Semalam Dengan Papa Mu

Semalam Dengan Papa Mu
Chapter 35


__ADS_3

Disisi lain


Mansion xxxxxxxx.


Seorang dokter terlihat memeriksa keadaan perempuan yang terbaring lemah tidak berdaya di hadapannya tersebut, perempuan itu masih terlihat terlelap di dalam tidurnya dengan tenang, dimana sang dokter terus kondisi keadaannya.


Di sudut ruangan di sisi sebelah kanan Alisa terlihat duduk di atas kursi sofa mendominasi berwarna Crem muda, dia duduk dengan keadaan cukup gelisah sembari bola matanya terus menetap ke arah sang dokter dan sosok perempuan yang tergolek tidak berdaya tersebut.


Perempuan itu sesekali memijat-mijat keningnya, seolah-olah saat ini baginya keadaan tidak baik-baik saja, dia bahkan berusaha untuk menetralisir perasaannya saat ini.


Cukup lama sang dokter bergerak memeriksa keadaan perempuan tidak berdaya tersebut, di mana pada akhirnya di detik berikutnya dokter laki-laki tersebut secara perlahan menyuntikkan sebuah obat di kantong infus yang terhubung langsung ke dalam perempuan yang tergolek di atas kasur mendominasi berwarna putih tersebut.


Setelah selesai menyuntikkan cairan obat itu dengan cepat sang dokter langsung berbalik dan bersiap untuk beranjak pergi dari sana.


Alisa secepat kilat langsung berdiri dari posisi duduknya, dia bergerak cepat mendekati dokter laki-laki berusia sekitar 40 tahunan lebih tersebut dengan perasaan yang kacau balau.


"Bagaimana keadaan nya?"


Dia bertanya dengan perasaan sedikit tidak sabaran, bola matanya menatap kearah dokter tersebut, menunggu jawaban dari laki-laki yang ada di hadapannya dengan perasaan was-was.


Mendengar pertanyaan dari perempuan yang ada di hadapannya itu sang dokter kemudian berkata.


"Keadaannya cukup stabil,di sama sekali belum sadar dari tidurnya, aku pikir itu hanya sebuah respon karena keterkejutan Silsila karena dia dipindahkan dengan paksa oleh kalian dari satu tempat menuju ke tempat yang baru"


Dia menjawab dengan cepat, mencoba menjelaskan kenapa layar monitornya terus berdenyut sejak kemarin.

__ADS_1


Mendengar ucapan dokter tersebut membuat Alisa sedikit lega.


"Aku khawatir dia akan bangun dari posisi tidurnya dengan cepat mengingat bagaimana progres kesehatannya di saat ini, kau tahu jika dia bangun terlalu cepat dari tidur panjangnya, aku takut rencana yang telah aku sesuai sejak lama akan hancur dan kacau berantakan"


Ucap Alisa kepada dokter yang ada di hadapannya itu, bisa dilihat bagaimana mimik wajah perempuan itu saat ini,


"Bayangan bagaimana rencana yang telah aku susun cukup lama hingga hari ini akan kacau berantakan jika silsilah bangun dari tidur panjangnya"


Lanjut perempuan itu lagi kemudian.


Mendengar ucapan Anisa membuat sang dokter terlihat diam dan tidak bicara apapun


"Meskipun aku tahu senjata yang aku butuhkan saat ini adalah Gea, tapi aku khawatir jika silsilah bangun dari tidur ya maka hancur sudah semuanya, bisa dipastikan aku bahkan akan kehilangan Gea dengan cepat dan aku akan keluar dari keluarga Oxtone tanpa membawa sepeserpun hak menunggu ku hingga selama ini"


Setelah berkata seperti itu Alisa langsung menoleh ke arah Perempuan yang dia panggil dengan nama silsila.


Arisa kembali bicara lantas menoleh ke arah dokter tersebut, bola matanya menatap tajam pada laki-laki di depannya itu untuk beberapa waktu.


"Jangan khawatir soal apapun itu"


Jawab laki-laki tersebut sambil menganggukkan kepalanya.


Tidak berapa lama kemudian kedua orang tersebut langsung membalikkan tubuh mereka, di mana pada akhirnya dua orang itu bergerak menjauhi Perempuan yang terbaring tidak berdaya tersebut secara perlahan.


Mereka keluar dari kamar mendominasi berwarna putih itu, kemudian menutup pintunya dengan perlahan lantas belanja pergi dari sana hingga tidak lagi menimbulkan sedikitpun suara.

