SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
208.


__ADS_3

Air mata Zalfa masih menetes. “Jujur, aku nggak ingin jauh darimu, sayang.”


Arkhan baru kali ini mendengar Zalfa memanggilnya ‘sayang’. Ia senang sekali mendengarnya, bibirnya tersenyum tipis setelahnya.


“Tapi kenyataannya, kita harus berjauhan,” balas Arkhan dengan tatapan yang menghunus ke manik mata Zalfa.


Kalimat itu kembali membuat hati Zalfa mencelos. Ia tidak sanggup mendengarnya.


“Jangan katakan itu, mas Arkhan! Aku nggak mau mendengarnya.”


“Kamu nggak bisa memungkiri kenyataan.” Pria itu tampak sangat tenang saat mengatakannya. Seakan-akan Arkhan tidak terpukul atas kejadian yang menimpanya itu. Justru Zalfalah yang sekarang merasa terpukul.


Ah, Arkhan benar-benar membuat Zalfa merasa semakin sedih.


“Aku memang harus menjalani ini semua. Harus. Karena ini adalah ujian untukku, juga untukmu,” ucap Zalfa lirih. “Aku hanya nggak kuat jika harus berpisah darimu. Meski begitu, akan ada hikmah di balik semua ini. Aku yakin Tuhan sudah merencakan ini dengan sangat sempurna.” Zalfa berusaha menguatkan diri dan menghibur dirinya sendiri.


“Aku hanya minta satu hal darimu, hentikan tangisanmu! Jangan pernah merasa sedih dengan perpisahan ini. Kalau pun kau ingin meninggalkanku, dan mungkin kembali pada kekasih lamamu, aku tidak akan melarangmu, Zalfa.”

__ADS_1


“Mas Arkhan, kenapa kamu bilang begitu? Tega kamu hancurkan aku dengan kata-katamu itu? apa kamu nggak tahu sesakit apa saat aku mendengarmu mengatakan supaya aku hidup bersama laki-laki lain? Aku merasa kalau kamu nggak mengharapkanku.” Zalfa mundur selangkah.


“Bukan itu maksudku, Zalfa. Sebab kau pantas mendapatkan yang lebih baik dariku.”


“Dan kamu anggap Faisal lebih baik darimu?” Mata Zalfa nanar.


“Saat ini tidak ada yang lebih baik dari pria yang ditahan karena kejahatannya.”


“Tapi aku nggak berpikir begitu. Setiap manusia memiliki baik dan buruk dari sisi hidupnya masing-masing. Kamu masih memiliki waktu untuk memperbaiki diri. Dekatkanlah hatimu pada Tuhan. Mas Arkhan, aku mencintaimu, tulus.”


“Iya. Tentu. Aku akan menunggumu, sampai kapan pun aku akan menunggumu. Aku mencintaimu, Mas Arkhan. Aku sangat mencintaimu. Aku akan setia padamu. Percayalah!” Zalfa seperti tidak bosan mengungkap kalimat yang sama. Entah berapa kali dia mengatakan cinta pada Arkhan.


“Di saat kondisiku begini?”


“Aku nggak peduli. Hanya kamu laki-laki yang aku cintai.”


Arkhan akhirnya mengangguk. “Kita hanya dipisahkan oleh jarak dan tempat, suatu saat aku akan kembali padamu. Kalau kau bilang bersedia menungguku, artinya kamu kuat menjalani ini. Jadi, jangan menangis lagi.” Arkhan mengulas senyum tipis membuat Zalfa membalas dengan senyum getir.

__ADS_1


Zalfa tidak menyangka jika akhirnya kata-kata cinta dan keromantisan sikapnya justru muncul di saat begini. Selama ini ia tidak pernah bisa bersikap seromantis dan sehangat ini terhadap Arkhan, namun situasi seperti sekarang memaksanya untuk menunjukkan sikap yang selama ini dia pendam.


Perbincangan antara Zalfa dan Arkhan terhenti ketika seorang berseragam muncul dan memberitahu kalau waktu membesuk sudah habis.


Zalfa mengangguk sopan pada pria berseragam tersebut. Pandangannya kembali pada Arkhan. Ia meraih kedua tangan Arkhan, lalu mengangkatnya dan mendekatkan ke mulutnya. Bibirnya kemudian mendarat di punggung tangan suaminya sangat lama. Tetes demi tetes air mata membasahi punggung tangan Arkhan.


“Laaillaha ilallah… Aku mencintaimu, Mas Arkhan,” lirih Zalfa.


Arkhan meraih kepala Zalfa dan mendaratkan kecupan di kening istrinya.


Bersambung....


Love,


Emma Shu


Buat yg belum follow instagramku silahkan follow ig aku @emmashu90

__ADS_1


__ADS_2