
Beberapa hari setelah tuan Oxtone di rawat.
Darrel seketika mengerat kan rahangnya saat dia mendengar apa yang diucapkan oleh mommy nya.
"Apa?"
Bola mata laki-laki tersebut langsung memerah karena marah, bisa dilihat api yang marah memenuhi wajah Darrel saat ini.
Ini dia tahu apa yang terjadi pada daddy nya, laki-laki tua tersebut tumbang karena mengetahui soal kenyataan.
Bukti perselingkuhan Alisa dikirim oleh seseorang, Darrel terlihat meremas yang ada di tangannya sembari dia menatap mommy nya untuk beberapa waktu.
"Itu yang membuat daddy mu cukup terkejut"
Ucap wanita tua itu cepat.
Sejenakkan keheningan terjadi diantara mereka, ibu dan anak tersebut memilih untuk diam dan tidak banyak bicara, mencoba berpikir dalam pemikiran masing-masing hingga akhirnya Darrel berkata.
"Aku tidak terkejut dengan perselingkuhan ini, tapi aku cukup marah karena daddy tahu dan dia harus tumbang hingga masuk ke rumah sakit"
Ucap Darrel kemudian.
Nyonya Oxtone jelas terkejut mendengarkan apa yang diucapkan oleh putranya.
"Apa? Kau sudah tahu?"
Dia bertanya dengan tatapan tidak percaya, sebagai seorang ibu hal tersebut jelas menyakiti hatinya, bagaimana bisa putranya sudah tahu tentang perselingkuhan istrinya sendiri tanpa memberi tahu pada keluarga.
"Berapa lama kamu tahu?"
Wanita itu jelas bertanya dengan rasa penasaran yang tinggi.
"Sejak pertama Alisa datang membawa Gea 5 tahun yang lalu"
Darrel menjawab dengan nada yang begitu enteng.
Bayangkan bagaimana terkejutnya wanita di hadapan laki-laki tersebut, seketika mommy Darrel menutup mulutnya dengan kedua belah tangannya sembari menatap putranya dengan tatapan tidak percaya.
"Kenapa kau tidak pernah membicarakannya pada kami?"
Mommy Darrel jelas marah.
Darrel terlihat diam untuk beberapa waktu kemudian laki-laki tersebut menghela kasar napasnya.
"Bukankah mommy sendiri tahu bagaimana watak daddy?"
Pada akhirnya laki-laki tersebut buka suara.
5 tahun yang menahan semuanya mencoba untuk tidak bicara dan diam, bergelayu tentang keraguan soal putri siapa Gea.
Laki-laki tersebut sengaja tidak pernah membahasnya bersama daddy nya, laki-laki keras kepala tersebut tidak akan pernah mau mendengarkan diri nya, karena dia tahu pada akhirnya percuma saja dia bicara sebab laki-laki tua itu tidak akan pernah mendengarkan ucapannya.
Alisa jelas adalah menantu kesayangannya bagaimana bisa dia meyakinkan daddy nya soal aku perempuan tersebut, ada begitu banyak perselisihan antara dirinya dan daddy nya soal Alisa sejak awal mereka menikah.
Jadi Darrel cukup lelah untuk meyakinkan laki-laki tua itu soal Alisa, meskipun pada akhirnya dia berkoar-koar dan berkata Alisa bukanlah Perempuan yang tepat untuk dirinya, pada akhirnya laki-laki tua itu tidak akan pernah mau mendengarkan dia bahkan mereka akan berdebat dengan sangat panjang seolah-olah dirinyalah yang salah di dalam pernikahan mereka.
Karena itulah dibalik kembaran daring dengan keadaan dia selalu menampilkan ekspresi dingin dan datarnya, mengabaikan Alisa dan seolah-olah mengabaikan Gea di masa lalu.
Padahal respon yang diberikan tersebut karena dia ingin laki-laki tua itu tahu bahwasanya dia memberontak karena keadaan, dia ingin berkata bahwa dia tidak bisa bersama Alyssa dan bertahan dengan perempuan tersebut selama bertahun-tahun, dia ingin berpisah dengan Elisa secepatnya namun tekanan yang diberikan oleh laki-laki tua tersebut sangat memberatkan dirinya.
