SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
256.


__ADS_3

Sebelas bulan telah berlalu setelah perekrutan Arkhan dengan pihak kepolisian. Sudah ada puluhan jaringan peretasan yang ditangkap atas kerja sama itu. dan Mario... Apa kabar pria itu? dia dipastikan telah mendekam dalam tahanan setelah sehari yang lalu dilakukan pembekukan di sebuah rumah kontrakan. Dan pria yang mengaku bernama Mario itu sempat melakukan perlawanan namun berhasil dibekuk setelah terjadi aksi kejar-kejaran yang berlangsung dramatis.


Hari ini tentu saja menjadi hari paling membahagiakan bagi Zalfa karena suaminya telah berhasil menjalankan tugas dengan baik meski prosesnya cukup lama. Seperti belut, demikian juga Mario yang sangat pintar berkelit. Pemberitaan mengenai tertangkapnya Mario menjadi kabar terbaik untuk Zalfa.


Suatu pagi, Zalfa baru saja selesai mandi dan dia terkejut melihat Arkhan sudah tampak sangat rapi mengenakan pakaian khas Arkhan. Bukankah tadi Arkhan masih menelungkup di kasur saat Zalfa masuk ke akmar mandi? Lalu sekarang kenapa sudah setampan itu? wangi lagi? dia seperti disulap saja.


“Kamu kok udah mandi? Tadi masih tidur kan?” Zalfa menyisir rambutnya menghadap Arkhan, membelakangi cermin.


“Iya, aku mandi di kamar mandi belakang.”


“Tumben? Apa ada kerjaan?”


Arkhan tersenyum. Dia seperti menunggu sampai Zalfa selesai dengan pekerjaannya menyisir rambut, mengikatnya kemudian memasang jilbab.


Arkhan kemudian menarik lengan Zalfa keluar kamar.

__ADS_1


“E e eeh... Ini aku mau dibawa ke mana?” Zalfa pasrah saat harus terseret keluar. “Mas Arkhan, mau kemana ini?”


Arkhan tidak menjawab. Dia hanya menoleh sekilas saja.


“Arkhan!” panggil Maria saat melihat putranya itu melintas bersama Zalfa.


Arkhan menghentikan langkahnya, menoleh menatap Maria. “Ya?”


Maria melangkah mendekati putranya, sekilas netranya menatap wajah Zalfa. “Kau mau kemana?”


“Apakah aku mengganggumu?”


“Tidak. Katakan saja! Mama mau bicara apa?”


Maria menghela nafas sebentar. “Arkhan, kau tidak sedang menunda momongan, kan?”

__ADS_1


Manik mata Arkhan berputar. “Tidak. Sama sekali tidak. Kami bahkan juga sudah lama menunggu, tapi belum ada hasil.” Arkhan menarik nafas panjang, setelah dulu dia sempat memiliki harapan setinggi-tingginya akan seorang bayi, tentu kini dia juga sudah sangat merindukan situasi itu. bahkan awalnya Arkhan sama sekali tidak pernah terpikir kalau sosok sepertinya akan bisa menjadi seorang ayah. Namun kenyataan sudah menunjukkan kalau dia memang sudah seharusnya memiliki anak dan kemudian menjadi seorang ayah. Saat tahu dulu Zalfa hamil, ada rasa aneh yang bersemayam dalam benaknya, antara rasa tak yakin, haru, bahagia, dan entah rasa apa lagi berbaur menjadi satu, mengubah perasaannya menjadi berbeda dan seperti memiliki harapan lain. Dan saat calon anaknya hilang, hatinya hancur dan perpaduan rasa dalam perasaannya pun ambyar, dia baru merasakan bagaimana rasanya kehilangan.


Zalfa tersenyum tipis. “Mama, aku dan Mas Arkhan juga udah membicarakan hal ini. Kami pun udah beberapa kali ke dokter, tapi kondisiku yang pernah keguguran menjadi salah satu penyebab supaya kami harus bersabar. Nggak ada masalah apa pun kok pada kondisi kesehatan kami berdua, hanya perlu berikhtiar dan bersabar aja.”


Maria tersenyum dan mengangguk. “Aku sudah tua, dan entah kenapa aku merasa ingin kembali memiliki harapan untuk mempunyai cucu setelah aku sempat kehilangan harapan itu.”


“Mama tidak perlu mencemaskan itu, aku sudah kerjakan prosesnya setiap saat. Kuharap usahaku juga akan berhasil.” Arkhan berhenti bicara saat merasakan cubitan kuat di pinggangnya. Dia melirik jemari Zalfa yang berada di pinggangnya. Jemari Zalfa memang mungil, tapi kalau nyubit lumayan. “Ya sudah, aku dan Zalfa pergi dulu.”


“Ya.” Maria mengangguk.


TBC


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2