
Kembali ke masa lalu
penjara xxxxxxx
pusat kota
Di sebuah ruangan sempit dan gelap dengan barisan besi memanjangkan menjulang di setiap sudut sisi tempat tersebut tampak seorang laki-laki duduk sambil menatap tajam kearah depan.
Ini adalah hari kedua Gibran meringkuk di dalam ruangan penjara gelap dan pengap tersebut, setelah dia melakukan percobaan pembunuhan terhadap Conte.
laki-laki itu memang masuk pada masa kritisnya, namun tidak kunjung mati hingga hari ini.
Gibran jelas langsung mengeratkan rahangnya ketika dia mendapati kenyataan soal hal tersebut.
Dia ingat bagaimana malam kemarin dia menembak laki-laki tersebut di beberapa tempat di tubuhnya, ketika Conte mencoba untuk memperkosa adik kesayangannya.
seolah-olah kehilangan kendali atas dirinya sendiri, Gibran langsung menembak anak buah Conte yang mencoba menahan tubuhnya nya lantas Gibran menembak Conte dengan pistol yang ada di punggungnya tanpa aba-aba dan berfikir dia tiga kali.
persetan dengan dosa atau hukumannya mungkin akan dia terima setelah dia melakukan kejahatan besar membunuh Conte, harapannya malam itu adalah laki-laki tersebut musnah dan binasa secepatnya.
tapi aneh nya kenapa orang jahat selalu mati dengan cara yang begitu sulit, bahkan tembakan demi tembakan bertubi yang melesat ke tubuh laki-laki tersebut tidak kunjung membuat laki-laki itu mati di tempat.
Conte masih bisa bergerak sembari menatap dirinya sambil tertawa terkekeh-kekeh, bahkan Conte Masih sempat memerintahkan anak buahnya untuk menangkap diri nya.
"Tangkap laki-laki bajingan itu"
berita laki-laki tersebut sembari menunjukkan jingga kepada dua laki-laki yang ada di ujung pintu.
dia menunggu dua orang suruhannya untuk menangkap Gibran, tapi siapa sangka perintahnya sama sekali tidak digubris oleh dua laki-laki tersebut.
Conte jelas mengerut kan keningnya.
"Apa kalian tuli?"
Dia bicara dengan nafas tersengal-sengal sembari mencoba memegang dadanya yang mengeluarkan darah begitu banyak.
Gibran berhasil menembak bagian bawah dada nya juga selain menembak kaki, tangan dan paha nya.
Dia juga tidak percaya laki-laki tersebut punya nyali untuk membinasakan dirinya, menembaknya tanpa akal sehat dan menghujaninya dengan peluru tembakan tanpa jeda.
Begitu dia tidak mendapatkan respon dari orang-orang nya, Conte jelas terkejut setengah mati.
"Kalian?"
dia bicara Sembari menatap kedua orang tersebut, seolah-olah menyadari soal sesuatu, laki-laki tersebut tiba-tiba mencoba untuk tertawa terbahak-bahak, dia sadar sepertinya dia telah dikhianati oleh bawahan nya.
__ADS_1
"Cihhh terkutuk lah kalian yang berani mengkhianati aku"
Ucap Conte sembari mengeram penuh kemarahan.
Gibran kali ini ikut tertawa kecil, kemudian menatap laki-laki tersebut untuk beberapa waktu lantas sekali lagi dia mengarahkan pistol nya ke laki-laki tersebut.
"Kau berani melakukan nya? aku benar-benar akan menghancurkan Linda dan kehidupan nya"
Ancam Conte kemudian.
Mendengar ucapan Laki-laki Tersebut jelas saja semakin membuat Gibran gelap mata, seketika dalam hitungan detik laki-laki tersebut kembali menembak laki-laki itu tanpa aba-aba.
Doorrrrrrr.
suara senjata memecah keheningan, dan bayangkan bagaimana kali ini Laki-laki tersebut tumbang tak berdaya.
Sejenak bola mata Gibran Menatap sosok Conte untuk beberapa waktu, kemudian bola matanya berpindah ke adik nya dan ibu nya.
