
Mansion utama Alisa
Alisa terlihat berjalan menuju ke arah dapur dengan cepat, dia mengeluarkan sesuatu dari dalam lemari pendingin sembari perempuan tersebut melirik kearah jam di dinding nya.
Dia tengah menunggu seseorang sejak tadi dengan perasaan gelisah, berpikir kemana orang tersebut yang sama sekali tidak datang sejak tadi.
Perempuan itu terlihat mengeluarkan beberapa buah dari lemari pendingin, memutuskan untuk mengupas nya beberapa waktu hingga akhirnya Alisa mulai melahap nya secara perlahan.
Entahlah berapa lama dia menunggu hingga akhirnya suara seseorang mengejutkan dirinya.
"Kau disini rupanya?"
Seorang laki-laki bicara dengan cepat, menatap kearah Alisa sembari membawa sebuah tas kerja mendominasi berwarna hitam.
Laki-laki berusia sekitar 50 tahunan dengan perut buncit dan kaca mata tebal yang memikirkan bola matanya tersebut bicara sambil bergerak mendekati Alisa.
Melihat laki-laki yang ditunggu telah tiba membuat Alisa mengembangkan senyuman nya.
"Aku cukup lama menunggu kedatangan Paman"
Ucap nya dengan cepat, Alisa lantas langsung duduk di atas kursi makan, diikuti oleh laki-laki yang dia panggil paman. Mereka duduk saling berhadapan seolah-olah siap untuk membahas sesuatu.
"Katakan pada ku bagaimana selanjutnya?"
Alisa bertanya tidak sabaran kearah laki-laki tua dihadapan nya tersebut.
"Aku tidak mungkin lagi menunggu Gea hingga dia berusia 17 tahun, aku khawatir tidak bisa mengendalikan dirinya di tangan Darrel, mereka terlihat akrab belakangan tapi Darrel cukup mengabaikanku dan bersikap sangat dingin"
Ucap Alisa lagi kemudian, terlihat jelas kekhawatiran di balik raut wajahnya, Elisa pikir Darrel cukup banyak berubah bahkan dia agak sulit untuk mengendalikan Gea.
"Jika aku kesulitan mengendalikannya dan Darrel semakin dekat dengan Gea, ini jelas akan mempengaruhi rencana kita, aku ingin kau bergerak dengan cepat, membuat surat warisan nya agar segera bisa di tandatangani oleh Darrel"
Lanjut nya lagi.
Mendengar ucapan Alisa laki-laki tersebut terlihat diam, dia mengerutkan keningnya untuk beberapa waktu kemudian dia menatap sembari laki-laki itu berkata.
"Apa yang terjadi pada mereka?"
Dia bertanya sedikit khawatir.
"Mereka menjadi dekat?"
"Darrel membawa Gea berlibur ke Swiss, bahkan pelayan dirumah nya berkata mereka berdua tidur di satu kamar yang sama, ini membuat ku gelisah"
Alisa menggigit bibir bawahnya.
"Sifat Darrel terlihat aneh dalam beberapa waktu ini, aku mengalami banyak tekanan dan faktor kecurigaan, apa mungkin?"
Alisa menggantung kalimat nya.
"Darrel tidak mungkin melakukan nya"
"Aku pikir juga begitu, tapi mereka jelas bukan ayah dan anak, jadi tidak ada kata tidak mungkin untuk mereka berdua saat ini, tidak tahu kenapa tapi beberapa waktu ini pemikiranku terasa sangat mengganggu, seolah-olah aku pikir bisa jadi mereka menjalin satu hubungan di belakang ku"
"Mereka ayah dan anak"
Potong laki-laki itu cepat.
"Itu menurut sudut pandang pemaksaan kita, tapi Realita nya kita tahu betul bagaimana hubungan mereka"
"Darrel tidak mungkin segila itu"
"Dia tidak pernah menatap ku seperti dia menatap Gea, aku khawatir dia jatuh cinta pada putrinya sendiri di belakang ku"
laki-laki tersebut terkekeh.
"Kau terlalu berlebihan"
"Tapi feeling tidak pernah salah dalam menebak sesuatu"
Kedua orang itu berhenti untuk saling menyahut, mereka saling menatap antara satu dengan yang lainnya untuk beberapa waktu, seolah-olah pemikiran mereka berkenan entah kemana.
