SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
152.


__ADS_3

“Selamat pagi!” sapa salah seorang berseragam dengan tegas.


“Pagi,” lirih Zalfa seperti bisikan. Ia merasa sangat takut sekali melihat seragam itu. Mendadak saja seragam itu seperti senjata api yang ditodongkan di kepalanya, menakutkan. Ya, Zalfa takut mereka akan mencari Arkhan dan menggelandang suaminya itu karena Arkhan sekarang sudah berstatus tersangka. Mungkinkah? “Ada apa, Pak?” Tanya Zalfa dengan wajah memucat, telapak tangan dingin dan suara gemetar.


“Benarkah ini rumah Saudara Yoseph?”


Zalfa tercekat mendengar pria itu menyebut nama asli Arkhan. Tanpa sadar kepalanya mengangguk meski terlihat ragu-ragu.


Kemudian polisi tersebut menyebutkan maksud kedatangannya yang tak lain untuk meminta keterangan. Dan saat Zalfa menanyakan keterangan apa yang diminta, mereka tidak menjelaskan secara terang.


Zalfa sangat takut jika Arkhan sungguh tertangkap polisi. Ia tidak tahu apakah perbuatannya menyembunyikan kejahatan suaminya itu salah atau tidak, namun ia hanya ingin melindungi suaminya, dan berharap suaminya akan menjadi manusia yang lebih baik tanpa harus merasakan dinginnya sel yang membekukan. Itu saja. Zalfa ingat, Reza pernah bilang kalau pebuatan gelapnya sudah tercium oleh kepolisian. Semoga Arkhan tidak apa-apa.


Polisi itu menanyakan kapan Arkhan biasanya ada di rumah dan Zalfa tidak bisa memberi kepastian waktu yang tepat, sebab ia memang tidak tahu kapan kepastian Arkhan pulang dan menetap di rumah. Pria itu terbiasa pulang dan pergi sesuka hatinya.


Setelah mendengar penjelasan Zalfa, kedua polisi itu mengaku akan kembali beberapa saat lagi.


Disaat dua polisi itu balik badan dan berjalan menuruni teras, mereka berpapasan dengan mobil Arkhan yang baru saja memasuki halaman rumah. Pintu mobil terbuka dan Arkhan menyembul keluar.


Oh..

__ADS_1


Tuhan, semoga Arkhan tidak akan terseret. Jantung Zalfa deg-degan dan tubuhnya mendadak panas dingin. Sungguh pun Arkhan yang menghadapi masalah, namun justru Zalfa yang merasa seperti demam akibat was-was. Namun ia yakin, Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik dalam kehidupannya. Meski pahit saat menjalaninya.


Arkhan dengan sangat tenang berjalan mendekat dan menghadap polisi tersebut. Dia bahkan tidak sedikit pun tampak cemas. Dia terlibat pembicaraan serius dengan polisi tersebut dan kemudian Arkhan mengajak dua polisi itu masuk ke rumah dan kedua polisi itu pun menyetujui, mereka mengikuti Arkhan naik ke teras.


Arkhan sempat berhenti sebentar saat bertemu dengan Zalfa yang masih berdiri di pintu. Ia menatap wanita itu kemudian berkata, “Tolong beri tahu Mbak Yen, suruh dia bikin air minum untuk tamu.”


Tatapan mata Zalfa yang cemas tak berubah meski melihat sikap tenang Arkhan.


“Biar aku aja yang bikin,” jawab Zalfa kemudian balik badan dan masuk ke ruangan lain. Ia tidak menuju ke dapur, melainkan menyandarkan punggung di balik dinding dan mendengarkan perbincangan antara Arkhan dan dua polisi tersebut.


Polisi itu memperkenalkan diri, kemudian menyebutkan maksud kedatangannya yang ingin memintai keterangan mengenai Reza, yaitu pria muda yang menurut rekaman cctv terlihat pernah bersama dengan Arkhan saat berada di hotel. Arkhan dengan tenang menjawab semua pertanyaan polisi. Dia mengatakan bahwa dirinya memang mengenal Reza sebagai sosok pria muda yang baik. Arkhan juga mengatakan kalau dia tidak begitu dekat dengan Reza, mereka kenal hanya sebagai teman karena pernah saling menolong. Itu saja.


Zalfa buru-buru ke dapur dan membuatkan air minum tiga gelas. Kemudian diletakkan di atas nampan dan membawanya ke ruangan utama.


Zalfa melempar senyum ramah pada polisi dan meletakkan minuman ke meja.


Sejurus pandangan tertuju ke wajah Zalfa.


Perasaan Zalfa sampai kini masih cemas hingga tangannya pun gemetar saat meletakkan gelas ke meja. Sampai akhirnya gerakan tangannya yang gemetaran berujung buruk karena gelas terakhir meleset dari tangannya hingga miring dan isi gelasnya pun tumpah ke meja.

__ADS_1


“Ups, maaf!” Zalfa sontak panik sendiri.


Arkhan menegakkan posisi duduknya. Tangannya dnegan kilat mengambil tisu untuk menahan air kopi di permukaan meja supaya tidak meleleh ke lantai. Sementara satu tangan lainnya yang juga memegangi tisu pun meraih tangan Zalfa dan mengelap jari-jari wanita itu yang tersiram air kopi panas. Perlahan tubuhnya bangkit berdiri dan meneruskan kegiatannya mengelap jemari Zalfa.


“Maaf, airnya tumpah!” ucap Arkhan pada tamunya.


“Tidak apa-apa, bukan masalah,” jawab polisi tersebut.


“Ini istriku. Zalfa.” Lengan kokoh Arkhan menyentuh pinggang Zalfa dan menariknya hingga tubuh Zalfa terduduk di sofa.


Dua polisi tersebut menganggukkan kepala santun pada Zalfa.


“Kami akan kembali saat membutuhkan keterangan lebih lanjut, dan mohon kerja samanya saat Anda diminta ke kantor untuk perihal yang sama,” ujar polisi itu kemudian meneguk kopi.


Arkhan mengangguk.


Tak lama kemudian dua polisi tersebut berpamitan dan pergi.


TBC

__ADS_1


__ADS_2