
Zalfa mendengarkan saja cerita Mbak Yen dengan seksama. Ia merasa bahagia bisa menjadi bagian yang ternyata mampu membawa sedikit perubahan dalam diri Arkhan. Zalfa kemudian meninggalkan taman dan masuk ke rumah setelah selesai menyiram bunga. Ia langsung ke dapur saat merasakan perutnya yang lapar. Ia ingat sop miliknya belum sempat disentuh dan tentunya akan menjadi pengganjal perut disaat lapar begini. Namun ia terkejut saat melihat mangkuk sop itu sudah tidak ada di meja makan.
Siapa yang mengambilnya? Zalfa bertanya-tanya. Ia menuju ke wastafel untuk melihat mangkuk kotor yang mungkin saja isinya sudah dimakan oleh orang lain dan mangkuk kotornya diletakkan di sana, tapi ia tidak menemukan apa pun di sana. Sudahlah, Zalfa tidak mau ambil pusing. Ia pun berniat hendak keluar untuk mencari makanan.
Setengah berlari, Zalfa menaiki anak tangga untuk menjemput tas dan dompetnya. Saat melintas di ruangan keluarga lantai dua, ia berpapasan dengan Maria.
“Mama!” sapa Zalfa dengan seulas senyum.
Maria mengangguk. Ia menatap Zalfa sambil menggoyang-goyangkan ponselnya seperti sedang mencari signal. “Aku sedang delivery makanan, tapi entah kenapa pesanku gagal terus.”
“Ooh… Kalau begitu biar aku belikan. Mama mau dibelikan makanan apa?” Tanya Zalfa lembut.
“Tidak usah. Aku tidak mau merepotkanmu. Nanti kamu lelah. Kamu adalah pengantin baru, tidak baik jika terlalu banyak kegiatan,” jawab Maria dengan nada bicara keibuan.
Zalfa bahagia sekali mendengar tutur kata Maria yang sangat lembut dan nada bicaranya menyejukkan hati. “Ini sama sekali nggak merepotkanku, Mama. Kebetulan aku juga sedang berniat akan keluar untuk mencari sarapan.”
“Sungguh?”
__ADS_1
“Iya, Mama. Mama sebutin aja mau dibelikan makanan apa.”
Maria mengernyit seperti berpikir, kelihatannya dia masih keberatan karena takut merepotkan Zalfa. “Tapi aku tidak mau kamu berpikir kalau kamu di sini disuruh-suruh olehku. Kamu di sini untuk tinggal dan hidup senang, jadi jangan sampai berpikir kalau hidupmu akan menjadi sulit di sini. Ini adalah rumahmu, milik Arkhan juga milikmu. Jangan merasa sungkan. Dan jangan merepotkan diri hanya karena risih hidup bersama kami.” Maria menyentuh lengan Zalfa sekilas.
Sungguh, hati Zalfa merasa sangat senang diperlakukan dengan begitu sopannya oleh mertuanya. Keadaan itu tentu akan berbeda jika ia menikah dengan Faisal, yang sejak di awal sudah mendapat penolakan keras dari Bu Fatima.
“Iya, Mama. Makasih banyak. Mama juga jangan berpikir kalau aku keberatan membantu mama. Ini murni aku melakukannya dnegan tulus.” Wajah Zalfa cerah berbinar. “Mama minta dibelikan makanan apa?” Entah sudah berapa kali Zalfa menanyakan pertanyaan yang sama.
“Roti Pak Maman,” jawab Maria kemudian ia menyebutkan alamat tempat penjualan roti tersebut. “Baiklah, akan kuambilkan uangnya dulu.”
“Nggak usah, Mama. Aku ada uang, kok.”
Zalfa tersenyum melihat kepergian mertuanya. Ia pun memasuki kamar dan mengambil tas, dompet serta ponselnya. Kemudian kembali ke tempat dimana ia tadi diminta untuk menunggu. Ia menuruti saja kata-kata mertuanya untuk menggunakan uang mertuanya saja. Dengan begitu, mungkin Maria akan merasa lega.
Tak lama kemudian Maria muncul.
“Ini ambilah!” Maria menyerahkan beberapa lembar uang.
__ADS_1
Zalfa tercengang melihat uang yang disodorkan. Mertuanya itu mau beli sarapan atau beli tas? “Banyak banget, Ma?”
“Bawa saja itu.”
Zalfa tidak mau mengelak lagi karena pastinya hanya akan menimbulkan perdebatan. “BAiklah, aku pergi, Ma.”
“Berhati-hatilah. Jangan ngebut-ngebut kalau menyetir. Lihat kiri dan kanan. Jangan terburu-buru.”
Zalfa mengangguk. Di awal, Maria terlihat cuek dan seakan tak perduli, tapi sampai ke sini, Zalfa semakin mengenal bahwa mertuanya itu perhatian, penuh kasih sayang, dan suka berbagi.
Zalfa menuruni anak tangga dan meninggalkan rumah menggunakan mobil pemberian Arkhan.
Di perjalanan, ia berhenti saat lampu merah. Ia menurunkan kaca mobil saat melihat seorang bocah kecil berjalan dengan pakaian lusuh.
“Dek!” panggil Zalfa membuat bocah cilik itu menoleh. “Ini untukmu!” Zalfa menyerahkan selembar uang pemberian Maria kepada bocah itu.
Sontak bocah itu tersenyum lebar dan melompat girang. Ia kemudian mengucapkan terima kasih dengan isyarat. Zalfa baru sadar jika ternyata bocah itu tidak bisa berbicara. Pandangan mata Zalfa bergerak ke mobil yang berhenti di sebelahnya. Melalui kacxa yang terbuka, ia melihat wajah Faisal di dalam mobil tersebut.
__ADS_1
BERSAMBUNG
Yaaah.. rank menurun. Besok gk update deh kalo gitu 😪😪