Dua orang suruhan Conte terlihat diam, mereka tidak bergerak sama sekali sejak tadi, menatap conte yang berlumuran darah dan menatap Gibran dengan tangan kanan nya yang masih memegang senjata
tidak lama kemudian terlihat dua orang menyeruak masuk dengan tubuh gemetaran kearah dalam, dua orang itu menatap Gibran dengan keadaan panik dan gemetar.
"Bawa ibu ku dan Eliza keluar dari sini secepat nya, susun alibi sesuai yang sudah aku bilang sebelumnya"
"Tapi tuan muda...?!"
Satu laki-laki bicara sambil berusaha mendekati Gibran dan menyentuh laki-laki tersebut.
"Jangan bicara apapun, tutup mulut dan pergilah secepat nya"
Gibran dengan cepat menepis tangan nya, bicara dengan nada memerintah.
"Pergilah, aku akan menghapus seluruh bukti dan sidik jari semua orang"
Setelah berkata begitu Gibran langsung membalikkan tubuhnya.
Eliza menangis terisak dengan kondisi tubuh yang cukup mengenaskan, dia mencoba mendekati kakak nya dan berusaha untuk memeluk laki-laki tersebut.
Tapi Gibran langsung menghindar dan berkata.
"Menikahlah dengan Andrew, buang nama Conte di belakang nama mu, hidup lah dengan baik dan lupakan semua hal yang berhubungan dengan Conte mulai hari ini"
Mendengar ucapan kakak nya, Eliza terlihat menahan isakan nya, dia menangis didalam diam sambil menggelengkan kepalanya.
"Masih ada satu orang lagi yang bermain di balik layar bukan? aku akan menyelesaikan semuanya setelah aku keluar dari penjara"
__ADS_1
Meskipun Eliza berkata tidak mau, tapi dua orang itu terus membawa Eliza dengan paksa agar keluar dari sana dimana di belakang mansion tersebut seorang laki-laki dan perempuan telah menunggu mereka di dalam sebuah mobil mendominasi berwarna hitam, kemudian setelah itu dua orang yang membawa nya kembali pergi dan membawa ibu nya.
Gibran menatap tajam ke arah tubuh Conte yang mulai tidak bergerak.
Dia sejenak menggerutkan keningnya sembari mengerat kan rahang nya.
Satu orang lagi yang bermain dibalik layar.
Siapa?!.
Saudara kandung ayah nya.
Laki-laki itu.
geram Gibran pelan Sembari dia menggenggam erat tangannya.
sejenak Gibran tersentak dari ingatan nya, Laki-laki tersebut menaikkan kepalanya ketika bisa dia dengar langkah kaki beberapa orang tengah berjalan mendekati dirinya.
laki-laki tersebut menunggu siapa yang melangkah dari ujung sana menuju ke arah jeruji besi di mana dia duduk saat ini, sesuai dengan tebakannya seorang laki-laki menggunakan jas rapi yang berjalan diiringi oleh dua sipir di sisi kiri dan kanannya terlihat menatap dirinya sembari menghentikan langkahnya tepat di depan di mana dia mendekam di dalam jeruji besi tersebut.
"Hello Gibran"
sapa laki-laki tersebut dengan senyuman liciknya.
alih-alih terkejut, Gibran langsung membulatkan bola matanya, laki-laki itu berdiri dari duduk nya kemudian langsung berjalan mendekati sosok laki-laki itu.
"Seharusnya aku sadar sejak awal siapa yang sebenarnya bermain dibelakang layar"
Ucap Gibran sembari menatap tajam kearah laki-laki tersebut, kilatan cahaya api kemarahan menggelora dibalik bola matanya.
"Tapi sayangnya kau terlambat menyadari nya"
Ucap laki-laki tersebut sembari malaikat ujung bibirnya.
"Nikmati masa di penjara mu, son. percayalah, aku akan mengurus semua perusahaan dengan sebaik-baiknya"
setelah berkata begitu laki-laki tersebut terkekeh dengan suara yang begitu mengerikan, persis seperti iblis yang telah memenangkan perlombaan untuk menghancurkan musuh terbesar nya.
Dia benar-benar mendapatkan semua yang dia mau dan menghancurkan keluarga kakak nya tanpa ampun.
Gibran menatap laki-laki dihadapan nya Tersebut sembari mengeratkan rahangnya.
Kau akan hancur tepat pada waktunya.
Ucap Gibran kemudian didalam hati nya.
__ADS_1