SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
275.


__ADS_3

Arkhan melingkarkan lengannya ke perut Zalfa. Posisi itu membuat tubuh Zalfa tertahan di kursi tanpa kakinya harus menopang badan dengan kuat.


“Aku melihatmu seperti kelelahan, aku nggak tega,” bisik arkhan.


“He heee… Aku nggak kecapean kok. Biasanya kan kegiatanku juga begini setiap hari. Tapi entah kenapa sehari ini aku memang merasa berbeda.”


Arkhan mengernyit, dia letakkan telapak tangannya ke pipi Zalfa lalu memutar wajah cantik itu supaya menghadap kepadanya. “Berbeda bagaimana maksudnya?”


Zalfa tersenyum melihat ekspresi cemas yang tercipta di wajah Arkhan. “Maksudnya aku merasa lemes gitu, deh. Gampang capek.”


“Ya sudah, jangan lagi melakukan apa pun jika itu membuatmu merasa kelelahan.”


“Aku tahu porsi capek dalam tubuhku dan aku juga nggak akan melakukan apa pun jika aku merasa lelah.”


“Apa aku perlu cuti bekerja?”

__ADS_1


“Enggak perlu, Mas Arkhan.” Zalfa tersenyum lebar. Dia benar-benar merasa diperhatikan dan dimanja oleh Arkhan. Kini, sikap Arkhan benar-ebnar jauh berebda. Pria itu menunjukkan perhatiannya dengan sangat natural.


Zalfa bangkit berdiri dan melangkah menjauh dari Arkhan. Sebenarnya dia sejak tadi tidak betah berada di dalam pelukan arkhan. Tubuhnya mudah gerah dan risih setiap kali dipeluk oleh Arkhan, bahkan saat tidur pun Zalfa tidak nyaman jika kulit tubuhnya bersenggolan sedikit saja dengan Arkhan. Dia pun tidak tahu apa penyebabnya, tapi memang itulah yang dia rasakan.


“Kemarilah!” Arkhan menarik pergelangan tangan Zalfa hingga langkah Zalfa terhenti. “Duduklah di pangkuanku!” Entah apa yang menyebabkan Arkhan merasa sangat ingin dekat dengan Zalfa, juga ingin memeluk wanita itu terus.


Zalfa mengernyit. Dia merasa tidak betah berdekatan dnegan Arkhan, bagaimana mungkin sekarang dia akan nyaman untuk duduk di pangkuan Arkhan?


“Aku gerah, Mas Arkhan.” Zalfa menjawab dengan jujur.


“Bukan Ac yang membuatku menjadi gerah, tapi aku memang lagi nggak ingin deket-deket sama orang,” kata Zalfa saat Arkhan menatapnya penuh permintaan. Zalfa mengerti arti tatapan suaminya itu.


Arkhan tidak berkomenntar, dia sebenarnya tidak menyukai jawaban Zalfa, namun dia juga gemas sekali dengan makhluk cantik berperut besar di hadapannya itu.


“Aku mau tidur aja.” Zalfa melepaskan tangannya dari pegangan Arkhan lalu naik ke kasur dan membaringkan tubuh dalam posisi miring.

__ADS_1


Arkhan menatap punggung Zalfa, dia perhatikan rambut wanita itu, bahunya yang naik turun seiring dengan nafasnya. Akhir-akhir ini Arkhan merasa terenyuh setiap kali melihat perut Zalfa semakin membesar. Kemudian muncul banyak pertanyaan dalam benaknya tentang apa saja yang dirasakan wanita saat dalam tubuh seorang wanita dihuni oleh makhluk hidup lainnya? Dan masih banyak pertanyaan dalam benaknya seputar janin dalam kandungan. Arkhan kemudian duduk di sisi ranjang dalam posisi membelakangi Zalfa, namun kepalanya menoleh ke arah istrinya yang sudah terpejam. Nafas Zalfa terdengar keras dan teratur, menandakan Zalfa sudah tertidur pulas sekali.


Arkhan menarik selimut dan menyelimuti tubuh Zalfa. Namun dalam keadaan tertidur pulas, Zalfa mengibaskan selimut dan membuangnya supaya menjauh dari tubuhnya.


Oh… Arkhan lupa jika Zalfa sedang merasa gerah.


Arkhan kemudian membaringkan tubuh di sisi Zalfa. Selang beberapa menit, Arkha merasakan kulit tubuhnya meremang, suhu ruangan terasa dingin. Dia sudah memegang remot Ac ingin mengubah suhu, namun urung melihat Zalfa yang tampak berkeringat. Dia kembali meletakkan remot, kemudian menyelimuti tubuhnya sendiri sampai ke batas dada.


BERSAMBUNG


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2