Sedikit saja dia protes tentang pilihan daddy nya, bisa dibayangkan bagaimana pertengkaran mereka terjadi, sejak awal mereka tidak pernah saling mencocokan diri dengan pilihan hingga pada akhirnya Darul cukup malas untuk berdebat dengan laki-laki tua tersebut.
Apalagi mengingat daddy nya memiliki sakit jantung yang bisa berakibat buruk dan fatal untuk kesehatan daddy nya tersebut.
Dan kini siapa sangka pada akhirnya daddy nya tahu juga sosok Alisa yang sebenarnya, dan sesuai dengan apa yang dia pikirkan dan dia tebak, laki-laki tua itu pasti jatuh tumbang karena keadaan.
Mungkin dia harus berterima kasih kepada orang yang mengirimkan berkas kepada daddy nya, tapi dia juga cukup marah karena hal tersebut membuat laki-laki tua itu jatuh tumbang seperti saat ini.
"Kami sering memperdebarkan soal Alisa di masa lalu, aku cukup lelah untuk menjelaskannya dan enggan berdebat kembali untuk berkata jika perempuan itu telah berselingkuh di belakangku, sebab bagi daddy, Alisa merupakan menantu idealnya yang tidak mungkin berkhianat di belakang semua orang"
Pada akhirnya Darrel menjawab dengan cepat pertanyaan dari mommy nya.
Mendengar penjelasan putranya sejenak membuat wanita itu terdiam, dia cukup kehilangan kata-katanya saat ini, karena dia tahu bagaimana watak suaminya selama ini terhadap Alisa.
__ADS_1
Bagi tuan Oxtone, Alisa jelas merupakan menantu kebanggaannya karena tidak ada yang tahu jika Alisa rupanya sangat mengerikan di dalam pernikahan dan juga seorang pengkhianat di dalam pernikahan itu sendiri.
Wanita tua itu menghala nafas yang kasar, kemudian dia meratap wajah putranya untuk beberapa waktu.
"Lalu apa yang akan kamu rencanakan berikutnya, Darrel?"
Dia bertanya sembari menunggu jawaban dari putranya.
"Karena masalahnya sudah sampai sejauh ini maka aku akan memberikan surat gugatan perceraian"
Laki-laki itu menjawab dengan mantap, dia pikir dia telah lama menunggu waktu ini, membuang dan menceraikan Alisa dan mengambil Gea dari tangan perempuan tersebut.
Mungkin saat ini dia belum bisa memberitahukan hubungan dan status antara dirinya dan Gea, dia tahu situasi jelas masih memanas, membuka hubungannya antara dirinya dan Gea sama saja dia menciptakan satu tragedi mengerikan di dalam keluarga Oxtone, hal tersebut takutnya akan membuat Gea tersudutkan, dan dia akan kesulitan untuk mengendalikan semuanya.
"Apa kau yakin dengan keputusanmu?"
Mommy Darrel mencoba untuk meyakinkan putranya.
"Yah aku sudah yakin melakukannya, aku yakin daddy pun saat sadar akan melakukan hal yang sama, daddy paling kecil kata perselingkuhan yang menyakiti pernikahan, karena itu aku akan mengirimkan surat perceraian dengan Alisa hari ini juga"
Setelah berkata seperti itu Darrel langsung membuang pandangannya, dia berjalan meninggalkan mama dan bergerak mendekati kasur dimana Daddy-nya saat ini masih berbaring lemah.
Laki-laki tua tersebut tampak tidak berbahaya dengan berbagai macam selang di tubuhnya.
Apakah Darrel bahagia dengan keadaan saat ini?!.
Mungkin dari sisi Alisa yang ketahuan berselingkuh benar membuat dia bahagia dan mendapatkan puncak kemenangannya, tapi dari sisi kondisi daddy nya jelas tidak membuatnya bahagia dan tidak membuatnya berpikir baik-baik saja.
Dia cukup takut jika hal buruk terjadi pada laki-laki tua yang ada di hadapan nya tersebut, sedikit banyaknya meskipun sifat laki-laki itu begitu keras kepala dengan berbagai macam perbedaan pendapat di antara dirinya bagi yang tetap saja laki-laki itu adalah daddy nya.
Darrel sejenak menghela kasar nafasnya, dia berusaha untuk duduk tepat di samping tubuh daddy nya yang terbaring lemah.
*****
Mansion utama Alisa.
Bisa dilihat perempuan tersebut seketika gemetaran sembari memegang sebuah map yang ada di tangannya itu.
