yang menyebabkan tingkah laku Tini menjadi berubah aneh dan selalu malu-malu?
“Ini mungkin terlalu cepat,” lanjut Ismail. “Tapi kebersamaanku dengan Tini membuat kami merasa dekat, saling melengkapi, dan saling membutuhkan satu sama lain. Lambat laun perasaan kami pun menyatu dan mungkin akan lebih baik jika kami menjadikan hubungan ini menjadi lebih indah dalam pernikahan.”
“Selama ini, Tini merawatku, mengurusku, bahkan malah seperti istriku sendiri jadinya. Mungkin tidak baik jika kami tetap bersama dalam hubungan ini, dan akan lebih baik saat dihalalkan bukan?” lanjut Ismail.
“Mas, aku sangat mengenal Tini. Dia wanita yang baik. Meski usianya jauh di bawahku, tapi dia sangat baik. Ya, pokoknya dia itu baik. Ini bukan hanya sekedar berita baik untukku. Tapi juga bagian dari kebahagiaanku,” jawab Zalfa.
“Makasih, ya!”
Zalfa mengangguk. Ia menoleh ke arah Tini yang saat itu masih menunduk. “Tini, kemarilah!”
__ADS_1
Tini mendekat.
“Aku sangat bahagia jika kamu mendampingi kakakku,” ucap Zalfa.
Tini masih menunduk tanpa mengatakan apapun.
Zalfa memahami sikap Tini. Wajar saja Tini bersikap demikian. Dia awalnya adalah asisten rumah tangga di sana, hubungan itu tentu membuatnya merasa janggal, bahkan usianya juga masih cukup muda karena belum genap dua puluh tahun.
“Apa kamu setuju dengan pernyataan Mas Ismail?” Tanya Zalfa.
“Jangan tanyakan hal itu lagi kepadanya. Kami udah bicarakan hal ini sebelumnya. Dan Tini setuju,” sahut Ismail.
“Oooh… Pantesan sekarang Mas Ismail udah nggak mau lagi ngabarin aku tentang kondisinya, ternyata udah ada orang spesial yang memperhatikannya di sini. Hayooo…” Zalfa meledek Tini dan Ismail sambil tertawa.
Ismail balas tergelak, namun Tini hanya tersenyum dengan wajah menunduk dan tersipu malu.
***
TBC
__ADS_1