
Duuh… Zalfa jadi penasaran, seperti apa ekspresi Arkhan sekarang. Saat itu, pemandangan di depan matanya hanyalah permukaan tubuh Arkhan karena wajahnya menempel di sana. Zalfa mengangkat wajah dan menatap Arkhan.
Merasakan gerakan kepala dalam pelukannya, Arkhan pun setengah menunduk dan menatap mata Zalfa. Keduanya bersitatap hingga beberapa detik lamanya.
“Jangan marah padaku!” bisik Arkhan membuat jantung Zalfa berdebar-debar. “Semua ini terjadi hanya karena kekejaman wanita tua itu. Dan aku muak padanya.”
Arkhan sedang merasa bersalah, tatapan matanya teduh. Tidak ada lagi urat rahang yang mengeras, tidak ada lagi tatapan bengis, tidak ada lagi warna merah padam di wajah itu. wajah Arkhan kini membuat adem mata yang memandang.
Zalfa hanya bisa diam. Ia harus berbuat apa? Baiklah, Zalfa akan berpura-pura ngambek saja. Ia ingin tahu bagaimana Arkhan akan menyikapinya.
“Aku tidak ingin melihatmu marah padaku,” tukas Arkhan dengan manik mata yang bergerak-gerak saat menatap bola mata Zalfa.
“Lepaskan, Arkhan!”
Hm… Zalfa memulai aksinya. Suara Zalfa masih terdengar kesal, tepatnya berpura-pura kesal.
“Aku tidak akan melepaskanmu.” Arkhan mempererat lingkaran lengannya di punggung Zalfa saat wanita itu meronta hendak melepaskan diri.
“Kenapa? Sampai kapan aku harus berada dalam dekapanmu begini?”
“Sampai kau memaafkanku.” Arkhan mengusapkan jempol tangannya ke permukaan bibir Zalfa.
Sentuhan itu membuat Zalfa seperti tersengat listrik.
“Maumu apa sekarang?” Tanya Zalfa dengan tatapan kesal meski hatinya tersenyum.
“Berikan maafmu.”
“Enggak. Aku udah cukup kesal padamu. besok aja aku memaafkanmu. Sekarang biarkan aku naik ke atas.”
“Tetaplah di sini! Jangan membantah, istriku!”
__ADS_1
Waow… Arkhan terlihat samakin menakjubkan saat membujuk. Lihatlah, tatapannya begitu teduh. Suaranya lembut dan terkesan mesra.
“Bagaimana jika Elia atau mama melihat kita begini?” Zalfa berusaha melepaskan diri, tetap saja tidak berhasil.
“Biarkan saja!”
“Arkhan!” pekik Zalfa.
“Apa segini besar kemarahanmu saat aku tidak bisa memahamimu?”
“Ya.”
“Aku tidak mempedulikan ucapanmu karena aku sedang emosi. Perbuatan wanita tua itu sungguh kelewatan terhadapmu, dan aku tidak bisa mengendalikan diri karenanya. Baiklah, katakan apa yang harus kulakukan supaya kau memaafkanku?”
Pertanyaan mengagumkan. Zalfa senang emndengarnya.
“Jangan suka marah-marah lagi. Marah sebatas untuk menunjukkan satu pelajaran adalah wajar. Tapi marah berkelanjutan yang hanya membuat dada menjadi panas adalah berasal dari hasutan syetan,” jawab Zalfa kemudian menelan, takut Arkhan malah jadi balik kesal karena merasa digurui.
“Baiklah, akan kupenuhi permintaanmu. Mudah, bukan?”
“Masih mau marah?” Tanya Arkhan.
“Aku belum yakin dengan ucapanmu.”
“Bagaimana aku meyakinkanmu? Dengan begini?” Arkhan menekankan kata ‘begini’ dengan tegas sambil memajukan wajahnya mendekati wajah Zalfa. Kepalanya miring saat wajah mereka hampir bersentuhan.
Gila! Akan sangat buruk jika kegiatan itu dipergoki oleh Elia. Jangan sampai gadis kecil itu melihatnya melakukan adegan usia dua puluh satu tahun plus. Zalfa menyentuh bibir Arkhan dengan dua jarinya, menahan gerakan kepala pria itu.
“Hentikan, Arkhan!”
“Aku tidak akan menghentikannya sebelum kau mengatakan kalau kau memaafkanku!”
__ADS_1
“Iya.. Iya aku memaafkanmu. Sudah?” Zalfa mendorong wajah Arkhan supaya mundur. “Sekarang lepaskan aku!”
“Hm.” Arkhan melepaskan lingkaran lengan tangannya di tubuh Zalfa.
“Jangan lakukan itu lagi di tempat seperti ini. Kamu bener-bener bikin aku kapok!” kesal Zalfa membuat sudut bibir Arkhan tertarik sedikit.
Bola mata Arkhan bergerak melirik Zalfa yang berjalan menaiki anak tangga menuju kamar.
TBC
POIN UNTUK ARKHAN YA. 🥰🥰
Buat yg mau kenal aku lebih deket,bisa follow instagramku @emmashu90
Love,
Emma Shu
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.