Alisa yang awalnya berdiri dengan tegak seketika langsung nyaris tumbang dari posisinya, perempuan tersebut mencoba untuk mencari pegangan dan berusaha duduk di atas sebuah kursi yang ada di hadapannya.
Perempuan itu menggelengkan kepalanya sembari menatap tidak percaya pada berkas yang ada di hadapan tersebut, Darrel mengirimnya surat perceraian mereka berdua, hal tersebut jelas membuat Alisa Yaris tidak bisa bernafas dengan baik.
"Bram.... Bantu aku untuk melakukan sesuatu, jika aku bercerai dengan Darrel sekarang semua rencana kita akan hancur berantakan"
Ucap Alisa cepat para laki-laki yang ada di hadapannya itu, Bram terlihat duduk di atas kursi sofa sembari menikmati rokok yang ada di tangannya.
Laki-laki tersebut sama sekali tidak menjawab ucapan dari Alisa, dia kembali menghisap rokok yang ada ditangani tersebut secara perlahan.
Entah apa yang dipikirkan oleh laki-laki tersebut Alisa tidak tahu tapi yang jelas Bram Sejak tadi sama sekali tidak bergeming
Sembari menatap dirinya.
"Bram"
Perempuan tersebut berteriak dengan kesal, bergerak mendekati laki-laki yang ada di hadapannya itu dan langsung melemparkan map yang ada di tangannya pada laki-laki tersebut dengan gerakan yang begitu kasar.
"Tidakkah kau lihat dia menceraikanku sebelum waktunya!"
Ucap perempuan itu dengan penuh kemarahan.
Bram meraih map tersebut dan menyingkirkan dari dadanya dengan cepat, dia meletakkan map itu di atas meja kemudian laki-laki tersebut berdiri dari posisi duduknya.
"lalu apa yang bisa kita lakukan? semua sudah seperti ini!"
Bram bicara ke arah Alisa lantas dia mematikan api rokoknya tepat di dalam asbak kaca yang ada di hadapannya yang terletak di atas meja tinggi di bagian sisi kanan ruang tamu.
"Apa?"
Mendengar jawaban laki-laki yang ada di hadapannya itu seketika membuat Alisa terkejut, ekspresi Brown sangat tidak terduga menurut dirinya.
"Ada apa dengan mu, Bram?
Tanya perempuan itu dengan tatapan tidak percaya ke arah Bram, dia pikir bagaimana bisa laki-laki tersebut mengeluarkan ekspresi biasa-biasa saja seperti itu seolah-olah ketika rencana yang mereka buat hancur itu bukan menjadi masalah untuk Bram.
__ADS_1
"Kau pasti bercanda dengan ekspresi dan ucapan mu, Bram"
Mendengar ucapan alesia seketika membuat laki-laki tersebut terkekeh kemudian Bram berkata.
"Jika dia sudah tahu dengan keadaan dan sudah mengirimkan surat perceraian kepadamu itu artinya aku akan meninggalkan mu"
Setelah berkata seperti itu Bram seketika menyembunyikan senyumannya dan hal tersebut langsung membuat Alisa terkejut setengah mati.
"Kau bicara apa?"
Perempuan itu seketika panik, dia langsung berusaha menarik lengan Bram dan tidak mengizinkan laki-laki tersebut pergi dari hadapannya sama sekali, Alisa butuh penjelasan dan kata-kata Bram yang berikutnya saat ini.
"Apakah kau sedang bercanda denganku? apa kau sudah gila? apa yang kau katakan barusan hah?"
Perempuan tersebut jelas histeris, yang saat ini di mana laki-laki tersebut berusaha untuk bergerak pergi meninggalkan Alisa.
"Bram apa kau gila? Kau ingin meninggalkanku dikala kehancuran ku telah tiba? Apa-apaan kau ini? bukanlah kau yang merencanakan semuanya sejak awal?"
Seketika perempuan itu histeris, dia terus menarik lengan berat dan tidak mau kehilangan laki-laki tersebut sedikit pun.
"Aku benar-benar akan membunuhmu, apa yang kau lakukan Bram? Kou tahu aku sudah sampai sejauh ini untuk mendapatkan semuanya!"
Lagi teriak Alisa dengan penuh kemarahan.
