
“Kau tahu kenapa aku memilihmu dari pada pekerjaan yang telah kugeluti bertahun-tahun lamanya?” tanya Arkhan.
Zalfa ingin menjawab karena Arkhan mencintainya. Ah, tapi ia tidak mau ke Ge Er-an. Takutnya malah diketawain Arkhan. Jadi lebih baik ia diam saja.
“Karena pada kenyataannya hidupku benar-benar berubah setelah kau ada. Aku pun tidak bisa mengerti dengan keadaanku sendiri, tapi inilah yang aku alami. Kupikir kau bisa menjelaskan apa yang sedang kurasakan sekarang,” terang Arkhan.
“Bagaimana aku bisa mengerti dengan apa yang kamu rasakan? Kamulah yang mengalami rasa itu, tentu kamu yang bisa merasakannya.”
Arkhan tidak lagi bicara. Ia mengangkat dagu Zalfa dengan jarinya lalu mendaratkan bibirnya ke bibir istrinya.
Zalfa mrasakan dentuman jantungnya menguat saat kaki Arkhan mendorong kakinya hingga ia terpaksa berjalan mundur dan tubuhnya terhempas di kasur. Masih saja Zalfa merasa canggung disaat begini. Ia memalingkan wajah saat Arkhan menurunkan celananya. Mukanya memerah seketika.
“Ini masih pagi, Arkhan!” Zalfa menahan dada Arkhan di atasnya dengan kedua telapak tangannya.
“Iya, aku tahu. Lalu?”
Zalfa menggeleng.
Arkhan menyingkirkan kedua tangan Zalfa yang menahan dadanya. “Jangan melarangku!”
Zalfa tidak menjawab lagi. ia memejamkan mata merasakan tangan Arkhan membuka pakaiannya. namun baru beberapa detik terpejam, kelopak matanya kembali terbuka saat terdengar suara gaduh dari luar kamar.
__ADS_1
“Kak, Arkhan! Cepat keluar!” teriak Elia sambil menggedor-gedor pintu.
Arkhan dan Zalfa bertukar pandang. Arkhan seperti tidak peduli dengan kegaduhan yang diciptakan oleh adiknya itu. Terbukti pria itu masih terus melancarkan aksinya di atas tubuh istrinya.
“Arkhan! Hentikan! Itu Elia!” Zalfa berusaha memundurkan kepala Arkhan yang berada di lehernya.
“Biarkan saja!”
“Kak, Arkhan! Cepat keluar! ayo, keluar! apa aku yang akan masuk ke dalam?” teriak Elia tak sabaran.
“Bagaimana bisa kamu bilang biarkan saja? Aku nggak mengunci pintu saat terakhir kali masuk kamar,” ucap Zalfa dengan wajah memucat.
“Ayo temui dia!” ucap Zalfa.
Arkhan bangkit bangun dan buru-buru mengenakan celananya dan berjalan menuju pintu sambil merutuk kesal. “Sial! Mengganggu saja bocah itu!”
Pintu terbuka sebelum Arkhan sempat menjangkau handle pintu. Elia mendorong pintu dari luar. Bocah itu melirik ke dalam, menatap Zalfa yang kini dalam posisi duduk di sisi ranjang dan pakaiannya sudah rapi setelah ia berkemas dalam hitungan detik.
“Aku juara melukis! Aku juara!” pekik Elia histeris sambil melompat-lompat.
Zalfa tersenyum, turut senang mendengarnya.
__ADS_1
“Hanya itu?” tanya Arkhan dengan wajah sengit.
“Tentu saja. Ini kabar gembira, bukan? Aku hebat bukan? Aku segala-galanya. Pengumuman kemenangan ini luar biasa. Kita perlu merayakannya.”
“Terserah kau saja. Pergilah jika kau sudah selesai!” Arkhan menorong bahu Elia hingga tubuh mungil itu mundur dan menjauh dari pintu.
Brak! Arkhan menutup pintu dan menguncinya.
Elia terkejut menatap pintu yang tertutup di depan hidungnya.
Sementara Zalfa tak kalah kaget, ia menatap Arkhan dengan tatapan heran. “Kenapa kamu lakukan itu pada Elia? Dia sedang merasa sangat berbahagia dan kamu nggak mempedulikannya?”
“Kita urus dia nanti saja.” Arkhan kembali mendekati ranjang, ia melanjutkan kegiatannya, membuat Zalfa yang protes akan sikap Arkhan pun membungkam dan tak berdaya. Sentuhan Arkhan kerap kali membuatnya lumpuh seketika.
Di luar, Elia berteriak-teriak kesal sambil menendang-nendang pintu.
“Hei, apa ini caramu memberi selamat kepada adikmu? Kau benar-benar jahat dan nggak berguna,” seru Elia. “Kau bukan manusia. Kau robot berhati kejam. Ini semua karena pengaruh wanita sihir itu kan? Dia yang membuatku jauh darimu. Kau sekarang nggak mau pedulikan aku. Aku benci kalian berdua. Awas kalian, akan kuhancurkan barang-barang milik kalian. Lihat aja nanti!
***
TBC
__ADS_1