Semalam Dengan Papa Mu

Semalam Dengan Papa Mu
Chapter 34


__ADS_3

The Royalt penthouse suite


president Wilson hotel


Malam.


Dikala malam tiba Darrel baru saja menyelesaikan semua urusan nya, laki-laki tersebut bergegas bergerak turun dari mobilnya kemudian beranjak masuk menuju ke penthouse yang ada di hadapannya, kakinya melangkah dengan cepat untuk bisa kembali ke kamar milik mereka di mana dia sudah sangat merindukan Gea sejak pagi tadi.


Seharian tidak bertemu dengan perempuan tersebut membuatnya hampir gila, ini kali pertama dia tidak bisa terlalu lama berpisah dengan seseorang di dalam hidupnya.


Dia mengurusi seluruh urusannya tidak ada yang benar-benar terasa fokus, pikirannya terus bercabang dan memikirkan soal Gea, ingin sekali dia menghubungi perempuan tersebut tapi keadaan membuat dia tidak mungkin untuk melakukannya mengingat betapa banyak pekerjaan dia sejak pagi tadi setelah menemui dua temannya.


Harus melakukan pertemuan dan menjadi investor salah satu perusahaan bisnis kemudian dia harus pergi menandatangani kerjasama dengan perusahaan yang lainnya, jadwal padat yang dimiliki benar-benar tidak memberikan waktu luang untuk dirinya, jadi dia harus memiliki kesabaran ekstra untuk menyelesaikan semua pekerja nya, mencoba bersabar untuk bisa menghubungi Gea atau bahkan menunggu waktu sore atau malam tiba hingga dia menyelesaikan pekerjaannya.


Dia berjalan sebesar-besar masuk ke dalam penthouse miliknya tersebut, dimana sang sekretaris nya telah bergerak lebih dulu menjauh dari dirinya.


Namun begitu tiba-tiba di dalam penthouse tersebut dan Mulai mendekati meja resepsionis dimana niat laki-laki tersebut berbelok melesat main menuju ke elevator namun tiba-tiba Darrel langsung mengerut kan keningnya saat dia melihat seorang resepsionis hotel milik nya mendekati dirinya dengan cepat, menunjukkan kepalanya kemudian perempuan tersebut menyerahkan kertas kecil untuk dirinya, laki-laki tersebut menatap kertas kecil itu untuk beberapa waktu.


"Maaf tuan ada pesanan untuk anda"


Perempuan tersebut bicara dengan perasaan takut ke arah Darrel, bukan rahasia lagi para pegawai terlalu takut untuk menyapa laki-laki tersebut atau bahkan mengembangkan senyum mereka kepada Darrel.

__ADS_1


Laki-laki itu bukan tipe laki-laki yang ramah yang suka melihat orang tersenyum lebar ke arah dirinya atau bahkan Darrel sendiri mau tersenyum kepada orang lain.


Laki-laki datar dan dingin serta sedikit minum ekspresi tersebut memiliki raut wajah yang cukup ditakuti dan disegani oleh semua orang, dia bukan tipe atau karakter laki-laki yang suka diajak bicara atau bicara pada orang lain.


Sejak dulu hingga sekarang laki-laki tersebut tetap seperti itu.


Ada desas-desus besar yang berkata, Darrel sebenarnya di masa lalu tidak seperti itu, laki-laki tersebut meskipun tidak memiliki banyak senyuman tapi cukup ramai dan disukai oleh orang-orang di sekitarnya, namun laki-laki itu mulai berubah karena satu peristiwa di masa lalu disaat kegagalan pernikahan yang terjadi di mana dia dipaksa menikah dengan Alisa istri nya.


Bukan rahasia umum lagi jika pernikahan antara Darrel dan Alisa tidak dilakukan atas dasar cinta, ada satu tekanan di masa lalu yang membuat laki-laki tersebut mau tidak mau menikahi Alisa, apalagi Alisa menjadi calon menantu pilihan orang tuanya.


Karakter Darrel mulai berubah pada saat itu, di mana gosip lainnya saling menghantam dan berkesinambungan, Ada yang berkata Ada sosok lain di antara mereka berdua di masa lalu yang membuat Darrel sangat kecewa, di mana pada akhirnya laki-laki tersebut mau menerima pernikahannya dengan Alisa dengan sejuta perasaan kecewa yang menghantamnya.


Namun belakangan Ada yang berkata jika pada masa lalu Alisa ikut terlibat dan berlaku licik untuk bisa menikah dengan laki-laki tersebut, oleh karena itu tidak heran Darrel tidak pernah mau menampilkan Alissa di depan muka umum atau bahkan di hadapan siapapun tanpa terkecuali, karena laki-laki tersebut berpikir sejak awal Alisa memang tidak pernah pantas menjadi nyonya Darrel Oxtone, karena baginya perempuan itu tidak pernah sepadan berdiri di sampingnya menghadap semua orang.


"Apa ini?"


Ketika laki-laki itu bertanya sembari mengerutkan keningnya, sang resepsionis terlihat cukup takut dan bicara dengan nada yang sedikit bergetar.


"Seorang laki-laki tua mengirimkannya untuk tuan, bapak itu berkata ini adalah hal yang penting dan Anda harus membacanya"


Jawab perempuan tersebut cepat.

__ADS_1


Mendengar ucapan perempuan yang ada di hadapannya membuat Darrel langsung menaikkan ujung alisnya, bapak-bapak siapa yang mencari dirinya? Laki-laki tua? Rasanya dia tidak pernah mengenal seorang laki-laki tua atau seorang bapak-bapak hingga sejauh ini.


Karena tidak ingin pusing memikirkannya atau terlalu panjang bertanya pada perempuan yang ada di hadapannya tersebut, pada akhirnya Darrel menerima kertas tersebut, sembari bola matanya terus merata lipatan kecil yang dilakukan pada kertas itu.


Meskipun Darrel masih tampak masih bingung dengan keadaan, pada akhirnya laki-laki itu bergerak dengan cepat menuju ke arah depan dan berpikir untuk naik ke tangga elevator yang ada di hadapannya.


Sembari dia terus berjalan menuju ke arah depan, Darrel mencoba membuka lipatan kertas tersebut, namun belum sempat ia membukanya tiba-tiba satu suara mengejutkan dirinya.


"Darrel"


Buru-buru laki-laki tersebut langsung menghentikan langkah kakinya dengan cepat, dia berbalik lantas langsung menoleh ke arah asal suara.


Seketika laki-laki tersebut membulatkan bola matanya saat dia menyadari siapa sosok yang memanggilnya barusan ini.


"Kau?"


Tanya nya dengan cepat dengan ekspresi sedikit terkejut.


"Kenapa kau ada disini?"


Darrel kembali melesatkan tanyanya pada sosok yang ada di hadapannya tersebut.

__ADS_1


Seketika laki-laki itu mengubah ekspresi wajahnya, dia langsung menggenggam erat kertas yang ada di tangannya saat ini, Darrel terlihat mematung dan menatap sosok yang ada di hadapannya dengan ekspresi wajah yang jelas menyiratkan suatu ekspresi yang sangat sulit untuk diartikan oleh orang-orang disekitar nya.


Seketika suasana di bagian lobby penthouse tersebut menjadi begitu dingin dan tidak bersahabat.


__ADS_2