
Alisa terhenyak, mendapat kan map yang terdapat kertas dan berbagai macam foto didalam nya.
Dia berusaha untuk memungut satu persatu Poto yang ada dihadapan nya tesebut.
"Dad...?"
Dia tercekat.
"Aku pikir memilih mu menjadi istri Darrel adalah pilihan yang tepat, aku mencoba menyakinkan diri jika kau adalah menantu pilihan ku yang terbaik, mencoba meyakinkan Darrel dia tidak Memilih istri yang salah dalam seumur hidup nya tapi lihat apa yang kau lakukan dibelakang semua orang?"
Kemarahan tuan Oxtone jelas memanas, laki-laki tua tersebut mencoba mengontrol perasaan nya yang menggebu-gebu, api kemarahan menghantam dirinya saat ini.
Bayangkan ayah mana yang tidak akan meledak saat mendapatkan sebuah laporan soal menantu nya.
Desas-desus tersebut telah lama terdengar, tapi dia pikir dalam rumah tangga seseorang selalu ada saja yang mencari celah dan berusaha menghancurkan nya.
Dia merasakan nya dengan istri nya selama bertahun-tahun, dia gosipkan dengan berbagai macam gosip yang tidak-tidak tapi Memilih mengabaikan dan masa bodoh, sebab itu hanya gosip dan tidak pernah terjadi didalam penikahan mereka.
Dan laki-laki tersebut berpikir hal itu berlaku sama pada pernikahan putranya dan juga menantunya, tidak pernah terlintas sedikitpun di dalam pikiranmu jika Alisa akan menghianati Darrel, bermain di belakangnya dengan laki-laki lain.
Karena dia tahu Alisa begitu patuh dan juga mencintai putranya, meskipun berbeda perempuan itu beberapa hilir mudik, memilih berpisah sejenak dengan Darrel mengingat betapa buruknya tingkah laku laki-laki tersebut, dia tetap tidak menaruh kecurigaan, pada Alisa, Sebab dia yakin Alisa melakukan hal tersebut karena Alisa begitu mencintai Darrel.
Dan sama sekali tidak pernah menyalahkan perempuan tersebut setiap kali terjadi pertengkaran antara Alisa dan Darrel.
dia tahu itu adalah kesalahan Darrel, putranya memang tidak pernah mencintai Alisa selama pernikahan mereka, laki-laki tersebut menyalahkan dirinya atas perjodohan yang tidak diinginkannya.
Tapi tuan Oxtone selalu berkata jika menantu pilihannya sudah sangat tepat untuk Darrel, dia meyakini putranya jika pilihannya adalah pilihan terbaik, dan putra nya tidak akan pernah menyesali nya hingga dia menua.
Namun realitanya apa ya dia harapkan dan apa yang Dia bicarakan semua tidak sesuai dengan ekspektasinya, dia seolah-olah menjerumuskan Darrel pada pernikahan salah dan mengerikan, membelenggu putranya pada perempuan yang salah dan tiba-tiba rasa bersalah menghantam dirinya.
"Dad..ini kesalahpahaman"
Bibir Alisa terlihat bergetar, dia mencoba menatap wajah laki-laki yang ada di hadapannya tersebut.
Wajah yang telah banyak kerutannya dengan uban yang memenuhi kepalanya, tampak menatapnya dengan kekecewaan yang begitu besar, Alisa sama sekali tidak tahu harus berkata apa, ini kali pertama dia melihat mertuanya begitu marah kepada dirinya.
Selama belasan tahun pernikahannya dan Darrel, dia tidak pernah melihat laki-laki di hadapannya tersebut mengeluarkan ekspresi penuh kemarahan dan juga kebencian kepada dirinya, laki-laki tersebut menjadi pembela dirinya di garda paling terdepan bahkan tuan Oxtone yang selalu berusaha membela nya dan menyakinkan dirinya pada Darrel.
"Foto ini tidak benar"
Dia masih berusaha untuk membela diri, sembari menggelengkan kepalanya ke hadapan tuan Oxtone.
Dia pikir dia akan hancur berkeping-keping jika Tuan Oxtone telah marah besar kepada dirinya, dia kehilangan kesempatan ya untuk mendapatkan apapun di dalam keluarga tersebut.