"Darrel tidak mungkin segila itu, itu yang aku pikirkan"
"Aku tidak ingin memikirkan hal seperti itu tapi terkadang aku tidak bisa mengendalikan kecurigaanku"
Jawab Alisa cepat.
Lagi mereka terlihat diam untuk beberapa waktu.
"Aku akan menyiapkan semuanya, jangan khawatir soal apapun"
Pada akhirnya laki-laki itu bicara dengan cepat kemudian dia berusaha untuk memijat-mijat kepalanya sejenak.
__ADS_1
******
Disisi lain
Tuan Oxtone terlihat menyeram Sembari menggenggam erat map yang ada di tangan nya, dia mencoba untuk menghela kasar nafasnya.
"Ada apa?"
Sejenak bisa dia rasakan satu tangan dan suara mencoba mengejutkan diri nya.
"Apa ada hal yang buruk terjadi?"
Itu adalah istri nya.
"Wajah mu terlihat begitu khawatir, seolah-olah Ada hal buruk yang terjadi saat ini."
Lanjut wanita itu lagi.
Tuan Oxtone memilih untuk bungkam sejenak, menelisik bola mata istrinya untuk beberapa waktu.
"Aku harus pergi sejenak"
Pada akhirnya laki-laki tersebut bicara dengan cepat, memilih untuk beranjak dari sana dan berniat untuk meninggalkan istrinya namun wanita itu dengan cepat menggenggam erat telapak tangannya dan mencoba untuk menghalangi jalannya.
"Kamu belum memberitahukannya padaku apa yang sebenarnya terjadi, jangan pergi tanpa bicara sebenarnya ke mana arah tujuannya, itu hanya akan menambahkan kekhawatiran di dalam diriku"
Wanita tersebut buru-buru bicara sembari menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak berharap kau bertengkar dengan seseorang apalagi dengan orang-orang terdekat bahkan dengan anak-anak kita"
Seolah-olah feeling seorang ibu yang begitu kuat menerjang membuat wanita itu cukup takut melihat ekspresi dan reaksi suaminya, hatinya berkata sepertinya ada hal yang tidak baik-baik saja terjadi saat ini meskipun sebenarnya dia belum tahu apa.
"Jika ada persoalan berat dan rumit yang terjadi, putuskanlah untuk memecahkan persoalannya dengan cara yang bijaksana"
Hujan wanita itu lagi.
"Aku tidak tahu apakah bisa memutuskan secara bijaksana atau tidak, tapi menurutku kesalahan ini cukup fatal dan parah, aku harus segera pergi saat ini juga dan menyelesaikan semuanya"
Laki-laki itu bicara dengan Jepang sembari terus menata bola mata istrinya.
Mendengar ucapan suaminya nyonya Oxtone tampak diam, pada akhirnya wanita itu berkata.
"Biarkan aku pergi ikut bersamamu, karena aku takut kau bergerak melampaui batasanmu"
Dia sebenarnya masih tidak tahu apa yang terjadi tapi hatinya berkata seolah-olah semua tidak baik-baik saja karena itu daripada membiarkan suaminya pergi sendiri dia pikir sebaiknya dia pergi juga bersama, mungkin ini akan mengurangi perasaan khawatir yang menghantam dirinya, dan lagi nyonya Oxtone pikir jika suaminya bertindak melampaui batasannya ada dirinya yang akan menjadi penenang dan juga air dari api yang membara.
Mereka melangkah menuju ke arah pintu depan bergerak ke area bagasi, mendekati mobil Tuhan Oxone lantas segera beranjak dari sana secara perlahan.
Bisa nyonya Oxtone lihat bagaimana saat ini kemarahan di wajah suaminya, laki-laki tersebut jelas tidak baik-baik saja, seolah-olah Ada sejuta kemarahan yang menghantam dirinya.
Dia mencoba untuk menebak kemana sebenarnya suaminya akan pergi membàwa dirinya dan melajukan mobilnya, hingga pada akhirnya ketika mereka masuk di dalam pertengahan jalan, saat suaminya berbelok ke sisi bagian Selatan, wanita tersebut seketika membulatkan bola matanya dan dia bisa menebak dengan baik ke mana laki-laki itu akan membawanya saat ini.
Apa yang telah dilakukan nya?.
Batin Nyonya Oxtone.
