SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
114.


__ADS_3

Astaga, dengan hanya melilitkan handuk ke tubuhnya, Zalfa masih merasa risih karena aurat yang tertutup hanya bagian tertentu saja, mulai dada hingga atas lutut. Bukankah Zalfa dan Arkhan adalah sepasang suami istri? Bukankah mereka sudah bertemu dalam keadaan sangat intim? Tapi entah kenapa Zalfa masih merasa malu saat auratnya terlihat oleh Arkhan. Bahkan tangannya maju mundur saat akan keluar kamar mandi.


Zalfa menutupu pundaknya dengan rambut basahnya yang tergerai panjang. Kemudian ia nekat keluar. Manik matanya melirik ke arah Arkhan, pria itu tengah berbaring di tepi ranjang dengan saat kaki menjuntai ke bawah. Zalfa merasa risih merasakan pandangan Arkhan yang mengikuti gerak tubuhnya.


“Mandilah!” pinta Zalfa karena merasa tidak nyaman dengan tatapan Arkhan, dia jelas akan mengenakan pakaian dan Arkhan masih memandanginya.


“Kenapa menyuruhku mandi?”


“Kamu harus mandi wajib.”


“Ya ya, aku tahu itu. kupikir kamu menyuruhku mandi karena ingin mengajakku keluar.”


“Mm... Boleh juga.”


“Kamu mau kemana biar kuanterin.” Arkhan bangkit bangun dan meraih handuk.


“Ke mol, cari jilbab, sajadah, dan mukena,” jawab Zalfa bersemangat. Entah kenapa ia menanggapi ucapan Arkhan dengan positif.


“Hm. Kita keluar setelah ini.” Arkhan melenggang ke kamar mandi.

__ADS_1


Usai mandi dan mengenakan pakaian rapi, Arkhan mendekati Zalfa yang duduk di sisi ranjang. Wanita itu menghabiskan waktu dengan membaca Al Qur’an saat menunggu Arkhan mandi hingga pria itu selesai. Suara Zalfa begitu merdu dan terdengar syahdu di telinga. Arkhan duduk di sisi Zalfa, membiarkan wanita itu menyelesaikan bacaannya.


Zalfa menoleh setelah menyudahi bacaannya. “Kita pergi sekarang?”


Arkhan tidak langsung menjawab, ia menatap senyuman yang terurai di wajah istrinya. Sungguh agung ciptaan yang Maha Agung. Wajah ciptaan Tuhan itu begitu sempurna. “Ya. Sebelumnya ikutlah denganku dulu!” Arkhan melenggang menuju ke sebuah pintu yang ada di kamar itu.


Zalfa mencium mushaf dengan takzim kemudian meletakkannya ke rak. Ia mengikuti Arkhan memasuki sebuah ruangan yang cukup luas. Pandangan Zalfa mengedar ke seisi ruangan yang diterangi lampu-lampu, ruangan dipenuhi oleh sejumlah rak setinggi keningnya, yang semua isinya adalah jam tangan dari berbagai jenis dan merek, mayoritas jam elit. Entah berapa jumlah jam tangan yang terpajang di rak tersebut, seluruh rak telah diisi penuh oleh jam tangan. Hanya ada satu rak yang bagian atasnya masih kosong.


Ya ampun, andai saja jam mewah itu dijual dan hasilnya dibagikan kepada anak yatim, atau orang-orang yang kurang beruntung, entah berapa jumlah yang didapatkan per kepala. Zalfa bukannya takjub atau bangga melihat koleksi jam tangan yang dimiliki Arkhan, namun ia justru merasa sedih karena barang-barang itu seakan-akan hanya sia-sia.


“Ini semua milikmu?” Tanya Zalfa sembari mengitari setiap sisi rak.


Zalfa mengambil salah satu yang memiliki warna senada dengan kemeja yang dikenakan Arkhan.


“Kenapa kamu harus mengoleksi barang-barang mewah begini?” tanya Zalfa sembari memasang jam tangan di pergelangan tangan Arkhan yang ditumbuhi bulu halus.


“Hobi.”


“Hanya sekedar hobi?”

__ADS_1


“Ya.”


“Satu jam tangan harganya berapa?”


Arkhan menaikkan alis, menatap Zalfa bingung. Ada apa dengan harga jam tangannya?


“Beraneka ragam,” jawab Arkhan. “Kenapa?”


“Jam yang paling mahal berapa harganya?”


“Seratus tujuh puluh juta. Kenapa?”


Jantung Zalfa seperti disambar petir medengar harga jam tangan yang nilainya sampai ratusan juta.


Arkhan mengernyit menatap ekspresi Zalfa yang seperti shock.


BERSAMBUNG


Silahkan dukung cerita ini dengan memberi vote 😘

__ADS_1


__ADS_2