Bram yang awalnya ingin pergi dan beranjak meninggalkan perempuan tersebut seketika langsung berbalik dengan cepat, dia menatap wajah Alisa untuk beberapa waktu, menikmati ekspresi perempuan itu yang terlihat histeris, marah, kesal dan lain sebagainya bercampur aduk menjadi satu.
Hingga pada akhirnya Bram terlihat mengembangkan senyumannya.
"Rencana ku?"
Kali ini suara laki-laki tersebut berubah drastis, terdengar begitu datar dan dingin tanpa perasaan, hal itu sontak membuat Alisa bergidik ngeri mendengarnya.
"Tentu saja semuanya adalah rencanamu"
Ucap Alisa dengan penuh keyakinan,Hal tersebut sontak membuat Bram terkekeh dengan suara yang cukup mengerikan.
"Sejak kapan semua itu menjadi rencanaku huh?"
Tanya laki-laki itu kemudian.
"Yang aku tahu kau hanya berencana untuk mendapatkan Darrel, kau hanya menginginkan apa yang dimiliki oleh Darrel agar menjadi milikmu, tapi aku tidak pernah tahu dan tidak pernah menyangka jika kau menghalalkan banyak cara untuk mendapatkan laki-laki tersebut bahkan rela mengorbankan banyak orang di sekitarnya baik di sisi kiri maupun kanan ataupun depan bahkan belakang Darrel sendiri"
Kali ini Bram berbicara sembari memajukan langkahnya, bola mata laki-laki tersebut menatap tajam ke arah Alisa, seolah-olah dia memang bersiap untuk membunuh perempuan di hadapannya itu kapanpun yang dia mau.
"Apa kau tidak tahu kau menyakiti banyak orang di sekitarmu? Bahkan kamu manfaatkan orang-orang yang tidak bersalah hanya demi mendapatkan ambisimu"
Lanjut laki-laki itu lagi sembari terus majukan langkahnya, melihat ekspresi dan juga langkah kaki Bram seketika membuat Alisa menelan ludahnya sembari dia bergerak mundur secara perlahan.
"Bahkan di masa lalu kau tidak pandang bulu untuk menyakiti seseorang demi ambisi besar mu yang sangat mengerikan"
Alisa terlihat mengerutkan kening nya, masih tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Bram saat ini.
Meskipun tidak dipungkiri sesuai ucapan Bram dia mengorbankan banyak orang serta menghancurkan banyak masa depan orang-orang di sekitarnya, tapi dia melakukannya karena dia memang memiliki sebuah misi dan juga dia menginginkan apapun Milik Darrel dan dia ingin menyingkirkan apapun yang dia tidak disukai tanpa terkecuali.
Dan semua hal itu tidak membuatnya menyesalinya karena dia tahu apapun yang dikorbankan memang pantas baginya untuk dia korbankan.
"Aku melakukannya karena bagiku aku memang pantas untuk menyingkirkan semua orang yang menghalangi jalanku"
Pada akhirnya perempuan itu menjawab dengan cepat sembari berusaha terus memundurkan langkah kakinya menuju ke arah belakang, dia hampir terjatuh di atas kursi sofa, namun perempuan itu mampu untuk mengendalikan keseimbangannya.
"Kau tahu sendiri siapapun yang menghalangi jalanku maka aku akan menyingkirkan nya tanpa sisa"
Bisa-bisanya Alisa berkata seperti itu tanpa menggunakan hatinya, dia menatap tajam balik bola mata Bram saat ini.
"Lalu kenapa kau marah atas apa yang harusnya menjadi pencapaianku dan kini bisa-bisanya setelah kau menikmati apapun yang aku miliki kau ingin meninggalkanku karena bentuk kegagalan yang sebenarnya belum 100% terjadi?"
Perempuan itu berteriak dengan sangat kesal, dia ini menampar laki-laki yang ada di hadapannya tersebut namun tiba-tiba gerakan tangan yang dihentikan oleh Bram.
"Kau tahu kenapa aku marah?"
Laki-laki tersebut bertanya kemudian secara perlahan dia mendekatkan wajahnya pada Alisa.
"Aku akan memberitahukan kamu satu rahasia besar"
__ADS_1
Ucap laki-laki tersebut kemudian secara perlahan tangan kanannya bergerak menuju ke arah wajahnya lantas tiba-tiba laki-laki itu menarik wajahnya dengan paksa, hal tersebut sontak membuat Alisa membulatkan bola matanya.