Semalam Dengan Papa Mu

Semalam Dengan Papa Mu
Bab 76


__ADS_3

Darrel menuntun Gea masuk ke dalam kamar mereka, membawa Perempuan itu untuk naik ke atas kasur mereka.


"masih mual?"


Darrel bertanya khawatir, membaringkan tubuh putri nya secara perlahan.


Gea menganggukkan kepalanya secara perlahan saat mendengar apa yang ditanyakan Darrel.


Bukan lagi, mual nya sungguh luar biasa, mau mati rasanya saking tidak enak nya, seolah-olah ada sesuatu yang menjijikkan dia makan didalam piring makan nya tadi namun dia tidak kunjung paham apa.


Seolah-olah ada yang begitu amis dan tidak mengenakkan melewati tenggorokan nya tadi hingga membuat satu dorongan aneh yang memaksa nya memuntahkan seluruh isi perutnya.


Dia berusaha untuk tidak memuntahkannya tapi realita nya semakin dia mencoba menahan nya yang ada malah semakin kuat dorongan tersebut memaksa untuk memuntahkan seluruh isi perutnya.


"jangan khawatir soal apapun, kita akan pergi kedokter besok"


Darrel bicara, membiarkan Gea naik ke atas kasur, membenahi posisi nya bahkan tidak lupa memberikan bantal yang bisa membuat Gea nyaman dengan posisinya.


"Aku benci pergi kerumah sakit, dad"


Gea menolak ajakan daddy nya, baginya pergi ke rumah sakit itu persis seperti melewati ujian yang tidak dia inginkan, terlalu berat. Dan juga membuat dia enggan menghadapi rutinitas menunggu antrian dan juga berhadapan dengan dokterĀ  serta di tanyakan apa keluhan nya dan lain sebagainya.


mendengar penolakan Gea, membuat laki-laki tersebut mengulum senyumannya.


"hanya sebentar, tanpa antrian, tanpa proses yang ribet, hanya mengecek kesehatan kamu kemudian pulang"


"But dad"


"percayalah pada daddy"


Bujuk Darrel lagi.


Gea menghela kasar nafasnya.


"Baiklah"


Akhirnya dia mengalah juga.


Darrel menarik selimut untuk Lea sejenak, kemudian dia berniat untuk beranjak pergi.


"Daddy mau kemana?"


Perempuan tersebut mengerut kan keningnya.


"Baby aku hanya ingin pergi merokok"


Mendengar Jawaban Deddy nya seketika membuat wajah Gea memerah, dia pikir daddy nya akan meninggalkan dirinya.


"jangan terlalu lama"


Pada Akhirnya Perempuan tersebut menganggukkan kepalanya.


Begitu Darrel telah bergerak menghilang untuk menjauhi Gea, tiba-tiba saja dari arah pintu depan, Grandma nya masuk kedalam kamar sembari membawa bantal dan selimut tambahan.


"Dimana Daddy mu?"


Wanita tua tersebut bertanya.


"Daddy bilang akan pergi menikmati rokoknya"


Jawab Gea cepat sambil memperhatikan Grandma nya yang mulai meletakkan selimut dan bantal di atas kursi sofa panjang di sudut kamar.


"Laki-laki itu... grandma sudah bilang jangan terlalu sering merokok jika ada anggota keluarga yang sakit, Karena itu tidak baik, tapi tetap saja dia tidak bisa meninggalkan rokok nya"


Wanita tua mulai mengomel.


Mendengar ocehan Grandma nya seketika membuat Gea mengulum senyuman nya.


"ngomong-ngomong apa kamu salah makan sesuatu sayang disekolah? Jangan mengonsumsi sesuatu yang tidak menyehatkan di luar hmm"


Grandma Gea bicara cepat.


"tidak ada grandma, aku pikir mungkin karena musim nya, aku jadi mual dan tidak enak badan"


Gea menjawab cepat.


"Hmmmm tapi Grandma pikir ini cukup meresahkan"


Setelah berkata begitu, wanita tersebut secara perlahan bergerak mendekati Gea, memilih duduk tepat di samping kanan dia kemudian menatap cucunya dengan pandangan penuh kasih sayang.


"Beberapa hari ini kamu terlihat pucat, Grand ma pikir sepertinya kamu benar-benar sakit sayang"


Dia akhirnya mengeluarkan unek-unek di hatinya, karena sebenarnya dia melihat Gea belakangan sedikit memucat, hal tersebut sontak membuat dia terganggu.


Mendengar ucapan Grandma-nya seketika membuat Gea mengerutkan keningnya.


