
Kembali ke kafe xxxxxxxx
Jelang Makan malam
"Kau?"
bola mata Linda jelas Langsung membulat dengan sempurna, dia benar-benar tidak percaya dengan pandangannya saat ini, perempuan itu jelas tercekat setengah mati, dia pikir ada apa dengan semua ini?!.
Gibran berdiri tepat disampingnya, Mencoba mengembangkan senyuman nya dengan sedikit kaku, bola mata laki-laki tersebut terlihat berkaca-kaca, bisa dilihat tangan kanan Gibran mencoba untuk meraih wajah Linda.
Linda jelas saja gemetaran, dia mencoba untuk menatap ke arah Bastian dengan cepat, seolah-olah ingin bertanya bagaimana bisa putranya mengenal laki-laki yang ada di sisi kanannya tersebut.
tapi perempuan itu tidak sanggup untuk menanyakan hal tersebut kepada Bastian, lidahnya seolah-olah menjadi kaku begitu saja, dia tidak sanggup mengucapkan kalimat apapun untuk saat ini.
padahal Linda mati-matian untuk menghindari Gibran, dia tidak sedih bertemu dengan laki-laki tersebut saja beberapa waktu yang lalu, sekuat apapun Gibran berusaha untuk menemuinya, Linda selalu bisa untuk menghindarinya.
bahkan berkali-kali dia mencoba menyakiti perasaan Gibran agar laki-laki itu segera menjauh darinya dan meninggalkan dirinya.
Dia juga pernah membuat Gibran merasa begitu sakit hati ketika dia menyewa seorang laki-laki bocah yang mencintai dia agar terlihat mereka tengah bercinta di dalam kamar utama mansion nya.
tapi alih-alih bisa buat laki-laki tersebut membenci nya, Gibran masih berusaha untuk menemuinya.
Linda pikir satu-satunya cara yang Linda bisa gunakan untuk meninggalkan Gibran saat ini mungkin ada baiknya menerima tawaran Bastian untuk menikah kembali dengan laki-laki pilihan putranya tersebut, setelah itu mungkin mereka bisa pindah menuju ke arah Swiss.
melupakan segala sesuatu yang ada di sini, melupakan masa lalu yang menyakitkan dan mulai membuka lembaran baru antara dirinya, Winda, Bastian dan laki-laki pilihan Bastian.
Tapi siapa sangka laki-laki pilihan putra nya adalah Gibran.
Bagaimana bisa?!.
Linda kini berusaha untuk berdiri, dia berniat untuk pergi dari sana tapi Bastian buru-buru berdiri dari penduduknya sembari menggenggam erat telapak tangan Mommy nya.
"Mom?"
Bastian bicara sambil menggelengkan kepalanya, berharap agar Mommy nya tidak pergi dari sana.
"Mari kita pulang"
Ucap Linda sambil memohon ke arah putra nya.
"Mommy pikir harus kembali sekarang juga, Mommy..."
"Apa mommy mengenal Om Gibran?"
Tanya Bastian tiba-tiba.
__ADS_1
Dia pura-pura bodoh, seolah-olah tidak tahu hubungan masa lalu mereka dan seakan-akan tidak tahu konflik yang terjadi di antara mereka berdua sebelum nya.
Gibran berharap Linda tidak pergi saat ini, tidak curiga dengan apa yang dia lakukan.
"Ini pertemuan pertama kalian bukan?"
Tanya Bastian pura-pura polos.
"Nama nya Om Lim , Aku mengenal nya dari salah satu dosen di kampus, Kami sering bertemu kemudian mengobrol soal banyak hal, lalu banyak kecocokan yang terjadi di antara kamu, dia baik dan begitu menyenangkan, kemudian aku pikir Om Lim cukup cocok dengan Mommy"
Bastian tahu berbohong kepada Linda mungkin akan menyakiti perempuan tersebut, tapi berbohong demi kebaikan dia pikir bukan hal yang buruk, dia berharap hubungan kedua orang tersebut menjadi baik-baik saja.
Gibran harus mendapat kan kesempatan untuk menjelaskan perihal masa lalu kepada mommy nya, kesalahpahaman besar terjadi di masa kemarin hanya membuat Linda begitu membenci semua orang dan menyangka jika semua orang mengkhianati diri nya dan keluarga mereka.
"Mom?"
Bastian bicara dengan nada memohon, dia menatap Linda dengan bola mata berkaca-kaca, berharap mommy nya kembali duduk ketempat nya semula.
Nada penuh harap dan genggaman tangan yang begitu orang yang menyatakan laki-laki tersebut benar-benar berharap mommy nya tidak kabur saat ini juga.
"Kamu membohongi Mommy?"
Tiba-tiba Perempuan itu bertanya pada Bastian dengan bola mata berkaca-kaca.
