Semalam Dengan Papa Mu

Semalam Dengan Papa Mu
Bab 68


__ADS_3

Rumah sakit xxxxxxx


Pusat kota


Paris.


Bola mata Alisa menatap cemas ke arah pintu ruangan dokter di hadapannya, dia terlihat sedikit cemas menatap kearah depan sana sejak tadi.


Perempuan tersebut mencoba untuk memastikan soal sesuatu apakah mungkin dia saat ini hamil?!.


Ucapan Bram jelas sangat mengganggu pemikirannya dalam beberapa waktu ini, dia pikir bagaimana bisa dia hamil saat ini.


Tapi demi apapun dia benar-benar yakin jika Tempo hari dia mencoba menggunakan tespek untuk dirinya dan dia melihat dua garis merah di sana.


Bahkan rasanya dia belum memiliki gangguan pada kornea matanya soal warna atau bahkan garis yang ada di sekitarnya, jadi dia tidak mungkin salah saat melakukan tes alat kehamilan.


Karena itu saat Bram berkata begitu, satu kekhawatiran menghantam dirinya.


Alisa pikir apakah mungkin ada yang salah dengan dirinya?.


Perempuan itu kembali menatap ke arah depan lantas dia menoleh ke sisi kiri dan kanan yang memperhatikan antrian yang ada di sana, bisa dilihat semua orang rata-rata membawa pasangan mereka dan banyak para ibu hamil yang perutnya telah membesar.


Alisa sejenak menelan salivanya dia kembali menatap lurus ke arah depan untuk beberapa waktu.


Hingga pada akhirnya setelah lama dia menunggu namanya disebutkan agar masuk ke dalam sana, Alisa buru-buru bergerak dengan cepat masuk ke dalam ruangan tersebut.


Begitu dia masuk ke ruangan itu bisa dia lihat seorang dokter perempuan mengembangkan senyuman nya ke hadapannya, mempersilakan dirinya duduk di hadapan dokter tersebut ke atas sebuah kursi yang memang disediakan untuk para pasien.


Terjadi sedikit obrolan di antara mereka seperti tanya jawab dan lain sebagainya, hingga akhirnya dia diminta untuk naik ke atas ranjang dokter perempuan itu mulai memeriksa keadaannya.


Tidak banyak percakapan yang terjadi di antara mereka gimana dokter perempuan itu terlihat konsentrasi dan fokus untuk memeriksa dirinya.


Dan beberapa waktu kemudian dokter itu meminta dirinya untuk masuk ke dalam kamar mandi dan mencoba untuk melakukan tes urine sekali lagi.


"Kita akan coba melihat hasilnya"


Perempuan tersebut bicara sembari mengembangkan senyumannya, dia berharap Alisa mau menunggu dengan sabar untuk beberapa waktu.


Alisa menganggukan kepalanya, dia mencoba untuk menunggu dengan sabar tentang hasil pemeriksaan tersebut meskipun tidak dipungkiri jutaan kekhawatiran menghantam dirinya.


Entah berapa lama dia menunggu dia tidak tahu yang jelas dia diminta untuk jodoh di atas kursi di mana dia berada sejak tadi, dokter perempuan itu tanpa masuk ke dalam satu ruangan bersama satu perawatnya, cukup lama hingga akhirnya dokter perempuan itu keluar dari sana lantas kembali tepat berada di hadapannya dan duduk saling berhadapan dengan dirinya.


"Apakah ada hal yang aneh dok? Maksud ku, apakah aku benar-benar hamil atau tidak hamil?"


Alisa mencoba bertanya dengan perasaan tidak sabaran sembari dia menatap dalam bola mata dokter perempuan tersebut.


Seperti awal pertemuan mereka dan sejak tadi dokter itu kembali melebarkan senyumannya lantas dia berkata.


"Anda tidak hamil sama sekali, nona Alisa"

__ADS_1


Ucap dokter perempuan itu dengan tatapan mata serius.


Mendengar apa yang dikatakan oleh dokter perempuan di hadapannya seketika membuat Alisa membulatkan bola matanya.


"Apa?"


Dia bertanya dengan bibir bergetar, seketika Alisa menggenggam kedua telapak tangannya.


Tidak mungkin.


Dia mencoba untuk menahan suaranya, seketika rasa bingung meñghantam dirinya.


******


Alisa menggerakkan mobilnya dengan cepat menuju ke arah depan, tujuan utamanya saat ini adalah kembali ke mansion Darrel, dia mencoba untuk mengingat-ingat apakah dia juga melakukan tes kehamilan di kamarnya di mansion Darrel?!.


Dia ingat betul bagaimana dia melakukan tes kehamilan kemarin, Alisa berani bersumpah jika dia melihat dua tanda garis merah di sana. Lalu bagaimana bisa semua orang memvonis dirinya tidak hamil.


Alisa pikir dia sama sekali belum kehilangan atau warasnya, dia sangat yakin dengan pemandangan matanya kemarin.


Perempuan itu terus melanjutkan mobilnya ke arah depan, mencoba memfokuskan matanya sembari desa sekali memijat-mijat kepalanya.


