Semalam Dengan Papa Mu

Semalam Dengan Papa Mu
Masih di masa lalu


__ADS_3

Masih di Masa lalu


Rumah keluarga Utama Elizabeth


19 tahun yang lalu


Sejenak Linda menatap disekeliling rumah Eliza sembari dia duduk di atas kursi sofa di ruang tamu rumah dengan bangunan mewah tersebut.


Sejak tadi gadis itu sibuk mengunyah cemilan yang ada di tangan nya sembari menunggu Elizabeth turun dari lantai atas.


Dia fikir kenapa Eliza tidak pernah membuka jati dirinya kepada siapapun jika dia anak orang kaya, semua orang di kampus selalu berfikir jika dia anak pembantu di rumah megah dimana dia duduk saat ini, bahkan Gerald dan ibu nya pun berfikir Elizabeth anak orang miskin.


Hubungan asmara kedua orang itu jelas terhalang Restu karena ibu nya Gerald berfikir Eliza bukan anak orang kaya, secara kekuarga Gerald bukan orang sembarangan.


Kalau dia sih memang berteman baik dengan Gerald sejak masih kecil, ibu Gerald memang menyukai dirinya tapi jelas dia bukan calon atau kandidat sempurna untuk di jadikan menantu.


Dan Linda juga tidak tertarik menjalin kasih dengan teman nya sendiri, bagi nya Gerald sudah persis seperti kakak nya sendiri.


"Kenapa kamu tidak pernah bilang kalau kamu anak orang ber'uang?"


Dia pernah menanyakan hal tersebut kepada gadis itu dimasa kemarin.

__ADS_1


"Itu akan menyulitkan aku untuk berteman dengan siapapun"


"Kenapa begitu?"


"Hmmm akan sulit untuk menceritakan nya"


Mendengar jawaban Eliza dia hanya mengangguk-angguk kan kepalanya tanda tidak mengerti.


Yah mana dia tahu apa alasan nya, toh Linda fikir itu bukan Rana yang harus menjadi bahan obrolan mereka hingga akhir, menyembunyikan identitas seperti di kisah drama, terdengar lucu dan unik.


Dia fikir orang kaya memang selalu susah untuk dipahami, untungnya dia bukan lahir di keluarga kaya raya, hanya lahir dari keluarga sederhana yang tidak punya banyak aturan.


Sejenak Linda menghela nafasnya, dia fikir tinggal di rumah sebesar ini jelas membosankan, selain besar penghuni nya sangat jarang sekali pulang apa lagi hubungan ayah dan ibu Eliza tidak dibilang baik-baik saja.


Beberapa kali dia pernah mendengar dua orang tersebut bertengkar dengan sangat hebat, saling mengumpat bahkan tidak jarang dia mendengar jika ayah Elizabeth sering menggoda perempuan.


Entahlah apakah laki-laki yang banyak uang nya memang suka seperti itu di luaran sana dia tidak paham.


Jika benar begitu, Linda berharap dia bukan termasuk gadis tidak beruntung yang mendapatkan suami suka main perempuan atau jajan diluaran.


Linda kembali melahap cemilan Kentang yang ada di dalam toples ditangan nya, sembari dia membaca beberapa pesan dari Gerald.

__ADS_1


Laki-laki itu bilang, dia mungkin akan membuat kejutan untuk Eliza.


Aihhhh dia selalu kehilangan ide untuk memberi kejutan pada kekasih nya, benar-benar laki-laki yang payah.


Gerutu Linda dalam hati.


Gadis tersebut mulai membalas pesan dari laki-laki itu, sesekali terkekeh mendapatkan balasan dari Gerald yang dia anggap lucu.


Ditengah kegiatan nya, sepasang bola mata terus memperhatikan gerak-gerik Linda dari atas sana sejak tadi, seorang laki-laki terlihat menaikkan ujung bibirnya, sesekali dia menggesek jari tangan nya ke bibir nya sambil menatap gadis yang tengah duduk di kursi sofa tersebut dengan kedua belah matanya.


Bukankah dia berkembang dengan sempurna?.


Batin laki-laki tersebut sembari mengulum senyuman licik nya.


Bisa dia lihat Eliza berlarian terburu-buru dari arah kamar menuju ke arah anak tangga, gadis itu berteriak sembari menyandang tas nya.


"Dad....kak....aku pergi dulu"


Teriakan Eliza membuat laki-laki tersebut melepaskan pandangannya dari Linda.


Laki-laki itu tidak menjawab, dia hanya melambaikan tangan nya sambil mulai membalikkan perlahan tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2