
Begitu kata Mom keluar dari bibir laki-laki tersebut, sejenak Bastian mencoba menahan sesak di dadanya.
Dia ingin menangis mengeluarkan air matanya, tapi laki-laki tersebut berusaha untuk menahan nya.
Come Bas, laki-laki tidak boleh menangis bukan?.
Batin nya pelan.
Yah laki-laki tidak boleh menangis, meskipun didikan Linda Begitu keras selama ini, kini dia baru sadar apa maksud ucapan Linda sejak dia masih kecil.
Lamban laut dia pasti akan tahu soal kenyataan, karena itu Linda berusaha untuk terus membuat karakter nya berubah menjadi kuat dan tidak cengeng, Karena pada akhirnya ketika dia mendapatkan diri mengetahui soal kenyataan yang terjadi seperti hari ini, dia tidak harus menangis meraung-raung menyalahkan nasib atas kekecewaan nya selama ini.
Laki-laki itu berusaha untuk mendongakkan kepalanya sejenak, menatap atap plafon rumah sakit untuk beberapa waktu.
Pada akhirnya laki-laki tersebut langsung menghela nafas nya, dia langsung menatap kembali kearah Winda untuk beberapa waktu, menelisik wajah pucat tersebut untuk waktu yang cukup lama.
"Ini pertemuan pertama kita"
__ADS_1
Kini laki-laki itu bicara,Bastian berusaha untuk memulai percakapan pertama mereka sembari berusaha terus menggenggam erat telapak tangan Winda.
"Aku ini benar-benar anak yang payah bukan, Mom?"
Tanya Bastian lagi kemudian, dia mencoba menjada kalimat nya, berusaha mengambil nafas nya agar dia tidak kembali menangis.
"Seharusnya di usia setua ini aku sudah sering mengunjungi Mommy, kita bicara soal banyak hal tentang masa kini dan masa depan"
Laki-laki itu berusaha untuk tidak meneteskan air matanya, mencoba bicara pada Winda yang masih terlelap nyaman didalam tidur nya itu.
"Bahkan seharusnya Mommy sudah tahu soal gadis yang membuat aku berdebar-debar setiap kali kami bertemu"
"Aku tidak bilang pada Linda soal gadis itu, Mommy tahu? Mommy Linda sangat selektif mencari gadis untuk diriku, bukan kah dia begitu cerewet dan pemilih Mom?"
Ah entahlah rasanya Bastian langsung bisa bicara dengan lancar Begitu saja, seolah-olah dia benar-benar mendapatkan orang yang tepat untuk mengeluarkan seluruh isi hati nya saat ini.
"Daddy Gerald juga tidak kalah pemilih nya, dan dia sangat buruk sekali ketika menjadi seorang daddy, mommy tahu? dia punya segudang aturan untuk ku, bahkan dia benci ketika aku berteman dengan banyak orang"
__ADS_1
Laki-laki itu menghela berat nafasnya.
"Aku mungkin terlalu keras kepala, berfikir Daddy Gerald jahat karena membatasi pergaulan ku, padahal semua dilakukan agar aku tidak keluar dari jalur ku"
Lanjut Bastian lagi.
Laki-laki itu kembali menatap Winda, dia secara perlahan melepas genggaman tangan nya dari Winda, kini laki-laki tersebut menyentuh rambut Winda yang terlihat berantakan.
"Rambut Mommy sama seperti milik Mommy Linda"
Ucap Bastian lagi kemudian, dia mencoba membenahi anak rambut Winda yang berantakan dengan jemari-jemari nya.
"Aku fikir akan cukup kesulitan dalam menyisir nya, aku sering melihat Mommy Linda sering melakukan nya dengan sedikit kesulitan karena rambut nya yang cukup tebal dan panjang"
Sejenak laki-laki tersebut terdiam, setelah membenahi rambut Winda, dia secara perlahan membenahi posisi duduk nya lagi.
"Tidak kah mommy ingin bangun? ada banyak sekali hal-hal yang ingin aku ceritakan pada mommy"
__ADS_1
"termasuk soal bagaimana Paman Gibran dan Henry sudah membuat menderita orang-orang yang menyakiti kita"
Saat Bastian berkata begitu tiba-tiba satu jari Winda terlihat bergerak secara tiba-tiba tanpa Bastian sadari.