
Mansion utama Linda
Kamar Utama
Perempuan tersebut terlihat mengehela pelan nafasnya, dia menatap sejenak dirinya kearah kaca besar yang ada dihadapan nya tersebut.
Sejenak perempuan itu menghentikan gerakan tangannya yang memegang lipstik berwarna pink di tangan nya itu.
Bola mata nya mengitari kamar tersebut untuk beberapa waktu, Linda Secara perlahan memejamkan bola matanya.
"Laki-laki itu datang lagi, nyonya"
Tiba-tiba terdengar bisikan seseorang dari arah balik telinga nya.
Linda tidak bergeming, dia masih mematung di tempatnya.
Satu ingatan menghantam diri nya.
"Ibu, dimana Gibran?"
Ketika bola mata polos itu bertanya kepada ibu nya, bisa dilihat wanita tua itu menggelengkan kepalanya.
"Dia menghilang untuk waktu yang begitu lama, kita tidak lagi di Manhattan, tapi kini kita berada di Prancis sayang, sudah 9 bulan sejak kejadian malam itu, kamu koma selama itu"
"Ya?"
__ADS_1
Bibir Linda terlihat bergetar, dia mencoba untuk meraih tangan ibu nya.
"Apa yang terjadi pada Winda? dimana dia"
Alih-alih menjawab wanita tua itu menatap sedih bola mata putri nya, dia menggelengkan kepalanya secara perlahan.
"Maafkan ibu, maafkan ayah, maafkan paman mu, 2 bulan berjuang mempertahankan harga diri, hasil nya sangat menyedihkan"
Wanita itu bicara dengan nada bergetar, dia menatap Linda sembari menggenggam tangan putrinya.
"Mereka berbuat curang, ayah mu dijebloskan balik ke penjara oleh putra tuan La Oberoy (Kakak laki-laki Gerald) atas tuduhan pencemaran nama baik, penipuan untuk mendapatkan uang secara praktis dan ....."
Wanita tua itu menghentikan kata-kata nya.
"Ibu dan wanita itu terpaksa membuat sandiwara, memasukkan Winda menjadi istri Gerald tanpa izin dari mu"
"Eliza menarik kesaksian nya, Gibran menghilang, dan paman mu meninggal, ayah mu juga meninggal dipenjara"
"Dan kini, Winda sedang bertarung antara hidup dan mati di meja Opera"
Hahhhhhh
Seketika Linda membuka bola matanya, dia menatap wanita yang masih berdiri disampingnya itu dengan perasaan cemas.
"Sandiwara kemarin untuk menyakiti laki-laki itu tetap gagal, dia tidak peduli dengan siapa nyonya tidur, dia bilang dia masih menunggu nyonya untuk bicara 4 mata"
__ADS_1
Lanjut wanita tua itu lagi.
Linda masih diam.
Sandiwara yang dia buat, pura-pura tidur dengan brondong yang tergila-gila pada nya untuk menekan laki-laki itu berakhir kacau balau.
Dia fikir laki-laki itu yang akan datang lebih dulu ke kamar nya, tapi rupa nya Bastian lebih dulu yang memergoki nya.
Semua rencana nya nyaris kacau balau.
Terkadang apa yang kita harapkan tidak akan sesuai dengan apa yang kita dapatkan.
"Katakan pada nya, aku tidak ada dirumah"
Jawab Linda kemudian, dia membuang pandangannya dari wanita tersebut.
Aku tidak perlu menoleh kebelakang bukan? untuk apa kau baru datang setelah belasan tahun berlalu? untuk apa kau datang setelah semua kehidupan di keluarga ku hancur?!.
Anggaplah kita orang asing yang pada akhirnya memang di takdir kan untuk saling menyakiti.
Andai saja dimalam itu kamu datang, mungkin semua tidak akan seperti ini.
Linda secara perlahan memoleskan lipstik ke arah bibir nya, bisa dia dengar samar-samar suara seseorang berusaha untuk memaksa masuk ke dalam kamar nya.
"Biarkan aku masuk, aku tahu dia berada didalam, aku perlu bicara dengan nya untuk 4 mata"
__ADS_1
"Maaf tuan, nyonya benar-benar tidak ada didalam sana"