Semalam Dengan Papa Mu

Semalam Dengan Papa Mu
Kejutan tak terduga


__ADS_3

Masih di masa lalu


Mansion utama keluarga Conte


Gibran masih mengintip sejenak kearah bawah melalui jendela kaca yang di tutupi dengan sekat naik turun melalui tangan kanan nya, laki-laki tersebut terus memperhatikan gerakan semua orang yang mulai Keluar dari pintu belakang dan menaiki mobil yang telah di persiapkan oleh Gibran.


Memastikan jika mommy nya pasti telah dibawa oleh laki-laki tadi dengan cepat, dia khawatir Conte melihat kepergian orang-orang yang dia cintai tersebut.


Bisa Gibran lihat langit mulai menggelap dan kilatan cahaya petir mulai memecah langit malam ini.


tidak tahu kenapa kegelisahan jelas menghantam dirinya, dibalik berhasil atau tidak rencana yang telah dibuat, malam ini dia ingin menyelesaikan semuanya dengan kedua tangannya tanpa terkecuali.


tidak peduli gimana hasil akhirnya nanti, siapa yang akan binasa di antara dirinya dan Conte palsu, Gibran tetap akan bergerak maju hingga titik akhir.


Sejenak laki-laki tersebut menghela nafas nya yang panjang, pandangan yang menatap mata ke depan untuk beberapa waktu.


dia menggenggam telapak tangannya dengan penuh dendam serta kemarahan, kemudian sejenak bola matanya melirik ke arah kanan.


lewat tengah malam!.


ini adalah waktu yang paling tepat untuk melakukan apapun yang telah direncanakan olehnya kemarin.


Kembali bola mata Gibran menetap ke arah bawah bisa dilihat mobil yang dinaiki mobilnya perlahan mulai beranjak pergi dari sana.


Setelah memastikan semua orang pergi dengan keadaan baik-baik saja, Gibran secara perlahan mulai beranjak dari tempatnya.


laki-laki tersebut menjauhi pintu jendela kaca yang menembus pandangannya menatap kepergian mommy nya dan Eliza serta beberapa orang yang diperintahkannya untuk pergi dari sana.


jika ada yang bertanya bagaimana perasaannya saat ini dia jelas tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata, api kemarahan, kebencian dan rasa ingin untuk menghabisi Conte jelas menghantam dirinya menjadi satu saat ini.


Setiap kali menutup matanya nama Conte dan wajah Conte seolah menjadi mimpi paling buruk di dalam hidupnya, sesungguhnya dia sudah telalu muak dengan laki-laki tersebut sejak lama tapi dia masih berusaha menahan kemarahannya terhadap laki-laki tersebut karena dia pikir Conte tidak akan mungkin melakukan segala sesuatu di batas kewajaran nya.

__ADS_1


Tapi kali ini semua jelas sudah melampaui batasannya, kesalahan laki-laki tersebut sudah tidak bisa di anggap ringan, dia sudah tidak dapat mentolerir atau bahkan memaafkan nya lagi.


Semua sudah berada di ambang batasan dan Gibran sudah kehilangan batas kesabaran nya.


Setelah menghancurkan Winda, menghilang kan calon bayi dia dan Linda, menghancurkan kehidupan dan keluarga Linda, laki-laki yang begitu dia benci tersebut kini berniat untuk menghancurkan Adik kesayangannya.


Dimasa kemarin bahkan Conte membohongi Mommy nya soal status kekeluargaan Conte, laki-laki itu masuk kedalam keluarga nya dengan cara yang begitu halus dan memanipulasi banyak hal di belakang semua orang.


Termasuk terlibat pada kasus kematian Daddy kandung nya dan juga pengalihan hak di keluarga Conte.


bayangkan siapa yang akan diam dan bertahan? manusia manapun jelas akan berang dan marah, bahkan bisa jadi menggila jika mendapat kan perlakuan seperti itu.


Bagi nya Conte tidak ubah seperti seekor binatang, menerkam kemanapun sesuai keinginannya, manusia seperti Conte jelas dia anggap tidak pantas untuk hidup, pilihan satu-satunya adalah memusnahkan laki-laki tersebut.


jika dibiarkan atau hanya diberi peringatan, tidak akan pernah jerah dan kapok.


