
Linda terlihat bingung dan terkejut, menatap ruangan yang dipenuhi berbagai macam hiasan Indah.
Entahlah sepertinya ruangan tersebut masih tertuju pada satu ruangan lainnya seolah-olah ada seseorang yang menunggu disana.
"Mom?"
Satu suara mengejutkan dirinya.
Itu adalah Bastian, laki-laki tersebut menatap dirinya, membawanya agar duduk di sebuah kursi yang ada di sisi kiri mereka.
Linda bingung, ingin sekali pergi dari sana menata curiga, khawatir dia pikir sepertinya semua telah di rencanakan, Bastian dan winda sedang membuat tipuan untuk nya.
"Apa yang kamu lakukan?"
Linda mencoba bertanya, yakin pasti ada Gibran di ujung sana, dia tidak ingin bertemu Gibran, Bastian jelas tahu itu.
__ADS_1
Rasa malu dan perasaan yang bercampur aduk menjadi satu juga maaf yang sulit diberikan atau disampaikan masih tidak bisa bersemayam didalam hati nya.
"Mom"
Bastian kembali bicara, memilih duduk sambil menggenggam erat telapak tangan Linda, bola matanya menatap dalam ke arah mommy nya.
"Terkadang kita lupa, saat kita merasa kita yang paling terluka, kita lupa jika sebenarnya ada yang jauh lebih terluka dari kita"
ucap Bastian pelan sembari menatap dalam bola matamu mommy nya.
"saat kita berpikir kejadian lalu menyakiti perasaan kita dan kita meragu juga tidak ingin memberikan kesempatan kepada orang lain karena kita merasa kita yang paling terluka, tidakkah mommy ingin mencoba untuk melihat ke sisi Paman Gibran, tidak gampang untuk nya berdiri hingga sampai hari ini saat dia juga kehilangan semuanya"
"sebenarnya dia lebih menderita daripada kita, dia kehilangan semuanya, kehidupannya masa depannya, mommy nya, Adik nya, melepaskan Conte company bahkan kini jika mommy tidak memberinya kesempatan dia juga kehilangan mommy dan bayangkan bagaimana perasaannya saat ini?"
Bastian pesertanya dan bicara sembari berharap Linda memahami setiap ucapan dari ucapannya.
__ADS_1
yang jelas diantara semua orang Gibran lah yang paling terluka saat ini, bayangkan bagaimana rasanya ketika Linda bakal tidak memberinya kesempatan setelah perjuangan panjangnya.
"dia telah tiba pada titik Akhir perjuangannya untuk membuka semuanya bahkan menghancurkan keluarganya sendiri, males telah perjuangan panjangnya mommy berusaha untuk melepaskan tangannya dan tetap tidak ingin melihat ke arah dirinya aku pikir kami benar-benar telah kehilangan hati nurani persis seperti laki-laki yang menciptakan diriku agar hidup di dunia ini"
dia terus bicara sembari menatap dalam bola mata Linda, tidak tahu apa keputusan indah setelah ini tapi dia telah berjuang hingga pada titik ini untuk meyakinkan mommy nya soal Gibran.
"di masa lalu dia tidak mengkhianati mommy, tapi dia terjebak pada situasi untuk berusaha menyelamatkan semua orang agar jangan sampai lagi nanti ada korban berikutnya"
setelah berkata seperti itu Bastian secara perlahan melepaskan genggaman tangannya.
"Dia ada di ujung ruangan sana, masih menunggu mommy dalam harapan besar nya, aku tahu paman Gibran tidak memiliki kesalahan apapun di sini karena itu aku memaafkan nya dan semua keputusan aku serahkan pada mommy"
lanjut Bastian kembali kemudian dia berusaha untuk mengembangkan senyumannya sembari membiarkan lidah memutuskan semuanya.
laki-laki tersebut beranjak pergi dari sana dan membiarkan Linda duduk terpaku meresapi ucapan Bastian.
__ADS_1
Linda menatap kearah pintu penghubung, dimana kata nya ada Gibran disana, menatap pintu tersebut untuk waktu yang begitu lama.
Melangkah maju atau tetap bertahan dengan ketidak inginan nya.