SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
276.


__ADS_3

“Zalfa, kau mau kemana?” tanya Arkhan melihat Zalfa sudah terlihat rapi mengenakan gamis longgar yang membuat tonjolan perut wanita itu tersamarkan.


Zalfa yang berpapasan dnegan Arkhan di pintu depan pun berhenti. “Aku mau ke mol, Mas Arkhan.”


“Sendirian?” selidik Arkhan melihat Zalfa yang melenggang tanpa siapa pun di sisinya.


“Aku akan pergi bersama Elia.”


“Ajak mama sekalian. Mama bisa membantumu jika kau kelelahan nanti.”


Zalfa tersenyum. “Mama sedang karaokean di kamar. Aku nggak enak kalau mengganggu mama.”


“Kau tahu kalau mama sangat menyayangimu, bukan? Dia pasti akan bersedia membantumu. Kau juga tahu speerti apa Elia. Dia tidak akan bersedia membantumu meski hanya sekedar membawakan barang belanjaan.”


“Kamu nggak usah cemas, aku bisa, kok.”


"Atau... ajak saja Emy."


"Mas Arkhan, Emy sedang sibuk di belakang."


“Wajahmu masih saja pucat. Apa kau tidak enak badan?” Arkhan menyentuh jari-jari Zalfa dan menggenggamnya. “Telapak tanganmu juga dingin.”


“Aku tadi baru saja mandi, airnya dingin. Pas mandi rasanya seger banget, tapi pas udah bangkit dari bathtub, eh malah jadi dingin. Ini Cuma sebentar, nanti juga pasti kepanasan lagi.”


“Akhir-akhir ini kulihat kau kurang sehat. Kita ke dokter saja, batalkan niatmu untuk pergi ke mol.”

__ADS_1


Zalfa mengernyit. “Mas Arkhan, baju hamilku udah pada sempit semua. Bahkan besok pun aku bingung mau pakai baju apa lagi ini. Makanya aku mau pergi ke mol untuk beli baju hamil.”


Arkhan hanya bisa diam.


“Maaf, bukannya aku nggak mau mematuhimu, tapi bajuku udah pada kesempitan semua,” sambung Zalfa sambil mengusap singkat punggung tangan Arkhan.


“Minggir!” Elia tiba-tiba muncul dan menerobos hingga memisahkan tangan Arkhan dan Zalfa yang saling berpegangan. “Ini kan pintu, kalian pegang-pegangan tangan kok ya di pintu. Mengganggu lalu lintas aja.” Elia menggerutu sambil berjalan menuju mobil yang sudah terparkir di halaman.


Arkhan tidak menanggapi. Zalfa hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Elia.


“Kak Zalfa, ayo buruan! Kita berangkat sekarang!” ajak Elia sambil membuka pintu mobil. “hari mau hujan. Langit mendung dan gelap gulita.”


“Eh, siapa yang bilang kita akan naik mobil itu?” Tanya Zalfa membuat gerakan tubuh Elia terhenti.


“Itu mobilnya pasti mau dipakai sama Mas Arkhan,” jawab Zalfa. “Kita naik taksi aja.”


“Ya sudah, biar aku mengantar kalian,” sahut Arkhan.


“Sungguh?” Zalfa tampak sennag.


Arkhan mengangguk.


“Ya sudah, ayo kita naik mobilnya Mas Arkhan,” ucap Zalfa membuat Elia tersenyum girang.


Arkhan dan Zalfa duduk bersebelahan di jok depan. Elia sendirian di belakang memainkan ponsel.

__ADS_1


Hujan turun sangat deras ketika mobil bergerak meninggalkan rumah. Cuaca di luar benar-benar sangat dingin.


“Mas Arkhan, hidupin dong AC-nya. Panas banget ini,” pinta Zalfa.


Arkhan menoleh dan menatap keringat yang muncul di pelipis istrinya. Jujur saja kulit tubuh Arkhan merasakan suhu dingin, namun Arkhan tetap memenuhi permintaan Zalfa. Dia menyalakan Ac. Tangan Zalfa bahkan menjulur maju untuk menambah suhu.


Tak lama kemudian, telapak kaki dan tangan Arkhan terasa sangat dingin, namun Arkhan tidak mau protes atau sekedar mengurangi suhu. Dia setia menyetir.


“Iiih… dingin banget, loh. Matiin Ac-nya dong!” kata Elia. “Ya ampun, itu stelan Ac-nya kenapa setinggi itu, sih?”


“Kamu kedinginan, ya?” Tanya Zalfa sambil menoleh ke belakang.


“Iya, dong. Udah tahu di luar sana hujan deras, suhu di luar kan juga dingin banget, masak malah ngidupin Ac dengan suhu segitu tingginya?” gerutu Elia.


“Mas Arkhan, menurutmu bagaimana? Apa sekarang kamu merasa kedinginan?” Zalfa tidak yakin dengan pernyataan Elia karena tubuhnya sendiri terasa gerah.


Arkhan hanya menoleh sekilas saja ke arah Zalfa, kemudian ia kembali fokus menyetir.


“Ya udah, aku kecilin Ac-nya.” Zalfa menuruti permintaan Elia.


“Kau tidak perlu menuruti Elia, lakukan saja apa yang menurutmu bisa membuatmu merasa nyaman,” kata Arkhan.


Elia sontak menatap Arkhan tajam saat mendengar pernyataan kakaknya itu. “Enak aja, aku kan kedinginan.”


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2