__ADS_1


Dan di dalam kamar tersebut keheningan kembali terjadi, yang terdengar hanya suara layar monitor Yang mengontrol detak jantung perempuan yang tengah terbaring tersebut.


Di tangan kanan perempuan itu tiba-tiba saja terlihat bergerak secara perlahan, bisa dilihat tangan kanan perempuan itu pernah menemukan selang yang terhubung langsung di urat nadi nya, warna darah mulai naik menuju ke arah selatan di mana saluran obat yang baru saja disuntikkan oleh dokter tersebut tadi sama sekali tidak bisa melewati selang tersebut dan menembus ke arah urat nadinya disebabkan oleh tangan perempuan itu terus melakukan selang infus tersebut agar aliran obat nya tidak mengalir melewati nadi nya.


Seketika bola mata perempuan itu terbuka dengan sempurna, dia sama sekali tidak mengeluarkan suaranya namun dia berusaha untuk menetralisir detak jantungnya agar tidak menimbulkan keributan melalui layar monitor Yang mengontrol kehidupannya.


Perempuan itu terlihat diam untuk beberapa waktu, dia tidak bergeming sama sekali hingga akhirnya secara perlahan perempuan itu langsung bergeser dari posisi tidurnya dan mencoba memaksa dirinya untung dulu di atas kasur tersebut dan beranjak turun secara perlahan.


Tubuhnya jelas tidak dalam keadaan baik-baik saja, di mana dia yang terbaring begitu lama hingga bertahun-tahun dan pada akhirnya beberapa hari ini telah berusaha bangun dan mencoba untuk meregangkan otot-ototnya, perempuan itu mulai mencoba untuk menetralisir seluruh tulang-tulang dari ujung kaki hingga ujung kepalanya danĀ  memastikan jika dirinya baik-baik saja,


Dia tahu dia cukup sulit untuk bangun saat ini mengingat seluruh tubuhnya masih terasa keram.


Hingga akhir nya perempuan berparas cantik tersebut terlihat mencoba mencabut selang info yang terhubung ke dalam dirinya, di mana darah telah melewati sedikit selang infus tersebut untuk beberapa waktu.


Sejenak bola mata perempuan itu mencoba untuk menelisik tempat tersebut secara perlahan, dia sejujurnya telah memantau tempat tersebut dalam dua hari terakhir.


Perempuan itu mencoba beringsut dari posisinya, dia tahu saat ini dia benar-benar tidak memiliki tenaga dia dia tidak baik-baik saja.


Dia berusaha untuk bangun dari tempatnya, gimana masih bisa dirasakan betapa sempoyongannya dia berdiri saat ini, mencoba untuk memastikan dirinya agar tidak jatuh ke lantai mengingat kondisi fisiknya jelas tidak normal seperti biasanya, dia jelas tidak dalam keadaan baik untuk bergerak banyak saat ini namun dia mengembalikan kondisi fisiknya dan berharap agar segera pergi dari sana secepatnya


Silsila pada akhirnya bergerak menuju ke arah pintu kamar mandi, kemudian perempuan itu menelisik bagian dalam kamar mandi, dia pikir di harus segera masuk ke dalam sana secepatnya, dan mencoba untuk pergi dari tempat itu tanpa berpikir dua tiga kali, silsila tahu hari ini akan menjadi hari kesempatan terakhirnya untuk melarikan diri, dia sudah tidak mungkin lagi untuk bertahan di tempat itu saat ini.


Perempuan itu akhirnya mencoba bergerak menuju kearah kamar mandi dimana tubuh nya jelas masih terlihat sangat berat sekali untuk melakukan sesuatu saat ini sebab kondisinya saat ini masih terlihat sempoyongan dan sedikit kesulitan untuk dikendalikan.


Dan pada akhirnya setelah dia masuk ke dalam kamar mandi tersebut seketika bola mata perempuan itu langsung menoleh dan melirik ke arah atas dimana kini pandangan perempuan tersebut kini tertuju pada beberapa sisi yang ada di sekita atap.

__ADS_1


Namun sayangnya belum pula perempuan tersebut benar-benar bisa menelusuri ke beberapa sisi diatas atas atap itu, seketika dia mematung dan membeku karena dia mendengar beberapa gerakan suara sepatu dari orang luar sana.


Dan bayangkan bagaimana paniknya perempuan tersebut saat ini, dia langsung membulatkan bola matanya dan keringat dingin mulai membasahi wajahnya di seluruh anggota tubuh nya.


__ADS_2