
Pengawasan Zalfa tidak lepas dari pemandangannya di rumah tetangga. Seorang gadis menyembul keluar menemui polisi setelah membuka pintu. Gadis itu agak panik saat melihat polisi yang datang. Ia terlihat berbicara dengan dua polisi yang datang sambil sesekali merapikan simpul jilbabnya meski sebenarnya posisi jilbabnya sudah rapi, gerakan tangannya itu hanya sekedar untuk menutupi kepanikannya semata karena berhadapan dengan pihak yang berwajib.
Perbincangan antara gadis itu dengan polisi terlihat semakin serius dan si gadis tampak gugup.
“Katamu mau mengambilkan bajuku, kau terlalu lama di sini.”
Suara itu bersumber dari mulut Arkhan. Zalfa merasakan elusan singkat pada pundaknya, tak lain dagu Arkhan yang mengusap sebentar di sana bersamaan dengan kedua lengannya yang melingkar di perut Zalfa.
Zalfa melirik ke samping, pada wajah Arkhan yang hanya berjarak beberapa centi saja dari matanya.
Arkhan yang memahami lirikan bernada penuh Tanya itu, segera mengalihkan tatapan ke arah pandang yang baru saja menjadi penglihatan Zalfa. Ekspresi wajah Arkhan tampak menegang begitu melihat interaksi antara gadis tetangganya itu dengan polisi.
Gadis berwajah oval itu mengangkat wajah dan menatap ke balkon, tepat ke arah Arkhan sebelum akhirnya ia menaiki mobil polisi yang menjemput.
Arkhan melepaskan lingkaran lengannya di tubuh Zalfa dan menyambar kemeja di tangan istrinya itu, kemudian berlalu masuk ke kamar. Dengan gerakan kilat, Arkhan mengenakan seluruh pakaiannya kemudian menyambar beberapa benda penting miliknya, dompet, ponsel dan kunci mobil.
Zalfa termenung menatap kepergian Arkhan. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh suaminya itu, dia mau pergi kemana, dengan siapa, dan masih banyak pertanyaan lain. Apakah Zalfa mesti harus menahan kepergian Arkhan? Apakah Zalfa mesti mengajukan pertanyaan setiap kali Arkhan akan pergi?
__ADS_1
Arkhan yang sudah berada di luar kamar pun menoleh, menatap Zalfa yang saat itu juga tengah menatap dirinya. Tatapan serta ekspresi wajah Zalfa sungguh menghakimi, kekesalan bercampur kekecewaan berbaur menjadi satu.
Zalfa memalingkan wajah ke dinding. Malas menatap Arkhan. Pergilah sana, Arkhan! Selalu begini di setiap kepergianmu. Apakah kamu nggak berpikir kalau kepergianmu di situasi janggal begini membuatku cemas? kenapa aku seperti tidak dianggap begini? Seolah-olah hidupmu itu bukanlah merupakan bagian dari kehidupanku?
Arkhan memiliki kehidupan bebas yang membuatnya merasa seperti kelelawar, pulang dan pergi tidak perlu orang lain tahu, termasuk istrinya. Dia bahkan tidak pernah memberi tahu kemana dia pergi, untuk urusan apa, dan semua tentang kepergiannya. Setelah menikah, Arkhan tidak mengubah kebiasaannya itu. Kehidupannya adalah hidupnya, dan kehidupan Zalfa juga menjadi urusan Zalfa sendiri. Zalfa memaksa diri untuk bersabar menghadapi situasi itu, menghadapi Arkhan yang seakan-akan menjalani hidup sendiri, istilah gaulnya ‘lo lo, gue gue’. Sepertinya Arkhan masih belum mengerti makna pernikahan, yang mana kehidupan antara suami istri seyogyanya seiring sejalan, saling melengkapi, saling memahami dan seiya sekata. Ada banyak nasihat dan petunjuk yang menjadi pedoman dalam menjalani bahtera rumah tangga, namun Arkhan belum memahami hal itu.
Zalfa tersentak saat mendengar langkah sepatu mendekat. Ia menatap ke sumber suara. Arkhan balik lagi? Ya, pria itu berjalan mendekat memasuki kamar setelah tadi hampir menghilang dari pandangan Zalfa.
“Jangan tatap aku seperti itu!” ucap Arkhan dengan sorot mata penuh tekanan.
Zalfa diam saja. Ia tidak tahu harus berkata apa.
“Aku nggak berharap banyak darimu, Arkhan. Jika awalnya aku salah karena menganggap pernikahan kita hanya sebatas tulisan di atas kertas, tapi aku udah mengubah semuanya dengan tujuan yang benar sekarang. Aku mohon, jadikan aku sebagai bagian dari hidupmu. Jangan kamu anggap aku hanyalah pajangan di sini, yang nggak perlu tahu atas apa pun yang terjadi dalam kehidupanmu. Aku istrimu, Arkhan. Aku ingin mengetahui semuanya baik dan buruk dalam dirimu. Demikian sebaliknya.”
“Baiklah, tapi jangan tatap aku seperti itu. aku tidak ingin melihat sorot tatapanmu itu.”
Yess! Zalfa bersorak dalam hati. Ternyata tatapan matanya menjadi senjata yang ampuh untuk menaklukkan Arkhan. Siapa yang sangka jika Arkhan akan selunak itu?
__ADS_1
“Kamu datang dan pergi sesukamu, membiarkan aku di sini seperti orang lain yang nggak perlu tahu tentang kehidupanmu,” sambung Zalfa sambil meletakkan telapak tangannya ke dada Arkhan dan mengusapnya pelan.
“Gadis di rumah sebelah tadi dijemput polisi, aku harus ke kantor polisi sekarang sebab ini berkaitan dengan masalahku. Aku tidak bisa jelaskan banyak sekarang, aku tidak memiliki banyak waktu untuk itu. percayalah, aku akan kembali untukmu.” Arkhan menautkan bibirnya pada bibir Zalfa kemudian melenggang pergi dengan langkah lebar dan menghilang dari pandangan.
Zalfa terhempas duduk ke sisi ranjang, telapak tangan kanannya menyentuh bibir.
TBC
KLIK LIKE YAAP
.
.
.
.
__ADS_1
.