"benarkah itu Grandma?"


Dia bertanya lantas membiarkan kedua tangannya menyentuh wajahnya, sedikit khawatir mendengar ucapan Grandma nya.


"Aku sama sekali tidak menyadarinya"


Jawab Perempuan tersebut cepat.


"karena kamu tidak bisa melihat nya dengan seksama, tapi Grandma melihatnya kamu benar-benar pucat"


Pada akhirnya wanita tersebut secara perlahan menyentuh pipi Gea.


"Mungkin ini efek setelah habis ujian, selama ujian kemarin aku benar-benar stress Grandma"


Gea tampak sedikit mengeluh sembari berpikir, perempuan itu mencoba untuk mengintip kearah kaca meja hias yang ada di ujung sana yang menghadap ke arah nya.


Dia mencoba untuk memperhatikan wajahnya, namun realita sedikit sulit.

__ADS_1


"Ujian memang terkadang membuat kepala kita pusing, nikmati saja karena itu proses sayang, beristirahat lah setelah itu jika masih tidak nyaman dan muntah, biarkan Darrel membawa mu pergi ke dokter"


Wanita itu berucap dengan cepat.


Gea buru-buru menganggukan kepalanya tanpa mengerti, dia membiarkan wanita tua itu bergerak pergi Menjauhi dirinya, di mana Grandma nya bergerak secara perlahan mendekati pintu kamar.


Setelah wanita itu keluar dari sana dan menutup pintu secara perlahan, kini pandangan bola mata Gea langsung berpindah menuju kearah sisi balkon.


Pintu pembatas kaca di ujung sana, menampakkan samar-samar punggung daddy nya, Gea membiarkan ekor mata nya menatap punggung tersebut secara perlahan.


Sejenak Perempuan tersebut diam, dia memperhatikan Darrel yang menghisap rokoknya secara perlahan.


Gea pada akhirnya berusaha untuk beranjak dari tempatnya, bergerak menuju ke arah pintu penghubung antara kamar tidur dan balkon, dia mendekati daddy nya secara perlahan.


Tidak tahu kenapa tapi rasanya, terlalu nyaman saat ini berada di sampingnya laki-laki tersebut.


Begitu dia mendekati pintu Balkon tersebut, dengan gerakan hati-hati Gea membuka pintu itu, lantas dia menutupnya kembali dan bergerak tepat mendekati punggung daddy nya.


Secara perlahan Gea memeluk laki-laki tersebut dari arah belakang, menikmati aroma laki-laki itu untuk beberapa waktu.


Pelukan yang diberikan oleh Gea suntuk membuat Darrel terkejut, dia ingin menoleh, namun setelah menyadari itu adalah Gea, laki-laki tersebut langsung mengurungkan niatnya, membiarkan perempuan itu memeluk dirinya erat dari belakang,kedua tangan perempuan tersebut melingkar Secara perlahan di pinggang nya.


Darrel mematikan dengan cepat api rokok nya, dia menginjak Putung rokok miliknya dengan cepat menggunakan sandal tidur nya, takut jika aroma asap akan mengganggu Gea.


Di mana pada akhirnya kedua tangannya Darrel menggenggam kedua tangan Gea yang bertaut di depan pinggang nya.


"Ada sesuatu yang salah baby?"


Darrel bertanya cepat kearah Gea.


"Tidak ada, aku hanya ingin memeluk daddy saja"


Gea menjawab cepat, membiarkan wajah dan kepalanya bersandar di punggung daddy nya.


Rasanya begitu nyaman dan hangat.


"mari kembali ke kamar hmmm, udara nya terasa begitu dingin"


Bisik Darrel kemudian.


Alih-alih menjawab, Gea memilih memejamkan bola matanya, menikmati aroma tubuh daddy nya untuk beberapa waktu.


"biarkan seperti ini Sejenak dad"


Ucap Gea pelan.


Mendengar ucapan putrinya membuat Darrel diam untuk beberapa waktu, laki-laki tersebut tidak bergeming sama sekali, pada akhirnya dia membiarkan Gea menikmati masa kebersamaan mereka saling menatap indah nya langit malam.


"katakan pada daddy"


Tiba-tiba saja laki-laki tersebut bicara memecah kebisuan.


"Jika kita memiliki seorang bayi, apa yang kamu pikirkan baby?"


Mendengar pertanyaan daddy nya soal anak jelas saja membuat Gea mengerutkan keningnya.


"Aku menyukai mereka dad, tapi bukankah terlalu dini jika aku memiliki anak-anak saat ini?"


