Semalam Dengan Papa Mu

Semalam Dengan Papa Mu
Mengetahui soal kenyataan


__ADS_3

Ke esokan hari nya


La Oberoy company


Bastian terlihat menaikkan ujung alisnya ketika dia menatap wajah serius Daddy nya, apalagi saat laki-laki berusia 40 tahunan tersebut berkata jika mereka perlu bicara antara laki-laki dengan laki-laki dengan keseriusan yang mendalam.


Bastian terlihat duduk di atas kursi sofa sambil dia menyandarkan tubuhnya di belakang kursi sofa tersebut, kedua tangan nya saling bertaut dan menyilang ke depan dadanya.


"So?"


Tanya Bastian pada Gerald sambil laki-laki itu Terus menaikkan ujung alisnya.


"Kau tahu ini akan terdengar begitu kejam, tapi aku harap dari sini kau belajar untuk menjadi jauh lebih dewasa dan mampu menanggapi segala sesuatu secara bijaksana"


Gerald kali ini benar-benar bicara dengan nada serius, bola mata nya menatap Bastian lekat-lekat, dia berharap laki-laki muda dihadapannya itu tidak akan terkejut dengan apa yang ingin diucapkannya sebentar lagi.


laki-laki itu ingin Bastian benar-benar menyiapkan mentalnya dalam mendengarkan kenyataan yang akan dia sampaikan.


"kau tahu seorang laki-laki diajarkan untuk menjadi kuat dan tidak cengeng, bertahan dalam keadaan apapun dan tidak bergantung kepada siapapun"


Ucap Gerald lagi.


"mungkin kau akan kecewa mendengar hal yang akan Daddy sampaikan sebentar lagi kepada mu, tapi dibandingkan dengan kekecewaanmu yang akan kamu dengar setelah ini, Daddy jelas lebih dulu merasakan kekecewaan tersebut, 18 tahun bukan waktu sebentar ketika Daddy dibohongi oleh kekecewaan yang diciptakan oleh Linda"


"Realita nya siapapun pasti bisa mengalami kekecewaan tanpa terkecuali, termasuk Daddy dan kamu sendiri"

__ADS_1


Mendengar Daddy nya mulai bicara panjang lebar jelas membuat Bastian mengerut kan keningnya.


"Apakah ini akan benar-benar menyakiti perasaan ku?"


Bastian bertanya sedikit mendengus.


"Aku fikir lagi-lagi Daddy akan membahas soal Venus, seolah-olah perempuan itu memang akan menjadi batu penghalang antara hubungan ayah dan anak"


Bastian bicara sambil sedikit mendengus, dia mencibir kearah Daddy nya, cukup tidak percaya Daddy nya bisa benar-benar memilih Venus ketimbang dirinya.


"Seperti kata Mommy, kau bisa memilih Venus, tapi kau harus memindahkan ½ dari la Oberoy atas nama ku"


Bisa-bisa nya laki-laki tersebut dengan percaya diri berkata begitu.


"Aku tidak mencuri nya, kau tahu Son? terkadang cinta tidak membuat mu paham kemana dia berlabuh"


Saat Gerald mengucapkan kata-kata itu, Bastian merasa cukup jijik mendengar nya.


"Tidak usah panjang lebar, Daddy cukup menandatangani surat pembagian nya, kemudian aku berjanji tidak akan mengganggu Venus lagi"


Mendengar ucapan Bastian seketika Gerald menggelengkan kepalanya secara perlahan.


"Aku tidak bisa melakukan nya"


Saat Daddy nya berkata seperti itu jelas saja Bastian langsung membulatkan bola matanya.

__ADS_1


"Apa?"


Laki-laki muda itu terlihat terkejut, lalu dalam hitungan detik ekspresi wajah Bastian langsung berubah.


"Apa maksud Daddy?"


tanya Bastian sambil mengeratkan rahangnya, laki-laki tersebut langsung berdiri dari posisi duduknya, iya terlihat marah.


Alih-alih peduli dengan ekspresi Bastian, Gerald langsung menyerah kan sebuah map kepada laki-laki tersebut.


"Buka dan lihatlah"


ucapkan Gerald kemudian.


mendapatkan sebuah mendominasi berwarna putih seketika membuat Bastian mengerutkan keningnya, laki-laki tersebut meraih map itu lantas secara perlahan membukanya.


ekspresi wajah Bastian awalnya tampak biasa-biasa saja, namun tiba-tiba dalam hitungan detik ekspresi wajah laki-laki itu seketika berubah.


bisa Gerald lihat tangan Bastian bergetar dengan hebat, mimik wajah putranya seketika berubah begitu drastis.


srakkkkk


dan Map serta lembaran kertas yang ada di tangan Bastian seketika terjatuh ke lantai.


bayangkan bagaimana perasaan Bastian ketika dia mengetahui soal kenyataan yang ada dihadapan nya itu.

__ADS_1


__ADS_2