
Arkhan dan Zalfa bertukar pandang. Arkhan mengalihkan pandangan saat menemukan sorot mata tajam istrinya. Zalfa sedang sangat kesal karena Arkhan bersikap seakan-akan acara sakral kakaknya seperti tidak berarti di mata Arkhan. Dan sekarang Arkhan menyerah begitu saja saat diberi hukuman.
“Tetaplah di sini sampai semua tamu pergi!” tegas Zalfa dengan suara rendah supaya suaranya tidak didengar oleh orang-orang di sekitar.
“Kau suruh aku duduk diam di sini tanpa melakukan apapun? Bahkan kau juga meninggalkanku.”
“Apa kamu menganggap acara ini nggak penting?”
“Nggak harus ada aku barulah acara terasa penting bukan?”
Ya ampun, sampai sekarang Zalfa belum mengerti bagaimana cara Arkhan berpikir tentang hubungan dua keluarga? Arkhan menganggap acara pernikahan Ismail penting tanpa kehadirannya?
“Kalau kamu menganggap acara ini penting, tentu kamu akan menetap di sini,” lirih Zalfa lagi.
“Apa kau menganggap kepergianku ini menjadi masalah?”
“Tentu.”
“Oke. Temani aku di sini!” Arkhan memegang erat pergelangan tangan Zalfa dan menyentaknya hingga Zalfa terduduk bersamaan dengan Arkhan yang juga duduk.
__ADS_1
Pasrah, Zalfa pun diam.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang berbicara melalui microphone, suaranya mendengung memenuhi ruangan melalui pengeras suara yang awalnya digunakan untuk memutar musik lagu-lagu bergenre islami.
Zalfa menoleh ke sumber suara, menatap ustad Bukhori yang berdiri memegang microphone, tangan lainnya memegang kitab suci Al Qur’an.
Setelah mengucap salam dan membuka pembicaraan dengan kalimat pembuka, serta senda gurau yang mengundang tawa renyah pada hadirin, beliau mengedarkan pandangan ke sekitar. Ia sudah minta ijin pada tuan rumah sebelum memegang microphone tersebut dan Ismail mengijinkannya.
“Terima kasih atas kehadiran saudara-saudari di rumah ini untuk menghadiri hari bahagia, yang mana saudara kita bernama Ismail telah menempuh hidup baru.” Ustad Bukhori berbicara dengan senyum lebar. “Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah. Tidak perlu berbicara panjang lebar, saya akan langsung pada topik. Di acara mulia ini, alangkah baiknya jika diisi dengan hal yang mulia pula. Saya ingin saudara kita membacakan ayat suci Al Qur’an. Bolehkah saya minta waktunya sebentar, Arkhan?”
Zalfa menoleh ke arah Arkhan. Yang ditoleh balas menatap dengan ekspresi datar.
Arkhan diam saja menatap Ustad Bukhori.
“Arkhan, maukah engkau membacakan ayat-ayat ini untuk didengarkan oleh teman-teman yang hadir di sini?” Ustad Bukhori menatap Arkhan penuh keyakinan.
Zalfa menyenggol lengan Arkhan saat suaminya itu hanya diam seperti sedang berpikir.
Mendapat senggolan Zalfa, reflek kepala Arkhan pun mengangguk.
__ADS_1
“Alhamdulillah.” Senyum ustad Bukhori semakin lebar. Kemudian pandangannya kembali mengedar ke sekeliling. “Arkhan adalah saudara kita yang baru saja masuk Islam. Saya meminta Arkhan membaca Al Qur’an adalah untuk membuka mata kita yang sudah menjadi muslim sejak lahir hingga sekarang, namun hatinya belum terketuk untuk belajar membaca Al Qur’an, sehingga belum bisa membaca kitab tersebut. Baiklah, silahkan Arkhan!” Ustad Bukhori meletakkan Al Qur’an yang dia bawa ke meja.
Arkhan bangkit berdiri sesaat setelah melirik Zalfa namun tidak mendapat respon apapun dari wanitanya itu. Ia melenggang menuju meja yang disediakan, ia melintasi orang-orang yang duduk manis di lantai untuk sampai ke meja tersebut.
Arkhan sudah duduk di depan meja. Pandangannya fokus ke lembaran kitab yang dia buka.
Melihat Arkhan akan membaca Al Qur’an, jantung Zalfa rasanya deg-degan. Para ibu-ibu kasak-kusuk membicarakan Arkhan, yang disebut baru saja masuk islam oleh ustad Bukhori.
Arkhan berhenti membuka lembaran kitab saat mendapatkan surat Al Kahfi. Ia menarik nafas. Pandangannya fokus tertuju ke tulisan.
TBC
.
.
.
.
__ADS_1
.