****
Tuan Oxtone terus mengendarai mobil nya menuju kearah depan, tidak lagi memikirkan jam berapa ini atau pun tidak lagi berpikir jika angin malam memecah keadaan.
Pikiran laki-laki tersebut kini berkelana entah ke mana, sesekali dia mencoba untuk memijat kepalanya, dia pikir apakah dia salah saat ini, entahlah bagaimana mengatakannya kenyataan nya dia sama sekali tidak sanggup mengeluarkan kata-kata nya.
Laki-laki tersebut sejenak mengeratkan rahangnya, berusaha menahan emosinya yang membuncah.
Dia masih berharap apa yang dia lihat dan dan yang dia baca bukan sebuah kenyataan yang harus dia terima bukan merupakan sebuah kenyataan yang harus diterima namun realitanya dia harus menerima seluruh keadaan tersebut dengan lapang dada.
Dia tahu istrinya sejak tadi menatap dirinya, bertanya-tanya di dalam hati apa yang sebenarnya terjadi, dia tidak bisa mengatakan apa yang terjadi pada istrinya saat ini yang jelas dia tengah menahan amarahnya sejak tadi yang mungkin akan pecah sebentar lagi.
Begitu mereka tiba di sebuah bangunan mendominasi berwarna putih yang menjelang tinggi di hadapan mereka, dengan cepat laki-laki tua itu langsung membelokkan mobilnya ke sisi kiri lantas menunggu seorang security membuka gerbang tempat tersebut dengan cepat.
Tanpa harus berpikir dua tiga kali tuan Oxtone langsung membelokkan mobilnya udah masuk ke halaman luas bangunan yang mendominasi berwarna putih tersebut, dia langsung memarkirkan mobilnya di sembarang tempat dan memaksa dirinya untuk turun dari mobil itu tanpa banyak berpikir.
Nyonya Oxtone mengikuti langkah suaminya tanpa berani banyak bicara, dia bergerak dengan cepat mencoba untuk menahan perasaan yang ada di dalam hatinya saat ini, dia tahu. Ini tidak akan baik-baik saja dan dia pikir apa yang telah diperbuat oleh sang pemilik rumah saat ini.
Sejenak bola mata tuan Oxtone menatap posisi kanannya di mana dia melihat terdapat sebuah mobil yang terparkir di halaman tersebut, lagi laki-laki tersebut mengeram sembari mengeratkan tangannya.
Kali ini laki-laki tersebut dengan cepat bergerak masuk ke dalam Mansion yang ada di hadapannya itu dimana bisa dilihat seorang pelayan menunjukkan kepalanya ke arah dirinya sembari menatapnya dengan perasaan penuh khawatir.
Laki-laki tua itu bergerak dengan cepat masuk ke dalam, tidak tahu di mana tujuannya sebenarnya untuk mencari sang pemilik rumah tapi dia yakin penghuninya pasti ada dalam sana.
"Sayang meskipun konflik nya berat aku mohon tolong kendalikan emosimu"
Nyonya Oxtone berusaha untuk menahan lengan suaminya, mencoba untuk mengingatkan laki-laki tersebut agar tidak bertindak di luar batas kapasitasnya.
__ADS_1
Sebab dalam seumur hidup laki-laki itu baru kali ini terlihat marah kepada sang pemilik mansion.
Alih-alih menjawab apa yang diucapkan oleh istrinya, laki-laki tersebut kembali melanjutkan langkah kakinya dan kini bola matanya seketika mengarah ke arah belakang.
Tanpa berpikir dua tiga kali laki-laki itu langsung melesat menuju ke arah belakang dengan cepat, dan bisa dibayangkan bagaimana kejadian di detik berikutnya.
"Dad?"
Satu suara terdengar dari bibir perempuan yang ada di ujung sana, dia menatap tuan Oxtone sembari mengerut kening nya, dia pikir kenapa tiba-tiba laki-laki tua itu ada di tempat tinggalnya, datang tanpa memberitahukan padanya lebih dulu soal kunjungannya.
"Apa ada hal yang buruk, dad?"
Dia bertanya dengan perasaan cemas sebab bisa dia lihat wajah laki-laki di hadapannya itu terlihat begitu marah dan mengeram.
Dan dalam hitungan detik tiba-tiba saja ketika laki-laki itu telah berdiri tepat di hadapannya,
Plakkkkkkk.
Sebuah tamparan telak mendarat di pipi mulusnya.
"Dad apa...?"