"Kesalahpahaman? foto tidak benar? Hah...."
Laki-laki itu mendengus dengan kasar.
"Kau pikir kali ini bisa mengelak?"
Selatan api memancar dari balik bola mata laki-laki tersebut, seketika rasa kasih dan sayangnya pada Alisa perlahan memudar.
Nyonya Oxtone tampak tidak kalah terkejut dan shok, saat dia melihat beberapa foto yang mengerikan berhamburan ke lantai dan meja makan.
Wanita tersebut seketika menatap ke arah Alisa dengan tatapan tidak percaya.
Dia pikir bagaimana bisa perempuan yang ada di hadapannya itu melakukan hal menjijikan seperti itu.
Namun tidak heran dan tidak dia pungkiri jika Alisa Mampu melakukan hal tersebut mengingat sejak awal dia telah menduga jika hubungan pernikahan darel cepat atau lambat lama-lama akan hancur berantakan.
Sejak awal suaminya memilih perempuan tersebut, feeling kuat seorang ibu telah menduganya, dia tahu Alisa bukan tipe perempuan tulus dan juga sanggup bertahan di samping laki-laki yang tidak memiliki apa-apa.
Sejak awal dia telah menentang hubungan itu, tapi dia jelas tidak memiliki kekuasaan untuk berkata tidak atau jangan, karena suaminya yang menjadi pemutus segala sesuatu di dalam rumah mereka.
Dan lihatlah apa yang terjadi saat ini, ketakutannya di masa lalu benar-benar terjadi di masa kini.
Dia pikir bagaimana bisa Alisa menghianati putranya.
"Apa kau masih berusaha untuk membela dirimu? Kau pikir foto ini editan atau kesalahpahaman? Kau benar-benar masih punya nyali untuk membela diri"
__ADS_1
Suara laki-laki itu seketika meninggi, tatapan tajam yang seolah-olah siap menghunus jantung Alisa dirasakan oleh perempuan tersebut dari ayah mertuanya.
"Kau bisa membereskan seluruh barang-barang mu dan tinggalkan Darrel saat ini juga, kamu bisa kembali ke rumah orang tuamu dan meninggalkan semua nya tanpa terkecuali"
"Dad...aku mohon...maafkan aku...aku .."
Alisa berusaha bergerak mendekati tuan Oxtone, dia bersimpuh di bawah kaki laki-laki tersebut dengan cepat, berharap apa yang dia dengar tidak terjadi, berharap ucapan laki-laki tua tersebut tidak benar, dia jelas saja tidak mau kehilangan semuanya, meninggalkan Darrel sama saja dia akan kehilangan apapun yang telah direncanakan saat ini"
Perempuan tersebut jelas menjadi histeris dia bersimpur bahwa laki-laki tua itu, merangkul kaki tuan Oxtone dan membiarkan diri nya
Mempermalukan dirinya sendiri agar tidak di usir keluar dari sana.
Tidak masalah harga dirinya terinjak-injak, yang menjadi permasalahan yang jelas adalah ketika dia harus kehilangan apa yang seharusnya menjadi miliknya saat ini.
Dia tidak akan rela kehilangan semuanya.
Tuan Oxtone berusaha untuk menyingkirkan kakinya dari perempuan tersebut, dia terlihat jijik kelihatan Alisa, memaksa perempuan tersebut untuk segera agar kaki dari sana.
"Aku sudah tidak memiliki lagi toleransi terhadap perselingkuhan, bukankah sejak awal aku sudah berkata kepadamu? Aku masih menerima kesalahan-kesalahan lainnya, tapi tidak dengan berselingkuh dan menjajakan tubuhmu pada laki-laki lain, itu benar-benar menurunkan harga diri seorang suami ketika istrinya berbagi dengan laki-laki lain"
Setelah berkata seperti itu tuan Oxtone dengan cepat mencoba untuk melepaskan Alisa dari rangkulannya pada kaki kanannya.
