
Disisi lain
Seorang laki-laki terlihat turun dari sebuah mobil Mercedes Benz e-class terbaru mendominasi berwarna hitam, wajah tampan mendominasi dengan rahang tegas dan Kokoh dalam balutan jas dan sepatu hitam mengkilap senada dengan jas yang digunakan nya menampilkan kesempurnaan sosok laki-laki tersebut.
Usia laki-laki itu kisaran 38 tahunan dan belum melewati usia 40'an, meskipun hampir memasuki usia matang nya, bisa dipastikan wajah laki-laki tersebut terlihat lebih kharismatik namun tidak menampilkan sisi tua nya.
Dia terlihat segar dan gagah karena usia matang tanpa pendamping di samping nya.
Rahangnya terlihat mengeras, namun tidak ada yang bisa melihat tatapan penuh kemarahannya karena sosok tersebut menggunakan kaca mata hitam yang mampu menutupi ekspresi marah dan kesal dalam wajahnya.
Dia terus bergerak masuk kedalam sebuah gedung perusahaan yang ada dihadapan nya, dimana di bagian pintu masuk orang-orang terlihat menundukkan kepala mereka secara perlahan, menyambut penuh penghormatan kepada laki-laki tersebut.
Didalam sana seorang laki-laki gemulai dengan menggunakan jas mendominasi berwarna pink terlihat jauh lebih gelisah dari siapapun yang ada di sana.
"Oh ya Tuhan dimana kamu Clara?"
Laki-laki tersebut terus melirik kearah jam di tangannya, dia pikir mati sudah karena sang pemilik perusahaan telah tiba jauh lebih dulu dari perempuan bernama Clara tersebut.
Dia menekan handphone nya berkali-kali namun tetap gagal melakukan panggilan pada perempuan tersebut.
Bola mata laki-laki gemulai tersebut terbelalak kaget saat menyadari tuan nya sudah mulai bergerak masuk kedalam gedung perusahaan, dia bergerak kedepan dengan cepat, menghampiri laki-laki tampan kharismatik tersebut dengan perasaan yang bercampur aduk menjadi satu.
"Tuan"
Dia menundukkan kepalanya dengan cepat begitu laki-laki kharismatik tersebut bergerak melewati dirinya.
"Dimana dia?"
__ADS_1
Laki-laki tersebut bertanya sambil terus melangkah kearah depan, seorang laki-laki muda berusia 28 tahunan berlarian menuju ke pintu elevator dan membuka dengan cepat pintu tersebut.
Suasana saat ini jelas tidak baik-baik saja, semua orang cukup takut dengan keadaan saat ini.
"Nona Clara berada di..."
Oh ya Tuhan.
Laki-laki gemulai tersebut bingung harus menjelaskan dari mana, dia pikir bagaimana bisa sekretaris sialan itu bisa datang terlambat.
"Maaf Vier, aku punya sedikit masalah dengan Perut ku"
Tiba-tiba seorang perempuan bergegas datang mendekati laki-laki kharismatik tersebut yang bernama Vier, dia bergerak mengikuti langkah nya tepat disamping kanan Laki-laki tersebut.
Syukurlah.
Laki-laki gemulai bergumam didalam hati nya, cukup lega perempuan tersebut datang tepat pada waktunya.
Lanjut Perempuan itu lagi.
Alih-alih menjawab ucapan perempuan tersebut, Vier langsung menghentikan langkahnya, mereka berdiri tepat didalam elevator.
"Kita perlu bicara"
Ucap laki-laki tersebut sembari menatap tajam bola mata perempuan tersebut.
Mendengar ucapan Vier, perempuan itu terlihat diam.
__ADS_1
Melihat ekspresi serius kedua orang tersebut, semua orang terlihat bergerak menghindar, mereka pikir ini tidak baik-baik saja, membiarkan kedua orang tersebut naik berdua kedalam elevator tersebut.
Begitu pintu elevator tertutup, Vier melanjutkan kata-katanya.
"Mari membuat kesepakatan, aku butuh bantuan mu soal sesuatu"
Vier kembali bicara.
"Mari membatalkan pernikahan kita, karena aku telah menemukan dia, ibu dari putri ku"
Saat laki-laki tersebut berkata begitu seketika suasana aneh dan mencekam menyelimuti kedua orang tersebut.
"Aku akan mengembalikan mu pada Darrel, memastikan laki-laki tersebut menikahi mu dan menceraikan Alisa secepat nya"
Lanjut nya lagi kemudian.
Alih-alih menjawab apa yang di ucapkan Vier, perempuan tersebut bertanya balik.
"Kau menemukan Marina? Lalu bagaimana dengan putri kalian yang menghilang di masa lalu?"
******
Disisi lainnya lagi.
Disebuah ruangan mendominasi berwarna putih, satu sosok tubuh seorang perempuan terlihat berbaring di atas sebuah kasur dimana berbagai macam selang tersambung kedalam tubuh nya.
Layar monitor pengatur detak jantung terus mengeluarkan suaranya sejak tadi, suasana hening terlihat disana, dimana tidak terdapat satu orang pun yang ada di sana dimana hanya terdengar detak jarum jam yang memenuhi ruangan tersebut.
__ADS_1
Entah berapa lama waktu berlalu hingga akhirnya tiba-tiba Jemari perempuan tersebut bergerak secara perlahan, awalnya hanya satu, terasa begitu sulit dan perlahan kemudian bertambah satu dilanjutkan pada jari-jari berikut nya.
Lantas selang beberapa waktu secara tiba-tiba pula kedua bola mata perempuan tersebut terbuka dengan sempurna.