
Taman itu memberikan kesan sunyi bagi Zalfa. Bagaimana tidak, papan nama di pinggir jalan tertulis nama taman kota, sayangnya saat masuk yang terlihat malah hamparan luas layaknya sebuah lapangan. Mendingan lapangan sepak bola, dapat juga warna hijaunya dijadikan pencuci mata, tapi ini taman gersang tanpa tumbuhan.
Zalfa sebenarnya ada dimana sekarang? Ah, dia malah bertanya-tanya sendiri setelah tadi Arkhan membawanya ke sana.
Sudah beberapa bulan sejak ia pulang dari Singapura, dan ini adalah hari pertama Arkhan mengajaknya ke sebuah taman. Katanya, Arkhan ingin mencari angin segar.
Lah, nggak salah tuh, cari angin segar kok ke taman gersang. Tidak ada tumbuhan, tidak ada bunga, tidak ada patung atau apa pun itu yang bisa menyejukkan mata. Yang ada hanyalah beberapa kursi terbuat dari semen. Sudah itu saja.
Zalfa melirik jam di tangan, sudah sepuluh menit Arkhan meninggalkannya di sana setelah berpamitan akan membeli makanan untuk camilan.
Arkhan mengaku bosan dengan rutinitasnya sehingga sesekali dia ingin mengajak Zalfa ke tempat-tempat aneh yang bisa membuang rasa bosan. Kebosanan Arkhan mungkin bisa hilang, tapi Zalfa malah yang jadi jemu sekarang. Namun Zalfa hanya tersenyum dengan tingkah suaminya yang terkadang memang di luar nalar.
Sedikit jemu, Zalfa membuka ponsel untuk mengusir rasa jemu. Bukannya rasa jemu yang hilang, eh malah rasa kaget menambah bebannya saja. Ia melihat sebuah postingan salah satu akun yang menayangkan secara live sosok pria sedang mengobrol dengan penjual makanan keliling. Sosok itu tak lain adalah Arkhan, pria itu mengenakan baju koko putih dipadu topi khas Mesir warna cokelat, tepat itu adalah pakaian yang dikenakan Arkhan hari itu saat mengajak Zalfa ke taman. Artinya video yang diupload adalah benar-benar sedang berlangsung. Dan sepertinya Arkhan tidak menyadari ada kamera amatir yang sedang merekamnya.
Zalfa memperhatikan dengan seksama video yang sedang berlangsung.
"Siomay nya berapa harganya seporsi, Pak?" tanya Arkhan pada si penjual siomay. Arkhan saat itu sedang menenteng beberapa bungkus makanan ringan.
"Mm.." Si Bapak penjual siomay berpikir dengan manik mata memperhatikan wajah pembeli secara seksama sambil melayani seorang anak kecil yang juga sedang membeli siomay.
"Pak, dengar saya, kan?" tanya Arkhan yang merasa aneh pada si bapak yang malah bengong.
"Iya, saya dengar, Mas," jawab si Bapak.
"Jadi berapa harga seporsinya? Saya beli dua."
"Dua puluh lima ribu harganya, Mas."
"Dua porsi maksudnya, begitu?"
"Lah tadi si Mas nya nanya satu porsinya berapa, ya itu harga satu porsi. Dua puluh lima ribu."
"Oh." Arkhan hanya mengangguk agak bingung, mahal sekali harga siomay keliling satu porsinya mencapai angka dua puluh lima ribu.
__ADS_1
Si bocah yang menjadi pembeli dan sejak tadi menunggu giliran pun meletakkan uang lima ribuan ke gerobak penjual sambil berucap, "Makasih, Pak."
Si bocah berlari pergi.
"Anak itu beli lima ribu saja ya, Pak?" Arkhan melirik uang yang ditaruh bocah tadi yang segera disambar oleh si penjual dan memasukkannya ke laci. Agak heran, kenapa harga untuk anak kecil itu bisa berbeda. Bukan maksud ingin mendapatkan harga yang sama, hanya ingin tahu alasannya saja.
"Anak-anak mah beda sama orang dewasa lah. Orang dewasa kan porsinya banyak," sewot si penjual sambil memasukkan somai ke dalam plastik dengan gerakan kasar sambil sesekali melirik wajah pembelinya.
"Ya, saya tanya saja." Arkhan malas berdebat, akan terbalik gerobak itu jika ia meladeni si penjual yang sikapnya aneh itu.
"Mas niat beli nggak nih? Saya sudah bungkusin ini." Si penjual menyodorkan bungkusan somai ke arah Arkhan.
