
Kembali ke mobil Darrel
****.
Darrel mengumpat kesal, menatap dongkol kearah luar untuk beberapa waktu.
Sejenak bola mata laki-laki itu membulat ketika dia menyadari siapa yang ada di luar mobilnya.
What the hell?!.
Dia buru-buru langsung membenahi posisi Gea, dia meletakkan jarinya tepat di depan bibirnya, meminta dia untuk tidak bersuara atau keluar kemudian dia membiarkan dia kembali duduk di atas kursinya.
"Jangan kemana-mana, jangan bicara hingga laki-laki tersebut pergi hmmm"
Darrel bicara dengan cepat sembari memperingati Gea.
Meskipun sebenarnya dia tidak mengerti kenapa tiba-tiba Darrel mengubah ekspresinya, perempuan itu mengganggukan kepalanya secara perlahan sembari memenuhi posisi duduknya.
Wajahnya masih memerah karena malu dan intinya masih berkedut karena perbuatan daddy nya.
Bola mata perempuan itu menatap darah yang keluar dengan terburu-buru setelah laki-laki itu membenahi pakaiannya, Darrel langsung menutup pintu dan sama sekali tidak ingin memperlihatkan Gea kepada sosok yang ada di hadapannya.
"Kenapa paman ada disini?"
Masih bisa dia dengar samar-samar ucapan Darrel, Gea melirik dengan cepat, itu Grandpa muda Vier.
Hah?!.
Gea langsung menutup mulutnya dengan cepat.
Laki-laki itu kakek muda dalam keluarga Oxtone dan Maxima company, Vier yang usianya hanya lebih tua beberapa tahun dari daddy nya, sayang nya dia masih membujang di usia yang jelas sudah terlalu matang.
Mereka bilang laki-laki itu tengah mencari cinta sejatinya yang menghilang, namun tidak ada yang tahu siapa yang dimaksudnya di masa lalu, hingga akhirnya tahun belakangan yang dia tahu laki-laki itu telah bertunangan dengan seorang perempuan muda, namun sayangnya Grandpa Vier nya belum juga mau melepas masa lajangnya tanpa alasan yang jelas.
Seharusnya dia keluar untuk menyapa tapi daddy Darrel nya jelas tadi melarangnya.
Ngomong-ngomong apakah ada yang percaya? Dirumah orang-orang sering berkata jika dan Grandpa Vier punya banyak kesamaan, bahkan mereka memiliki rambutnya, hidung dan bibir yang sama.
Dulu saat kecil ketika laki-laki tersebut membawa nya, orang akan berkata jika mereka persis seperti ayah dan anak, sedang kan saat dia pergi dengan Darrel tidak pernah ada yang mengatakan hal yang serupa.
Gea sejenak menghela nafas nya.
Darrel keluar dari mobil nya dengan cepat, dia mengerut kan keningnya sejenak saat tahu siapa yang ada dihadapan nya kini.
__ADS_1
"Ada apa?"
Laki-laki tersebut bertanya cepat, dia menutup pintu mobilnya dengan tergesa-gesa dan tidak ingin laki-laki itu melihat ada Gea di dalam mobilnya.
"Kenapa kau berada di jalanan pada jam segini?"
Vier bertanya sembari mengerutkan keningnya, laki-laki tersebut memarkirkan mobilnya di tengah jalan di pagi buta seperti ini. Bola mata Vier mencoba untuk mengintip ke arah mobil Darrel namun sayangnya karena kaca mobil tersebut gelap dia tidak bisa melihat siapa yang ada di dalam sana.
"Aku sedang menghubungi seseorang, katakan apa yang terjadi paman?"
Darrel bertanya cepat sembari menggeser posisi nya.
"Aku ingin bertemu Gea dan ingin memastikan sesuatu soal anak itu"
Mendengar ucapan paman nya seketika Darrel mengerutkan keningnya, satu kekhawatiran menerjang nya.