Alisa jelas terkejut setengah mati, rasa nyeri dan sakit menghantam dirinya, pipinya terasa begitu terbakar saat ini, selama pernikahannya dengan Darren ini kali pertama laki-laki tua itu memarahinya dan menamparnya tanpa sebab.
"Ada apa?"
Bibir Alisa seketika langsung bergetar, sembari tangan kirinya mencoba untuk memegang pipi kirinya yang terasa sangat sakit dan panas.
"Sayang"
Nyonya Oxtone jelas panik, dia berusaha menahan lengan suaminya, kepanikan jelas terjadi saat ini, bahkan pelayan rumah dengan guru-guru langsung bergerak masuk ke arah dapur saat dia mendengar sebuah keributan dari arah luar sana.
"Berani-berani nakal mencoba untuk menghianati keluarga Oxtone, bahkan berani-beraninya kau menghianati Darrel dengan laki-laki lain"
Suara tuan Oxtone terdengar sangat mengerikan, memecahkan dengan malam di dalam mansion tersebut.
Seketika Alisa membeku, dia mencoba menelan salivanya.
"Apa maksud dari semua ini?"
praakkkkk.
Tiba-tiba tangan laki-laki itu melempar sebuah map dari tangan kirinya, di mana lebaran kertas dan foto berhamburan di mana-mana.
Alisa terlihat membulatkan bola matanya, dia menantang lebaran demi lebaran kertas dan potong yang berhamburan di depan wajahnya bagaikan gerakan slow motion.
Seketika perempuan itu memundurkan langkahnya dan mencoba untuk berpegangan pada bagian meja kitchen set.
"Dad....aku..."
******
Kembali ke hari kemarin.
Apartemen Bram.
"Apa kau sudah mengumpulkan semua nya?"
Laki-laki tersebut bertanya pada laki-laki yang ada di hadapannya, dia sama sekali tidak menoleh ke arah laki-laki di depannya meskipun dia tidak menoleh dan menatap ke arah depannya dia tahu betul apa yang dilakukan oleh lawannya.
"Aku telah menyiapkan semuanya tanpa terkecuali"
Leone bicara lantas menyesap minuman nya secara perlahan, bola matanya tidak lepas menatap kearah Bram yang sejati cukup fokus menghadap ke beberapa dokumen yang ada di tangannya.
"Kau yakin akan menghancurkannya hingga habis? Aku cukup kasihan melihatnya"
Saat Leone berkata seperti itu, seketika Bram langsung menghentikan gerakan tangannya, fokus yang terpecah dan laki-laki itu buru-buru langsung menoleh ke arah Leone dan memberikan tatapan yang sangat tajam juga mengerikan.
"Apa kau lupa apa saja yang telah dia lakukan pada semua orang sejak dulu hingga sekarang?"
Tanya laki-laki itu sembari tidak melepaskan pandangannya ke arah Leonel.
"Saya ini orang-orang akan berkata mereka kasihan melihatnya, tapi apa kau lupa masa depan siapa saja yang telah dihancurkan? apa kau lupa dia juga menghancurkan kehidupan Marina karena ambisi nya untuk bisa berdiri disamping Darrel dan mendapatkan apa-apa yang dia inginkan, agar dia tidak kehilangan pundi-pundi hartanya untuk kesenangannya"
Bram bertanya sambil menaikkan ujung alisnya.
"Bahkan dia menghancurkan kehidupan Silsila aku juga mengambil bayinya tanpa perasaan demi ambisi gilanya, apa dia pernah berpikir bagaimana perasaan silsilah ketika dia menangkapnya, mengurungnya bahkan menyekapnya, belum lagi di mengakui anak orang sebagai anaknya aku juga dia berencana untuk mendapatkan apa yang dia inginkan hingga hari ini di belakang semua orang"
Setelah berkata seperti itu Bram berlangsung membuang pandangannya.
"Jika kau berkata aku tega atau tidak, katakan padaku nilai tega dan tidak dari perempuan itu seperti apa?"
Bram berhenti bicara memilih untuk kembali fokus pada urusan nya.
__ADS_1
Leonel terlihat diam, pada akhirnya laki-laki itu berkata.
"Kau akan mendapatkan berita baiknya dalam beberapa hari ke depan, aku pastikan keluarga Oxtone akan melepaskan dirinya dari kehidupan mereka tanpa berpikir dua tiga kali"