Linda bicara sembari menatap dalam bola mata Bastian, dia tahu betul bagaimana putra nya, laki-laki itu tidak pernah benar-benar bisa berbohong dengan dirinya, tiap kali Bastian akan berbohong, laki-laki itu akan menampilkan ekspresi khususnya, beberapa gerakan akan terjadi pada diri Bastian, bahkan bola mata putra nya tidak bisa membohongi dirinya.
"Mom...?!"
Bastian jelas tercengang mendengar ucapan Linda, dia pikir bagaimana Mommy nya tahu soal kebohongan yang dia ciptakan.
Gibran yang melihat ekspresi Linda jelas hanya bisa membeku, dia pikir perempuan tersebut benar-benar sangat membencinya.
bahkan tidak pernah ingin memberikan dia sedikitpun kesempatan untuk bicara, berkali-kali mencoba menemui Linda, mencari berbagai macam cara untuk bisa saling bertatap muka, realita nya berbulan-bulan di berusaha hasilnya benar-benar tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.
Linda bener-bener begitu membenci nya, bahkan berbuat tersebut sama sekali enggan melihat wajahnya, salah dirinya adalah seekor hama yang harus dibasmi oleh Linda secepatnya.
perempuan itu sama sekali tidak memberikan dia kesempatan atas rasa sakit Linda di masa lalunya terhadap semua orang kepada Linda dan keluarganya.
Bahkan dia bisa memahami betapa Linda membenci dirinya.
begitu dia mendengar ucapan Linda soal jika perempuan tersebut tahu kebohongan Bastian, seketika Gibran mencoba untuk meraih dan menggenggam erat telapak tangan Linda.
"Jika kamu terus membiarkan dia membenci mu dan tidak bergerak lebih cepat dan menahan keberadaan nya, maka semua keadaan tidak akan berubah."
"Aku tidak menyarankan kamu untuk melakukan kekerasan Gibran, tapi terkadang perempuan memang sulit untuk dipahami, jangan lepaskan tangannya sekali ini, bersikap bertugas dan ajak dia bicara secepatnya."
__ADS_1
"jangan lagi mengalah tiap kali kamu mencoba menemui dirinya dan dia mencoba kabur karena melihat keberadaan kamu"
Dia ingat bagaimana baris demi baris kata dilancarkan oleh seseorang kepada diri soal diri nya dan Linda.
Dan anggaplah dia gila jika malam ini dia harus lagi-lagi mengalah.
"Linda"
Ucap Gibran cepat sembari menggenggam erat telapak tangan Linda, dia berharap agar perempuan tersebut tidak melesat pergi saat ini juga.
Alih-alih Linda ingin mendengarkan ucapan nya, perempuan tersebut langsung mencoba menepis tangan nya dan berusaha untuk lepas dari cengkraman nya.
Tapi Gibran tentu saja tidak mau melepaskan sekali lagi Linda saat ini, Gibran bertekad untung menyelesaikan dan menuntaskan semua perihal di masa lalu malam ini juga.
"Lepaskan aku, jika tidak aku akan berteriak sekarang juga"
Linda mencoba menggerakkan pergelangan tangan dengan cara yang kasar agar Gibran mau melepaskan genggamannya.
"Dengarkan aku sekali ini saja, ini soal malam dimana aku tidak datang menjemput kamu sesuai janji ku pada ibu mu"
kali ini Gibran bicara dengan cepat sembari terus menahan genggamannya.
"Lepaskan aku, berhenti membual dan bicara omong kosong, kita sudah lama saling mengabaikan, pergilah dan lepaskan aku"
perempuan itu bicara dengan panik dan terus mencoba untuk melepaskan diri, dia mencoba memberontak dan berusaha melepaskan diri nya ketika dia berhasil bergerak sedikit menjauh dari sana, tapi Gibran langsung menarik kasar tangan Linda lantas memaksa Perempuan tersebut masuk kedalam pelukan nya.
"Lepaskan aku, bajingan"
Linda mulai mengumpat dengan perasaan gemetaran tapi tiba-tiba Gibran berkata.
"Aku tidak membual, malam itu aku pergi dan membunuh Conte untuk kamu dan juga Eliza"
Ucap Gibran tiba-tiba.
Mendengar ucapan laki-laki tersebut seketika Linda terdiam.
"Apa?"
perempuan itu seketika tercekat.
"Aku membunuh 2 orang malam itu hingga membuat aku mendekam di penjara selama hampir 10 tahun lama nya"
Lanjut Gibran lagi kemudian.
seketika bola mata Linda membulat, Perempuan tersebut jelas terkejut setengah mati mendengar penuturan laki-laki yang tengah memeluk nya tersebut saat ini.
__ADS_1