Apa laki-laki itu mulai tahu soal sesuatu? Bagaimana jika Gea dan vier benar-benar ayah dan anak?!.
Darrel terlihat gusar.
"Ada apa dengan Gea?"
"Bukan hal yang penting, hanya ingin menanyakan sesuatu pada dia dan ingin membawanya pergi jalan-jalan, kakak bilang kemarin kamu membawa nya melewati liburan?"
Jawab Darrel dengan cepat.
"Itu bukan persolan, aku hanya ingin bilang mungkin aku akan menjemput nya sore nanti disekolah, aku harap kamu tidak membicarakan nya pada Alisa soal aku membawa Gea"
"Katakan pada ku, apa kamu sudah mendapatkan posisi Marina?"
Vier bertanya dengan memotong Kalimat paman nya.
Yang ditanya terlihat diam untuk beberapa waktu, vier mencoba menelisik bola mata Darrel untuk beberapa waktu.
"Katakan pada ku"
Alih-alih menjawab pertanyaan Darrel, Vier malah balik bertanya.
"Apa kamu pernah mencintai Silsila di masa lalu?"
Begitu pertanyaan meluncur di balik bibir Vier, seketika Darrel terdiam.
"Jawaban apa yang paling Paman inginkan? Jawaban penuh kejujuran atau sebuah jawaban penuh kebohongan?"
__ADS_1
Saat laki-laki tersebut bertanya seperti itu seketika Vier diam, begitu dia meneliti bola mata Darrel seolah-olah laki-laki itu telah menemukan jawabannya tanpa harus sang keponakannya bicara soal perasaannya.
Dan dalam hitungan detik tiba-tiba saja,
Bugggg.
Satu pukulan telak melesat di bibir Darrel.
Alih-alih bicara atau membalas, Darrel terlihat diam, dia hampir jatuh, mencoba menyeimbangkan posisi nya sembari dia menyentuh ujung bibirnya.
"Kau masih memendam dendam soal gadis itu dimasa lalu? Membawa Silsila pada permainan cinta palsu mu, kau benar-benar keterlaluan, Darrel"
Laki-laki tersebut mencoba untuk menahan kemarahannya.
"Maafkan aku, paman"
Darrel terlihat diam tanpa berani membalas.
"Kau..."
Vier pada akhirnya mencoba menarik kasar dasinya,dia membalikkan tubuhnya dengan perasaan kesal, meninggalkan Darrel dalam keheningan.
Di mobil dia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di luar sana, dia sibuk bermain dengan handphonenya sembari sesekali tersenyum meladeni satu persatu temannya yang ada di dalam grup.
Tidak dia lihat jika daddy nya terkena pukulan dari Grandpa muda nya.
Hingga akhirnya sadar ketika Darrel masuk ke dalam mobil mereka, begitu Gea menoleh seketika perempuan itu terkejut setengah mati.
"Akhhh dad...apa yang terjadi pada daddy?"
Gea berteriak sedikit histeris.
"Berikan pelukan mu pada daddy"
Laki-laki tersebut bicara dengan cepat, menatap bola mata Gea dengan tatapan yang sulit diartikan.
Alih-alih banyak bertanya pada akhirnya perempuan itu menurut, dia bergerak memajukan tubuhnya dan membiarkan laki-laki itu memeluknya secara perlahan.
"Apakah ada hal buruk yang terjadi? Hingga daddy membuat Grandpa marah dan membuat grandpa memukul daddy?"
Gea bertanya dengan keadaan khawatir, dia membiarkan laki-laki itu memeluknya di mana Gea mencoba menepuk-nepuk punggung Daddy nya untuk beberapa waktu.
"Ini bukan masalah serius"
__ADS_1
Bisik Darrel perlahan sembari laki-laki itu memejamkan sejenak bola matanya, dia menggesekkan dagunya ke puncak kepala Gea.