Gea Bertanya sambil mendongakkan kepalanya, menatap kearah belakang punggung Daddynya untuk beberapa waktu.


Laki-laki tersebut memiliki ukuran tubuh yang jauh lebih tinggi dari nya, agak sulit mengimbangi tubuh nya yang kecil dan mungil.


Darrel secara perlahan membalikkan tubuhnya, dia memutar dan membiarkan Gea masuk kedalam dekapan nya, dia memeluk hangat Gea, menatap bola mata perempuan tersebut secara intens.


"Tidak terlalu dini, mereka akan melengkapi keluarga kita"


Darrel bicara lembut kearah Gea, menelisik bola mata Putrinya tersebut dengan penuh cinta dan gairah.


Bagaimana mengatakan nya, Darrel tidak pernah jatuh cinta pada siapapun sebelumnya, tapi dengan Gea perasaan nya terlalu terasa unik dan aneh, dia sangat Sulit sekali menahan debaran yang ada di dalam hatinya, setiap kali dia menatap putrinya jantungnya seolah-olah berdetak ratusan kali lipat dari biasanya, ada satu gejolak di dalam dadanya yang tidak dia ketahui mengapa, yang jelas dia merasa seolah-olah dia tidak bisa mengendalikan hatinya, terlalu mengharapkan sesuatu yang berlebihan dari Gea, seakan-akan hidupnya sepenuhnya adalah milik putrinya.


Dia seperti laki-laki yang diperbudak oleh cinta, menghalalkan banyak cara untuk mendapatkan Gea serta menyingkirkan Alisa.


Berapa lama dia mengetahui perselingkuhan Alisa? Lama... sangat lama, dia memulai kecurigaan besar nya, bergumul dengan tekanan demi tekanan dan mencoba untuk menghilangkan perasaan marah di dalam hatinya atas kebohongan Alisa pada dirinya.


Kekecewaan nya dimulai dari satu kenyataan pahit ketika dia tahu kejadian malam itu, dimana Alisa menukar dirinya dengan saudara tiri Alisa.


Sial.


Umpat Darrel penuh kemarahan.


Gea tampak berpikir, kata keluarga lengkap membuat dia mengulum senyumannya, tapi seketika dia ingat akan sesuatu.


"aku masih sekolah dad"


Ucap Gea kemudian.


Mendengar ucapan Gea, seketika Darrel mengembangkan senyuman nya.


"bukan masalah, bukan kah SMA Oxtone milik keluarga kita? Apa yang tidak bisa daddy atur untuk mu, kamu bisa mengikuti ujian dirumah dan menyelesaikan pendidikan mu tepat waktu"


Darrel jelas saja menganggap semua tidak mungkin menjadi rumit, apa yang tidak bisa dilakukan? Dia bahkan bisa membuat Gea lulus dengan nilai terbaik.


"itu curang daddy"


Gea tampak memunyungkan bibirnya, sedikit tidak setuju dengan saran daddy nya.


"Tidak ada yang curang di dunia ini sayang, tapi daddy hanya mempermudah keadaan"


Lanjut laki-laki tersebut cepat.


"Kamu tahu? Daddy menginginkan seorang bayi diantara kita, itu akan sangat sempurna sekali baby, kita akan memulai semuanya dari awal, mencetak banyak anak dan hidup dengan tenang bersama"


Itu menjadi cita-cita Darrel dalam hubungannya dan Gea, seolah-olah dia telah membuat rencana untuk mereka.

__ADS_1


Gea terlihat diam dan mendengarkan apa yang diucapkan laki-laki yang ada di hadapannya tersebut, sejenak perempuan itu menggigit bibir bawahnya.


"Lalu bagaimana dengan mommy?"


Tanya Gea cepat.


Darrel Tampak diam, menatap wajah putri nya sejenak.


"Daddy sudah mengurus surat perceraian dengan Alisa"


Dia menjawab dengan mantap, hal tersebut jelas membuat Gea cukup terkejut, seketika dia merasa dia telah menjadi pelakor dalam hubungan orang tuanya.


"Aku memperumit dan merusak hubungan daddy dan mommy"


Sesal Gea cepat.


"No..baby, hubungan kami sejak awal sudah tidak baik-baik saja"


Bisik Darrel kemudian, dia menyentuh lembut wajah Gea, membiarkan telapak tangan nya berada di kedua belah pipi chubby putri nya.


"Hubungan ini sudah memburuk sejak dulu, aku hanya berusaha untuk bertahan karena disahkan Grandpa mu"


Jelas Darrel cepat, bisa dia lihat wajah penuh penyesalan dibalik wajah Gea.


