
Bu Fatima dan Pak Ibrahim menyambut Enek dengan senang.
“Tentu saja Enek diperbolehkan tinggal di rumah,” ujar Pak Ibrahim tanpa berpikir panjang. Pasti Enek memiliki peranan besar selama Faisal bersamanya, sampai-sampai Faisal mengajaknya dan memberikan kehidupan yang layak.
Pandangan Faisal mengedar ke sekitar. Ada sesuatu yang hilang.
“Zalfa mana?” tanyanya tanpa tahu siapa yang ditanya.
Pertanyaan Faisal membuat semuanya ikut mencari-cari. Zalfa pergi.
Ekspresi wajah Bu Fatima berubah tidak bersahabat begitu nama Zalfa disebut-sebut ditengah kehangatan yang baru saja tercipta.
Mereka memutuskan untuk pulang.
Faisal menghempaskan tubuh di ranjang. Rambutnya agak basah karena baru saja keramas. Dengan mengenakan kemeja biru dipadu celana hitam dan aroma sabun yang semerbak, ia terlihat lebih segar. Matanya terpejam. Kembali terekam di kepalanya kejadian yang hampir merenggut nyawanya waktu itu.
Malam itu, Faisal sedang menyetir mobil, seorang lelaki bernama Doni di sisinya. Faisal menyambar ponsel dan memasang earphone ke telinga. Menelepon Zalfa. Ia dan gadisnya itu mengobrol, namun kata-kata Faisal terputus saat sambungan dari seberang mati. “Kok, dimatiin?” lirih Faisal dan melepas earphone dari telinga.
__ADS_1
Ya sudahlah, Faisal akan menelepon lagi nanti karena sekarang ia harus fokus mengatur mobil yang kini tengah memasuki kapal laut. Ia dan Doni keluar setelah mobil terparkir manis, kemudian berjalan menuju ke atas melewati anak tangga.
Perlahan kapal bergerak meninggalkan pelabuhan.
Faisal dan Doni berjalan menyusuri lorong. Lalu memasuki ruangan luas, mereka duduk di salah satu kursi diantara kursi yang berderet rapi, kursi-kursi di depan sudah diisi oleh banyak orang. Suasana di tempat itu riuh, dipadati para keluarga yang sibuk mengurus anak-anak. Hampir tidak ada yang bisa didengar. Anak-anak menangis, para ibu-ibu mengobrol, Bapak-bapak memarahi anak yang menangis. Entahlah... Televisi yang menggantung di depan menayangkan berita tentang sebuah pesawat yang jatuh dan tenggelam di laut.
“Kasian keluarga yang ditinggalkan,” komentar Doni dengan pandangan mengawasi televisi. Meski suara penyiar tidak terdengar dengan jelas akibat keramaian di sekitar, namun gambar yang ditayangkan di layar terlihat memprihatinkan. “Kalau kapal ini yang tenggelam, berapa nyawa yang bakalan melayang?”
“Kamu suka ngawur kalo ngomong,” sahut Faisal.
“Begitu memasuki kapal, langsung terbayang di kepalaku, gimana kalo kapalnya tenggelam? Pasti mati semua.”
“Faisal Faisal, umur itu kan udah diatur sama Tuhan. Kalaupun beneran mati, mana bisa dielak lagi.”
“Aku nggak denger apa yang kamu bilang.”
Doni tertawa. Ia tahu Faisal malas membahas tema seperti yang diperbincangkan. Faisal beranjak meninggalkan kursi dan berjalan keluar ruangan. Doni mengikuti.
__ADS_1
Faisal menikmati angin kencang yang menampar-nampar wajahnya, rambutnya berkibar. Ia dan Doni berdiri di pinggir kapal dengan kedua tangan memegangi pagar. Tubuh mereka terasa bergoyang seiring dengan gerakan kapal di atas gelombang laut. Faisal menatap air bergelombang yang ditinggalkan. Sesaat kepalanya terasa pusing, ia menggeleng sebentar.
“Kamu mabuk laut?” tanya Doni.
Faisal menggeleng.
“Trus kenapa mukamu pucet?” tanya Doni lagi.
Faisal tersenyum.
“Aku tau kamu nggak pernah naik ginian. Yang sering kamu tangkringin kan pesawat terbang.”
“Tangkringin? Ayam apa?”
“Ha haaaa….”
Faisal geleng-geleng kepala. Disaat ia sedang menikmati gelombang laut yang semakin lama membuat kepalanya berdenyut, tiba-tiba kapal berguncang, membuat seluruh isi kapal bergoyang-goyang, barang-barang berjatuhan ke lantai diiringi jeritan di segala penjuru kapal. Faisal memegangi pagar dengan genggaman kuat.
__ADS_1
TBC