SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
168.


__ADS_3

Arkhan mulai menyantap makanan yang disajikan untuknya. Mengunyahnya dengan kunyahan yang tegas. Zalfa mengikuti cara makan yang dilakukan oleh Arkhan.


“Sebagian besar wanita selalu menginginkan momen berkesan dalam pernikahannya, dan kau tidak mendapatkannya. Apa kau tidak ingin membuat hari pernikahanmu menjadi lebih berkesan dengan memeriahkan dan membuat pesta besar-besaran?” tanya Arkhan dengan tatapan fokus ke manik mata Zalfa, sementara tangannya terus menyuap makanan ke mulutnya.


“Enggak enggak. Aku nggak mengharapkan itu. Aku udah merasa cukup dengan semua ini.”


“Aku hanya ingin kau mendapatkan sesuatu seperti yang didapatkan oleh wanita lainnya. Tapi baiklah, jika itu menurutmu tidak perlu, maka tidak perlu kita lakukan.”


Keduanya tidak lagi mengobrol hingga selesai makan.


Arkhan bangkit berdiri. “Apa ada yang masih ingin kau lakukan di sini?” Tanya Arkhan menatap Zalfa yang masih duduk manis.


“Eh enggak. Iya, kita pulang.” Zalfa ingin mengutuki dirinya sendiri yang masih duduk terpaku saat Arkhan sudah berdiri hendak meninggalkan meja makan. Ia kemudian berdiri, namun Arkhan masih terpaku di tempat seperti mempersilakan Zalfa agar melangkah lebih dulu. Akhirnya Zalfa melangkahkan kaki dan Arkhan mengiringi di belakang.


“Aku bayar tagihan dulu.” Arkhan menghampiri meja kasir kemudian mengeluarkan kartu kredit dari dompetnya.

__ADS_1


“Aku tunggu di mobil,” sahut Zalfa.


Arkhan menganngguk.


Zalfa keluar. Ia menghentikan langkah saat berpapasan dengan Bu Fatima dan Pak Ibrahim di teras. Sepasang suami istri itu seperti hendak makan malam di restoran itu, Faisal turut bersma dengan keduanya.


Bu Fatima menatap sinis pada Zalfa. Sementara Faisal yang berdiri di belakang pun melangkah maju hingga sejajar dengan ke dua orang tuanya.


“Selamat malam, Zalfa!” sapa Faisal.


“Malam!” sahut Zalfa.


Zalfa mengernyit heran mendengar pertanyaan berisi sapaan, namun nada bicaranya tajam dan sengak. “Baik.”


“Aku ingin bicara sebentar.”

__ADS_1


“Bicaralah!” sahut Zalfa.


“Kau tahu apa yang terjadi dengan putraku selama kau sudha menikah dengan laki-laki itu? Dia tidak mau menikah meski sudah lima gadis kupertemukan dengannya. Dia masih saja mengingatmu,” geram Bu Fatma dengan gigi menggemeletuk. “Dia masih mengharapkanmu. Pertanyaannya, jimat haram apa yang kau gunakan untuk mengikat putraku sampai pikirannya masih terus bersarang padamu, wanita rendahan?”


“Ibu!” Faisal berseru penuh permohonan. Memohon agar ibunya tidak berbicara seburuk itu terhadap Zalfa.


“Hei, wanita iblis! Tutup mulutmu atau kupenggal kepalamu, huh?” Arkhan yang tiba-tiba muncul, menghardik keras sambil memegangi lengan Bu Fatima erat-erat. Tatapannya tajam dan sengit.


“Arkhan! Jangan lakukan itu!” Zalfa memegangi lengan Arkhan memohon. Setidaknya ia tidak mau Arkhan membuat keributan di depan umum.


“Bisakah kau membungkam mulutmu sendiri? Atau perlu aku yang membungkamnya? Kau selamanya tidak akan bisa bicara lagi jika aku yang membungkammu, paham!” Arkhan tidak mempedulikan ucapan Zalfa. Cengekeraman tangannya di lengan Fatima sangat kuat hingga membuat Fatima meringis kesakitan.


“Arkhan! Hentikan! Apa yang kau lakukan? Kau benar-benar rendahan dengan melakukan penganiayaan terhadap perempuan yang jauh lebih tua darimu!” Faisal pun emosi melihat perlakuan arkhan terhadap ibunya. Ia maju dan mendorong dada Arkhan hingga pegangan Arkhan di lengan Bu Fatima pun terlepas akibat posisi tubuhnya yang mundur beberapa langkah.


“Biarkan aku menghakimi ibumu. Karena setelah aku mengungkap kelakuan ibumu, kau mungkin juga akan melakukan hal yang sama. Dia tidak pantas dipanggil ibu,” geram Arkhan membuat Faisal semakin kesal dan mengepalkan tangan.

__ADS_1


TBC


JANGAN LUPA KLIK VOTE


__ADS_2