Semalam Dengan Papa Mu

Semalam Dengan Papa Mu
Pembicara dua sahabat


__ADS_3

Kembali ke kampus


Pagi ini


Sejak tadi Venus mencoba memijat-mijat kedua belah pelipis nya dengan kedua belah tangan nya, rasa ngantuk jelas masih menghantam Dirinya sejak bangun tidur tadi.


Bola mata Venus rasanya begitu berat dan sakit, dia fikir ini pasti efek kurang tidur yang di akibatkan karena perdebatan panjang antara dia dan Daddy nya.


Percayakah kalian? Laki-laki itu sama sekali enggan mengalah, sebagai putri kesayangan dari seorang Andrew Auschwitz, Venus jelas tidak mau ikut mengalah pada Daddy tua nya itu.


"Jika Daddy tidak merestui kami, aku juga tidak akan merestui Daddy"


Bayangkan bagaimana ekspresi laki-laki itu saat mendapatkan tekanan dari putri nya itu.


Yolanda yang sejak tadi melirik kearah Venus hanya bisa menghela pelan nafasnya, selain di hantam rasa bersalah yang besar, Perempuan itu bahkan merasa sedikit sedih saat Venus menentang hubungan mereka.


Ah dia tidak bisa merasa kecewa, karena Andrew juga begitu keras kepala.


Menyakinkan laki-laki itu butuh perjuangan ekstra, dia fikir dia harus bicara dengan Andrew secepat nya.


Meluruskan semua nya dan merobohkan batu besar di hati laki-laki tersebut.


Meskipun tidak paham persolan masa lalu mereka, setidaknya menurut keterangan kedua laki-laki tua itu bisa disimpulkan permusuhan terjadi dimulai dari pertemanan baik.


Sebenarnya yang wajar marah adalah Gerald, tapi bisa-bisa nya Andrew yang terlihat begitu keras kepala menentang hubungan Venus dan Gerald.


Lagi Venus menghela kasar nafasnya, dia secara perlahan menoleh kearah Venus.


Tahu-tahu sahabat nya itu juga menoleh kearah Diri, Venus membiarkan pipi kanan nya menempel ke atas meja.


Alih-alih bicara Venus malah menatap Yolanda untuk beberapa waktu, kemudian perempuan tersebut menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


"Hubungan yang begitu rumit"


Ucap Venus pelan kemudian dia terkekeh kecil.


Melihat ekspresi wajah Venus seketika Yolanda ikut tertawa kecil.


Dia merasa cukup lega sang sahabat baik nya sama sekali tidak mengeluarkan ekspresi marah nya.


Sejak semalam Dia takut jika Venus marah pada dirinya.


pada akhirnya Yolanda ikut memiringkan kepalanya ke atas mejanya, dia menatap Venus untuk beberapa waktu.


"Kamu tidak marah kepadaku bukan?"


tanya Yolanda pelan sambil menyentuh perlahan ujung rambut Venus.


mereka tanpa dia membiarkan kebisingan mengelilingi mereka di sekitar ruang kelas di mana mereka berada, tidak peduli bagaimana mahasiswa atau mahasiswi lain sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


yang jelas Yolanda dan Venus saling menatap antara satu dengan yang lainnya dan berusaha bicara dengan bahasa mereka sendiri, sedikit mengeluarkan unek-unek hati mereka.


Venus bicara jujur apa adanya, dia cukup shok melihat dua orang yang begitu dia sayangi saling berbagi ciuman manis.


Dia sempat kehilangan kata-kata.


"tahukah kamu semalam aku ingin marah?"


Venus bertanya pelan.


Yolanda mengangguk kan kepalanya.


"Aku bisa melihat nya"

__ADS_1


Jawab Yolanda pelan.


"Tapi saat otak ku kembali merasa normal aku mulai berfikir, bukankah kamu pernah beberapa kali Berkata jika kamu penyuka laki-laki dewasa?"


Vanus kemudian menyentuh lembut tangan Yolanda.


"Aku sadar jika kamu mungkin sedang jatuh cinta dengan seseorang yang usia nya bukan seumuran kita mengingat kamu sama sekali tidak pernah tertarik dengan teman-teman sekolah dan kampus kita, hingga akhirnya aku baru menyadari soal sesuatu, selama ini mungkin kamu memang diam-diam jatuh cinta pada Daddy ku mengingat betapa manja nya kamu pada laki-laki tua itu selama kita berteman, aku saja yang terlambat menyadari semua nya"


Mendengar penuturan Venus yang panjang lebar membuat Yolanda terdiam.


Yah dia jatuh cinta pada Daddy sahabat nya itu untuk waktu yang cukup lama, menempel persis seperti perangko, pura-pura menganggap Andrew seperti Daddy nya sendiri padahal sebenarnya dia sedang bermain hati.


Siapa tahu cinta nya berbalas, laki-laki itu juga ternyata sudah lama tertarik juga kepada dirinya.


Ditengah obrolan mereka tiba-tiba satu tangan mengejutkan mereka, seseorang tahu-tahu menarik tangan Venus dengan gerakan yang begitu kasar.


Yolanda jelas membulatkan bola matanya ketika sadar seseorang menarik Venus dengan gerakan cepat dan membawa Venus keluar dari ruangan tersebut.


"Eh...Bastian..."


Yolanda berteriak panik saat melihat laki-laki itu membawa paksa sahabat nya entah kemana.


"Bas...."


Di ujung sana Maria Oh zialan juga terkejut melihat Bastian yang menyeret langkah Venus dengan begitu kasar.


"Bastian... lepaskan, apa-apaan ini?"


Venus berusaha untuk menahan tubuh dan tangan nya, alih-alih peduli bagaimana ekspresi Venus dan tolakan Venus, laki-laki itu menyeret paksa perempuan itu tanpa perasaan.


"Diam atau aku akan berteriak pada seluruh orang jika kamu menggoda Daddy ku"

__ADS_1


Bastian menggeram sambil terus menggenggam erat pergelangan tangan Venus sembari menyeret kasar Perempuan cantik tersebut.


"Bastian..."


__ADS_2