Kata si penjual, porsi orang dewasa lebih banyak dari pada porsi anak kecil, itulah alasannya hingga harganya berbeda. Tapi kenyataannya porsinya hampir sama, hanya ditambah sedikit saja. Ukuran plastik pembungkusnya saja sama.
"Pak, Anda niat jualan atau tidak ya? Kenapa jualannya marah-marah begitu?" Arkhan menatap tajam pada si penjual.
Penjual itu diam saja.
Arkhan kemudian meraih bungkusan somai dan merogoh dompet lalu menarik uang tunai setumpuk dan menyerahkannya ke gerobak penjual.
"Mas, ini uangnya kok ditinggal?" si penjual setengah mengejar Arkhan.
"Untuk Bapak semua. Ambilah!" Arkhan berucap dengan ekspresi datar.
"Banyak sekali ini, Mas. Satu juta ini loh." Si Bapak malah kebingungan.
"Ambil saja. Bapak kasih saya harga paling mahal agar Bapak mendapatkan untung besar, kan? Itu untung yang jauh lebih besar untuk Bapak." Arkhan melangkah pergi.
"Eh Mas, saya kan sudah sewot sama sampean kok sampean malah kasih saya uang segini banyaknya?" Si penjual masih mengejar Arkhan dan berusaha mengembalikan uang tersebut. "Mas, serius ini saya malah jadi nggak enak. saya sudah sewot sama sampean dan sampean malah membalas saya begini."
"Uang segitu terasa banyak jika dimasukkan ke kotak amal di masjid, tapi akan terasa sedikit saat dibawa ke pasar untuk belanja. Ambil saja!" titah Arkhan tidak mau ditolak. kemudian melenggang pergi.
Penjual menatap segepok uang di tangannya dengan berkaca, kemudian ia berteriak, "Maaf Mas, saya tahu sampean adalah Arkhan yang sering muncul di sosmed. Saya sering menonton sampean, saya sengaja menaikkan harga karena saya tahu sampean banyak uang. Tapi nggak seharusnya saya berbuat begitu kepada Anda. Sumpah, saya benar-benar nggak enak."
__ADS_1
Bleb.
Video berakhir.
Zalfa memasukkan ponsel ke tasnya, lalu berlari menuju ke luar taman. Ia ingin segera menemui Arkhan, pria itu benar-benar bisa membuat heboh dunia maya. Lihatlah tingkahnya yang unik, membayar somai dua bungkus dengan harga satu juta. Untung saja Arkhan tidak balas marah pada si penjual, kalau Arkhan balas marah- marah, tentu nama Arkhan akan dicoret orang. Namun Zalfa yakin satu hal, bahwa Arkhan yang sekarang bukanlah Arkhan yang dulu. Arkhan hanya akan marah saat memiliki alasan kuat untuk meluapkannya.
"Mas Arkhan!" Zalfa sontak menarik Arkhan ke balik dinding taman saat menemukan pria itu melenggang hendak memasuki taman. Zalfa memeluk Arkhan tanpa aba-aba.
Arkhan pun bingung atas sikap istrinya itu.
"Hei, kenapa ini?" Arkhan tidak balas memeluk karena ditangannya dipenuhi oleh tentengan plastik berisi makanan.
"Biarkan begini sampai beberapa saat."
Oh.. ternyata istrinya itu sedang terkena sindrom kangen. Baru ditinggal sebentar sudah peluk peluk begini. Begitu pikirnya.
"Kita tidak bisa lama di sini, nanti Shanum menangis karena terlalu lama ditinggal," ucap Arkhan.
***
Ini untuk melepaskan kangen pada babang Arkhan.
Adakah yang berminat membeli bukunya jika kisah cinta mereka aku bukukan versi cetak buku? yuk komen yang berminat. 😘😘😘😘
Yuk, baca karyaku berjudul
Menikahi Sang Konglomerat
di Fi z z o
Baca gratis.
Menikahi sang konglomerat ini menceritakan tentang Gwen, gadis dengan predikat mengagumkan lulusan kampus terbaik, namun nasib tak seberuntung predikatnya. Ia terpaksa melepas keperawanannya demi sejumlah uang. Bukan untuk bersenang- senang, tapi untuk biaya rumah sakit sang ibu.
__ADS_1
Sehari setelah kesuciannya diberikan kepada pria asing, ia dinikahkan dengan anak sahabat ibunya, tak lain seorang Konglomerat yang terkenal dingin dan tak tertarik pada wanita. Akankah konglomerat muda itu menerima Gwen yang sudah tidak perawan lagi?
Langsung baca ke sana yak. Kutunggu komen kalian