Hingga akhirnya entah berapa lama dia melanjutkan mobilnya perempuan tersebut tiba di mansion Darrel, dia langsung turun dari dalam mobil nya, bergerak cepat keluar dari sana menuju ke arah mansion, lantas berlari menuju ke arah kamarnya dengan gerakan terburu-buru.


Tidak dia pedulikan sapaan para pelayan atau bahkan ketika orang-orang menundukkan kepalanya kepada dirinya, yang dipedulikan saat ini adalah dia masuk ke kamarnya dan mencari alat tes kehamilan kemarin.


Dia sama sekali tidak mendapatkannya di mansion nya, jadi Alisa pikir mungkin dia meninggalkannya di kamar di mansion Darrel dia.


Tidak dia pedulikan bagaimana kacaunya kamar itu ketika dia memporak-porandakan semua isinya hanya untuk sebuah alat tes kehamilan yang dia lupakan, dia pikir dia tidak mungkin melupakan meletakkan benda pipi tersebut.


Cukup lama dia mencari kesana kemari membuka semua isi lemari di kamarnya hingga pada akhirnya rasa lelah menerjang dirinya dan dia sama sekali tidak menemukan benda yang ingin dia temukan itu.


Tidak bisa dibayangkan bagaimana kacaunya keadaan kamar yang saat ini, Alisa terlihat menyandarkan tubuhnya sejenak di dinding lantas beberapa detik kemudian dia mencoba untuk duduk di tepian kasur.


Perempuan itu berusaha untuk berpikir sembari memijat-mijatkan kedua pelipis, hingga akhirnya dia pikir lebih baik dia berhenti melakukan semuanya sebab tiba-tiba satu ingatan menghantam diri nya.


Gea?!.


Dia ingat pada putrinya tersebut.


Perempuan itu bergerak dengan cepat keluar dari kamar itu lantas bergerak turun ke arah lantai bawah, ketika dia melihat seorang pelayan bergerak menuju ke arah dapur, Alisa buru-buru mengejar langkah atas bertanya soal keberadaan Gea dan juga Darrel.


"Katakan padaku bi, di mana Gea?"


Alisa bertanya cepat ke arah pelayan yang ada di dapur tersebut.


Wanita itu cukup terkejut dengan kehadiran Alisa, dia pada akhirnya buru-buru menjawab.


"Nona muda ada di kamar nya, nyonya"

__ADS_1


Mendengar jawaban pelayan tersebut wanita itu buru-buru langsung bergerak kembali untuk naik ke atas tapi kemudian dia ingat soal sesuatu.


"Katakan padaku apakah Darrel sudah pulang dari perusahaan?"


Alisa langsung menghentikan gerakan kakinya lantas dia menoleh ke arah pelayan wanita tersebut dan bertanya soal Darrel.


"Tuan juga ada di kamar nona, nyonya"


Jawab pelayan itu lagi cepat.


Mendengar jawaban dari sang pelayan seketika membuat Alisa mengerutkan keningnya.


"Ya?"


Tanyanya dengan nada sedikit terkejut.


Di kamar Gea? Di jam malam seperti ini?!.


Rasanya otaknya masih waras saat ini, dia pikir ini sangat aneh sekali saat Darrel tiba-tiba berada di kamar putrinya pada jam seperti ini.


"Apa mereka tidur di kamar yang sama, bi?"


Perempuan tersebut bertanya sambil terus menatap wanita yang ada di ujung sana.


Sejenak wanita tersebut terdiam dia cukup bingung harus menjawab bagaimana.


"Sejak pulang dari Swiss mereka selalu tinggal di kamar yang sama, biasanya mereka tinggal di kamar tuan Darrel, tapi kali ini mereka tinggal di kamar Nona muda"


Jawab wanita itu perlahan cukup takut jika disalahkan.


Mendengar jawaban wanita itu seketika membuat Alisha membulatkan bola matanya.


"Apa?"


Dan rasanya cukup aneh laki-laki tersebut membawa putrinya tidur di kamar yang sama tanpa sepengetahuan dirinya.


Alisa buru-buru langsung naik dengan cepat ke lantai atas, dia bergerak menuju ke arah kamar Gea tanpa harus berpikir dua tiga kali, kecemasan mendalam menghantam dirinya saat ini.


Dia pikir selama pernikahan mereka Darrel bahkan tidak pernah tidur di kamar yang sama dengan dirinya, lalu bagaimana mungkin Darrel memilih untuk tidur di kamar yang sama dengan Putri mereka.


Alisa secepat kilat langsung pergi ke kamar dia, begitu tiba di kamar putrinya tersebut perempuan itu dengan gerakan terburu-buru langsung mengetuk pintu kamarnya dengan perasaan tidak sabaran.


Tidak tahu kenapa pikirannya menjadi kacau balau belakangan ini termasuk tentang Darrel Dan Gea, Alisa pikir kepalanya saat ini benar-benar akan pecah.


Dugggg.


Dugggg.


Dugggg.

__ADS_1


Dia menggedor pintu kamar putrinya beberapa kali dengan perasaan tidak sabaran.


__ADS_2