SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
95.


__ADS_3

“Kamu sudah menyiapkan jilbab ini di kursi,” ucap Arkhan membuat Zalfa semakin salah tingkah.


Ya benar, Zalfa sudah menyiapkan jilbabnya itu di kursi tadi. Ya ampun, ia sampai jadi gugup gara-gara dilihatin oleh Arkhan. Ia kemudian mendekati Arkhan dan mengambil jilbab yang dipegang oleh pria itu dan segera mengenakannya. Seharusnya ia biasa saja saat dilihat Arkhan dalam keadaan tidak berjilbab, namun kenyataannya ia merasa canggung. Mungkin hal itu terjadi karena belum terbiasa. Sejak berusia tiga tahu, Zalfa sudah memakai jilbab. Tentu saja ia merasa sangat malu jika rambutnya dilihat laki-laki. Seperti yang terjadi sekarang. Nalurinya berkata, bahwa itu adalah aurat.


“Kamu masih di sini?” tanya Zalfa menatap Arkhan yang masih berdiri terpaku dan tidak melakukan apa-apa di sana.


Mendengar kalimat Zalfa, Arkhan kemudian mengambil ponselnya yang tertinggal di meja kemudian melenggang menuju pintu.


“Aku akan pergi ke kafe,” seru Zalfa membuat langkah Arkhan terhenti. “Aku harus mengurus kafeku.”


Arkhan menoleh. Tatapannya menyipit karena heran, sebelum menikah Zalfa telah menggaungkan bahwa pernikahannya dengan Arkhan hanyalah sebatas untuk menyelamatkan aib andai saja ada benih yang hidup di rahimnya, dan pernikahan mereka bukanlah pernikahan yang sesungguhnya. Mereka tidak perlu berperilaku seperti suami istri yang sebenarnya. Tapi kenyataannya Zalfa kini justru minta ijin saat akan bepergian.

__ADS_1


“Kau minta ijin padaku?” Tanya Arkhan.


Zalfa menatap Arkhan dan terdiam. Ia sadar Arkhan sedang merasa heran karena akhirnya ia melanggar peraturannya sendiri, seakan-akan dia sudah bisa menganggap Arkhan sebagai suami yang sesungguhnya. Meski pada kenyataannya, tidak ada pernikahan yang main-main. Jika ijab qobul sudah sah, maka tidak ada yang bisa menganggap ikatan pernikahan hanyalah sebatas mainan.


“Mm… Iya. Aku kan tadi bertanya padamu.” Zalfa agak gugup. “Apa kamu mengijinkanku? Kafe adalah duniaku, keseharianku terbiasa di sana. Aku emndapatkan banyak hiburan di sana. Pendapatanku dulu juga di sana. Aku nggak bisa meninggalkan kafeku.”


Arkhan terdiam sesaat begitu mendengar penjelasan Zalfa yang panjang lebar. Wanita itu bahkan menguraikan banyak kalimat demi mengharap ijin dari Arkhan. “Ini artinya kamu udah menganggapku sebagai suamimu?”


Bukan jawaban, namun Arkhan sudah memahami makna dari kalimat yang dilontarkan Zalfa. Senyum tipis Arkhan kembali mengembang, senyuman kecil yang tidak terlihat di mata Zalfa. “Ya, pergilah. Aku nggak akan melarangmu.” Arkhan kemudian berbalik dan mendekati Zalfa. “Ini ada kartu ATM dan kartu kredit, ambilah! Gunakan untuk keperluanmu. Aku nggak membatasi pengeluaranmu. Terserah kamu mau pakai berapapun yang kamu mau.”


“Aku sudah pernah bahas ini. Aku bisa menafkahi hidupku sendiri. Maaf, bukannya aku menolak. Tapi…”

__ADS_1


“Ambilah!” potong Arkhan sembari meletakkan dua kartu itu ke telapak tangan Zalfa. “Bukankah itu tugasku sebagai suami?”


Zalfa terdiam menatap dua kartu di telapak tangannya.


“Meski demikian, aku nggak melarang kegiatanmu. Jika kamu lebih suka mengurus kafe, maka kerjakanlah. Kamu bebas melakukan apapun. Hidupmu yang dulu, nggak akan berubah setelah menikah dneganku, termasuk kebebasanmu.”


Arkhan kemudian balik badan dan melangkah pergi.


Zalfa masih terpaku menatap kartu di tangannya. Kemudian ia menyambar tas dan memasukkan kartu tersebut ke tasnya. Dengan langkah lebar, ia keluar kamar mengejar Arkhan.


TBC

__ADS_1


Klik VOTE setiap Chapter yaaaa


__ADS_2