Conte pikir karena dia masih muda, laki-laki tersebut bisa mengendalikan dirinya, laki-laki itu pikir Gibran hanya akan pasrah dan diam, tidak berani membantah atau melaporkan perbuatan nya.


Dia tentu melakukan nya, ketika dia gagal membuat Conte mendekam di penjara, maka dia jelas langsung mencari cara lain untuk menghancurkan laki-laki tersebut dengan tangan nya sendiri.


Gibran berjalan perlahan dengan begitu tenang ke arah sisi kirinya, dia bergerak seolah-olah tidak terjadi sesuatu di dalam rumah tersebut, membiarkan kaki nya melangkah menuju ke arah satu kamar yang biasa Conte tempati untuk beristirahat di sisi kiri mansion tersebut.


bola mata laki-laki tersebut menutup aurat setiap sisi bangunan mewah itu, memastikan tidak ada lagi satupun orang yang ada di sana termasuk orang-orang Conte.


Ditengah hujan deras yang membasahi bumi serta beberapa kali kilat terlihat Menghantam langit hingga nyaris menembus dari arah balik kaca di beberapa sudut ruangan, Laki-laki tersebut terus berjalan kearah depan nya.


suasana rumah yang mencekam tanpa penghuni menambah kengerian tersendiri ketika sosok Gibran berjalan mendekati kamar yang ada di hadapannya.


bola mata menggelap milik laki-laki tersebut seolah-olah menampilkan satu sisi paling gelap dalam dirinya, Gibran terlihat siap untuk membinasakan siapapun yang ada di hadapannya saat ini, tidak peduli siapapun yang menghalangi jalannya akan Gibran pastikan orang itu akan habis ditangan nya.


Rahang laki-laki itu terlihat mengeras di iringi antara gigi dan bawahnya yang saling mengerat, senjata api di punggung nya terlihat menyembul menampilkan bagian gagang nya saja yang dimana sisanya di tutup oleh pakaian yang digunakan nya.

__ADS_1


begitu Gibran tiba di depan pintu kamar mendominasi berwarna putih di hadapannya tersebut, sejenak laki-laki itu menatap gagang pintu tersebut untuk beberapa waktu.


dia terlihat tak bergeming untuk waktu yang cukup lama, entah apa yang dipikirkan sebenarnya oleh dirinya saat ini, tapi sepersekian detik kemudian secara perlahan laki-laki tersebut mulai memutar gagang pintu dihadapan nya Tersebut.


Klekkkkk.


begitu Gagang pintu tersebut diputar bisa dipastikan pintu itu terbuka secara perlahan, dengan langkah perlahan Gibran masuk ke dalam kamar tersebut, bisa dilihat di tengah-tengah bangunan kamar mewah itu terdapat sebuah kasur mendominasi berwarna keemasan yang berdiri kokoh didalam kamar bernuansa Eropa tersebut.


Di atas kasur itu terlihat satu sosok laki-laki tua yang tengah-tengah tidur pulas seperti tanpa dosa, Gibran seketika menggeram, dia menggenggam erat telapak tangan nya untuk beberapa waktu.


laki-laki itu berjalan perlahan mendekati sosok konte yang tengah tertidur dengan lelap, dia mulai meraih pistol yang ada di belakang punggungnya secara perlahan.


begitu laki-laki tersebut tiba tepat di samping sisi kanan Conte, Gibran Tampak berdiri tidak bergeming untuk beberapa waktu, dia menatap jijik wajah Conte dengan penuh kemarahan lalu sepersekian detik kemudian moncong pistolnya mengarah tepat ke arah kepala Conte.


Kletakkkkk.


Gibran bersiap untuk menarik pelatuk pistol nya namun siapa sangka tiba-tiba terdengar suara dibalik bibir laki-laki tersebut.


"Kau pikir aku tidak tahu bagaimana jalan pikiranmu?"


suara Conte seketika memecah keheningan.


Gibran jelas terkejut.


tahu-tahu bola mata Conte terbuka, senyuman mengerikan tampil di balik bibirnya.


"Kau...?"


Gibran tercekat menatap laki-laki tersebut.


Lalu tiba-tiba muncul beberapa orang di arah balik pintu, dimana orang-orang tersebut menyeret langkah adik nya Eliza dan mommy nya.

__ADS_1


"Selamat datang kembali di neraka, Son"


Ucap Conte sambil terkekeh bak iblis pencabut nyawa.


__ADS_2