
Arkhan memasuki kamar. Ia menutup pintu dengan satu kaki, kemudian punggungnya menyandar di pintu yang baru saja dia tutup, tangannya terlipat di dada. Dia tidak melakukan apapun, hanya mengamati objek yang pertama kali menjadi pemandangannya, tak lain Zalfa yang saat itu tengah mengganti pakaian. Setiap gerak tubuh wanita itu tidak lepas dari pengawasan matanya. Mulai dari tangan Zalfa yang melepas jilbab, membuka resleting baju bagian depan, lalu gamisnya meluncur ke bawah dan dilepas, sampai pada saat satu per satu kaki wanita itu masuk ke celana tidur yang baru saja dia ambil dari lemari, lalu memasang bajunya, kedua tangannya masuk ke lengan baju dan menurunkan baju bawah sampai ke perut.
Merasa ada yang mengawasi, Zalfa mengangkat wajah dan terkejut melihat Arkhan yang entah sejak kapan sudah menyandar di pintu dengan sorot mata terus mengawasinya. Mendadak Zalfa jadi salah tingkah, artinya Arkhan memperhatikannya sejak saat melepas pakaian sampai mengganti pakaian yang baru. O la laa… Bukan perhatian Arkhan yang tertuju kepada Zalfa yang membuat wanita itu menjadi risih, melainkan cara Arkhan menatap, kesannya mengandung unsur yang berbeda.
“Arkhan, kamu ngapain melihatku kayak gitu?” Zalfa mengernyit membalas tatapan Arkhan yang sampai kini masih tidak lepas dari wajahnya.
“Menurutmu?”
“Iya, aneh aja. Jangan negliatin aku kayak gitu.”
Arkhan diam saja, masih setia pada posisinya semula.
Zalfa menatap penampilannya sendiri. Baju tidur dengan lengan panjang dan celana yang juga panjang. Rambutnya yang sepanjang pinggang diikat satu.
“Apa kamu masih mau menatapku seperti itu?” protes Zalfa melihat tatapan Arkhan yang lebih dari sekedar intens. Entah pria itu sedang mengagumi kecantikannya, rambutnya yang berkilau indah, atau apa, entahlah.
“Salah?”
__ADS_1
“Iya. Lebih baik kamu tidur.”
“Aku belum mengantuk.”
“Kalau begitu berhentilah ngeliatin aku dengan tatapan begitu.”
“Lalu aku harus apa?”
“Terserah kamu. Berbaring, kek. Nonton TV, kek. Atau apalah gitu. Jangan aku yang menjadi objek pemandangamu terus-terusan.” Bagaimana mungkin Zalfa tidak salah tingkah diperhatikan Arkhan dengan tatapan sedemikian rupa? Bahkan tatapan pria itu penuh pengawasan dan tidak terputus.
Arkhan diam saja tanpa mnegalihkan pandangannya.
Arkhan kini hanya bisa melihat kepala bagian belakang Zalfa saja, sebab posisi wanita itu membelakanginya.
Zalfa mempererat pejaman matanya saat ia merasakan ayunan kasur di belakangnya, pertanda Arkhan duduk di sana. Apa yang akan dilakukan pria itu? setelah tadi dia memandangi Zalfa dengan tatapan seperti memburu, kini dia duduk di tempat yang bukan menjadi bagiannya. Seharusnya Arkhan memutari ranjang dan duduk di seberang yang berbatasakan bantal guling, tapi pria itu malah duduk di belakang Zalfa.
Zalfa membuka mata merasakan sentuhan di pinggangnya.
__ADS_1
“Zalfa, jangan tidur dulu!”
“Hm? Apa?” Zalfa pura-pura bod*h.
Arkhan menyibakkan selimut yang menutup tubuh Zalfa dan menurunkannya sampai ke pinggang. “Apa kamu mengantuk?”
“Iya.”
“Aku belum. Temani aku dulu.”
Zalfa menoleh ke arah Arkhan meski tubuhnya masih berada di posisi semula. “Ya, apa yang harus kulakukan?”
Arkhan menatap wajah cantik istrinya, tak bosan dia menikmati kecantikan itu.
“Aku bertanya padamu, kenapa malah diam?” protes Zalfa.
“Kamu belum pernah merasakan pijitanku bukan?” Arkhan tidak peduli dengan protesan Zalfa, dia mengalihkan pembicaraan. Tangannya bergerak mengelus punggung Zalfa, kemudian ia mulai menggerakkan tangannya itu dengan gerakan memijit ringan pada area pinggang Zalfa.
__ADS_1
TBC
KLIK LIKE DI SETIAP PART YAAAK