
Zalfa menghabiskan waktu di kafe. Di sana, ia bisa berjibaku dengan pekerjaan sehingga waktu akan terasa cepat berlalu. Jika di rumah saja, ia bosan dan waktu berjalan terasa lamban.
Satu kejutan yang membuatnya tersenyum riang adalah saat melihat kedatangan Ismail ke kafe. Tepatnya pukul lima sore, kakak kandungnya itu muncul mengenakan pakaian rapi.
Zalfa mengajak kakaknya itu memasuki ruangan kerjanya. Mereka mengobrol di sana.
“Mas, pulang kerja, ya?” tanya Zalfa mengamati penampilan Ismail yang masih sama seperti saat ia berangkat kerja.
“Iya, Mas baru pulang kerja dan langsung mampir ke sini.”
“Ada apa, Mas?”
“Mas kesini Cuma mau minta pendapat kamu. Sebentar lagi Mas akan menikahi Tini, menurutmu apa Mas harus mengadakan pesta atau tidak?” Ismail duduk di kursi depan meja Zalfa.
Zalfa meletakkan segelas jus ke meja hadapan Ismail sesaat setelah pelayan menyerahkan gelas tersebut kepada Zalfa.
“Memangnya apa yang menjadi pertimbangan Mas kenapa sampai harus bingung menentukan masalah itu?” Zalfa balik Tanya. Ia duduk di hadapan Ismail, berbatas dengan meja.
“Sebenernya Mas nggak butuh pesta dalam pernikahan keduaku ini. Ijab qobul dan sah di mata Negara udah cukup bagi Mas. Tapi sekarang masalahnya, yang aku nikahi ini kan seorang gadis. Dan dia juga masih muda. Apakah nggak jadi masalah bagi perasaan Tini jika Mas menikahinya tanpa adanya pesta pernikahan?”
“Mas, Tini itu gadis baik. Mas bukan baru hari ini mengenalnya, aku yakin dia nggak akan mempermasalahkan hal itu. jika memang Mas nggak ingin mengadakan pesta pernikahan, maka nggak usah melakukannya. Tini pasti bisa memahami.”
“Tapi di pernikahanku yang pertama, aku memeriahkan pernikahanku itu. Apakah ini nggak akan menjadi beban pikiran Tini? Apakah dia nggak akan membanding-bandingkan masalah ini? Aku takut dia akan berkecil hati, meski wajahnya tetap dihias senyum dengan situasi itu, tapi siapa yang tahu dengan perasaannya.”
“Mas, wanita memang memiliki perasaan yang sensitif. Tapi, sehalus-halusnya perasaan wanita, dia akan tetap bisa mengorbankan perasaan demi pria yang dia cintai. Mas boleh tanyakan hal ini pada Tini, apapun keputusan Tini, Mas harus mempertimbangkannya. Aku yakin dia akan menjawab dengan bijak. Usianya memang masih muda, tapi pemikirannya dewasa. Dan kujamin, Tini akan sangat menghargai Mas.”
“Mas meminta pendapatmu karena kamu juga wanita, pasti sebagian perasaanmu juga sama speerti Tini.”
Zalfa tersenyum. “Jangan cemaskan hal itu, Mas. Percayalah, Tini adalah gadis pintar.”
__ADS_1
Ismail meneguk jusnya. Wajahnya mulai terlihat rileks. “Mas nggak ingin ada pesta karena kurang nyaman aja dengan perkataan tetangga nantinya.”
“Jangan pikirin orang lain, Mas. Pemikiran buruk orang lain hanya akan membuat hidup kita nggak maju.”
“Kamu bener.” Ismail mengangguk.
Sekitar hampir setengah jam Zalfa dan Ismail mengobrol, membicarakan banyak hal mengenai rencana pernikahan. Zalfa memberi masukan dan ide brilian dalam mempersiapkan pernikahan. Zalfa siap membantu untuk urusan pernikahan kakaknya.
Tak lama kemudian Ismail pun berpamitan pulang.
Sepeninggalan Ismail, Zalfa keluar dari ruang kerjanya memasuki ruangan yang tak seberapa luas dimana para pengunjung sedang asik menikmati minuman dan makanan khas kafe tersebut. Pandangannya berkeliling mengamati beberapa meja yang diisi oleh pengunjung. Ia mengernyit saat mendapati sosok gadis yang melangkah masuk melewati pintu utama, kemudian ia duduk di salah satu meja, sendirian. Zalfa ingat, gadis itu adalah orang yang sama dengan yang dia lihat pagi tadi, tak lain tetangga Arkhan.
Zalfa bergegas mendekati meja gadis itu. “Selamat sore, mau pesan apa?” Tanya Zalfa.
Gadis itu mengangkat wajah, menatap Zalfa. “Jus jeruk hangat dan mie goreng spesial aja,” jawab gadis itu kemudian pandangannya kembali mengarah ke meja. Sesekali gadis itu merapikan ujung simpul jilbab birunya.
Kebetulan seorang pegawai melintas di dekatnya membawa segelas jus jeruk hangat. Zalfa mengambil nampan berisi segelas jus jeruk hangat itu dan memberi kode pada pegawainya agar membuat jus yang baru serta memerintah untuk membuatkan mie pesanan si gadis berhijab biru. Sedangkan jus tersebut dia berikan ke meja gadis berjilbab biru itu.
Gadis itu mengangguk dengan sekilas senyum. Kemudian meraih gelas yang disajikan dan menyedotnya.
“Permisi, boleh aku ikut duduk di sini?” Tanya Zalfa sopan.
Gadis itu mengernyit, namun kemudian mengangguk. “Silahkan.”
Zalfa menarik kursi dan duduk di hadapan gadis itu. “Kenalin, aku Zalfa. Apa kamu nggak mengenaliku?”
“Enggak. Memangnya kamu siapa?” balas gadis itu heran.
Zalfa tertegun. Bahkan selaku tetangga pun, gadis itu tidak mengenali dirinya. Memang, Zalfa hitungan mereka bertetangga belum mencapai hitungan tahun, tapi Zalfa mengakui, lingkungan komplek perumahan di seputaran tempat tinggal Arkhan memang saling cuek dan kurang peduli satu sama lain. Sampai-sampai mereka yang bertetangga pun tidak saling mengenal.
__ADS_1
“Aku pemilik kafe ini, sekaligus tetanggamu,” jawab Zalfa.
“Tetangga?”
“Hm. Kamu mengenal Arkhan bukan?”
Gadis itu terlihat sedikit terkejut, mimik mukanya menegang namun kemudian ia berusaha menampilkan ekspresi tenang dengan cara kembali meneguk jusnya.
“Iya, Arkhan yang tinggal di sebelah rumahku,” jawab gadis itu lagi.
“Boleh kita kenal lebih dekat bukan? Siapa namamu?”
“Arumi.”
BERSAMBUNG
DUUUH..POIN MENIPIS. 😭😭😭😭😭😭
JADI LEMEZZZ.
MANA POIN UNTUK ARKHAN
.
.
.
.
__ADS_1
.