"Daddy hanya menunggu waktu yang tepat untuk berpisah dengan Alisa, sangat lama sekali mencari timing waktu yang terbaik untuk kami saling melepaskan antara satu dengan yang lainnya"


Gea masih mendongakkan kepalanya sembari mendengarkan penjelasan Daddy nya, bola mata perempuan tersebut mulai berkaca-kaca.


"Hingga pada akhirnya hari itu terjadi dan membuat Daddy memutuskan untuk mengirim surat perceraian kami"


Lanjut Darrel lagi.


"Jangan khawatir soal apapun, karena pada akhirnya kami memang tidak lagi mungkin bersama"


Gea tampak masih diam, memilih tidak mengeluarkan sedikit pun suaranya untuk beberapa waktu.


"Apakah semua karena mommy berselingkuh?"


Pada akhirnya Gea mencoba memberanikan dirinya untuk bertanya.


Mendengar ucapan Gea sejenak membuat Darrel menggerutkan keningnya.


"Kamu tahu?"


Tanya laki-laki itu pelan.


Gea diam sejenak, kemudian dia mengangguk kan kepalanya.


"Aku tahu itu sejak kecil"


Pada akhirnya perempuan tersebut membuka suaranya, dia selama ini tidak berani membicarakan soal selingkuhan mommynya, memilih diam dan menyimpan semuanya sendiri.


"Aku sering melihat mereka berdua di dalam kamar yang sama bahkan beberapa kali aku mendengar mommy berteriak nikmat bersama laki-laki lain di belakang daddy selama ini"


Ucap Gea pelan, dia menundukkan kepalanya karena takut membicarakan hal tersebut, tidak berani menatap wajah darah karena menyimpan hal tersebut selama ini.


"Kenapa baru membicarakannya pada daddy?"


Darrel jelas Bertanya sambil mengerutkan keningnya.


"aku tidak ingin kalian bertengkar dan memilih untuk berpisah, sebab mommy bilang jika kalian berpisah, Daddy akan mengusir ku dari rumah bersama mommy dan kami akan menjadi gembel selama-lamanya, tidak ada uang belanja, tidak ada sekolah gratis, tidak ada kehidupan layak untuk kami"


Seketika air mata Gea tumpah.


Darrel sejenak tidak bergeming, dia menatap Gea yang menundukkan kepalanya.


Hahhh, cihhhh.


Darrel pikir, Alisa benar-benar ahli dalam menekan seseorang, bahkan dia menekan dia Gea dengan kata-kata yang mengerikan.


"Tentu saja itu tidak akan terjadi padamu baby, bagaimana mungkin daddy


membuangmu dan mengabaikanmu, itu tidak mungkin terjadi"


Ucap Darrel cepat.


"Kami tentu akan bercerai, Alisa bisa memilih kehidupannya tapi kamu tidak akan ikut bersama Alisa karena pada akhirnya kamu akan tetap tinggal bersama daddy"


Darrel mana mungkin mengabaikan Gea, baginya saat ini dia adalah segala-galanya dan dia tidak peduli Alisa ingin pergi ke mana setelah perceraian mereka.


Dia hanya ingin menuntaskan soal Alisa, bercerai, berpisah kemudian tidak ingin lagi berhubungan dengan perempuan tersebut.


Baginya hubungan mereka dan juga kisah mereka telah usai lama, dia tidak perlu lagi mempedulikan soal apapun tentang perempuan tersebut.


"Jika semua urusan perceraian yang telah selesai mari kita pengurus pernikahan kita berdua"


Ucap Darrel lagi kemudian.


Mendengar ucapan Darrel seketika membuat Gea kembali mendongakkan kepalanya, Darrel tiba-tiba menyentuh lembut dagu nya.


"kita akan mengurus pernikahan, memilih pindah ketempat baru dan melupakan semua kisah lama yang kemarin"


Mendengar ucapan Darrel seketika membuat bola mata dia berkaca-kaca.


"but dad?"


"tidak ada kata tapi baby"


Ucap Darrel lagi kemudian.


Lantas secara perlahan laki-laki tersebut menautkan bibir mereka untuk waktu yang begitu lama.


Di dalam kamar tanpa mereka sadari seseorang berdiri mematung mendengar ucapan Darrel, dan detik berikutnya dia terkejut melihat Darrel dan Gea saling bercumbu bibir antara satu dengan yang lainnya.

__ADS_1


"Kalian...?"


__ADS_2