Laki-laki tersebut mencoba untuk melepas diri di tengah kemarahan yang tidak bisa dia kontrol saat ini, bisa dilihat istrinya mencoba untuk menenangkan dirinya, tidak tahu kenapa tapi tubuhnya terasa aneh kemudian di detik berikutnya tuan Oxtone merasa dia mulai menatap segala sesuatu yang terlihat tidak baik-baik saja.
Dan kemudian...
Brakkkkkkk.
"Sayang..."
"Dad..."
Dia tumbang begitu saja ke lantai diiringi teriakan histeris 2 perempuan secara bergantian.
******
Kamar tidur utama
Setelah melewati pergulatan panjang malam penuh cinta dari ronde awal hingga selanjutnya jelas saja membuat Gea kelelahan setengah mati, Perempuan tersebut pada akhirnya memilih untuk melelapkan diri tanpa berpikir dua tiga kali.
Dia memilih langsung tenggelam di dalam alam mimpinya tanpa peduli dengan apapun yang ada di sekitarnya bahkan dia tidak sadar jika Darrel terus berada dibelakang nya, memeluk erat dirinya dengan penuh perasaan cinta.
Laki-laki tersebut memeluk erat diri nya, menenggelamkan Gea lebih dalam ke alam mimpi indah nya.
Darrel yang sejak tadi membiarkan dirinya memeluk Gea, sembari tangan kanannya melulus-ngelus punggung tangan putrinya tersebut pada akhirnya secara perlahan ikut menenggelamkan dirinya ke alam mimpi.
Dia mulai meminjamkan bola matanya di mana kantor secara perlahan ikut menerjang dirinya, hari jelas semakin larut, membuat siapapun berpikir ini benar-benar waktu yang tepat untuk menenggelamkan diri dalam kubangan lautan mimpi.
Entah berapa lama waktu berlalu hingga pada akhirnya Darrel secara perlahan terpejuang dan mulai terhanyut di dalam tidurnya.
Kedua anak manusia berbeda kelamin tersebut sama-sama tenggelam di dalam tidur mereka.
Cukup lama waktu berlalu hingga akhirnya sabar-sabar terdengar suara handphone Darrel yang mulai memekakkan telinga dan mengganggu tidur dalam laki-laki tersebut.
Dengan perasaan enggan dari melepaskan pelukannya pada tangan kanannya dari Gea, dia meraba-raba mencari handphone nya secara perlahan, cukup lama hingga pada akhirnya dia mendapatkan handphone tersebut.
Laki-laki itu menjawab panggilannya sembari bola matanya masih tertutup berapa.
"Halo?"
Dia menjawab panggilan di seberang sana, kamu jawab dengan nada sedikit malas sembari mencoba menahan kantuk yang menghantam.
Cukup lama dia mendengar perkataan dari seberang sana hingga pada akhirnya secara spontan Darrel langsung membuka bola matanya.
"Apa?"
Laki-laki tersebut jelas terkejut setengah mati saat dia mendengar jawaban dari ujung sana.
"Kau bilang apa?"
__ADS_1
Dia bertanya sembari mencoba mempertajam pendengarannya.
Awalnya Darrel masih belum beranjak dari posisinya, hingga pada akhirnya secara spontan laki-laki tersebut terbangun dari tidurnya.
Ekspresi wajahnya terlihat panik dan juga penuh kemarahan, dan di titik berikutnya tanpa berpikir panjang laki-laki itu mematikan handphone yang kemudian beranjak dari posisi awalnya.
Darrel langsung bangun dan berdiri dengan cepat tanpa berpikir dua tiga kali, laki-laki tersenyum langsung mencari pakaiannya dimana saat ini dia hanya menggunakan celana boxer nya.
Gea yang masih terlelap hanya terjaga sejenak, karena dia merasa ada yang bergeser di tubuh dan kepalanya, dimana tadi pelukan Darrel dan lengan Darrel dengan gerakan cepat melepaskan diri dari posisi nya.
Mungkin karena masih dalam keadaan mengantuk parah dan lelah perempuan tersebut kembali melanjutkan tidurnya.
Darrel sengaja tidak membangunkan putrinya tersebut, dia pikir besok Gea harus pergi ke sekolah dan tidak boleh sampai terlambat karena itu dia sengaja tidak membangunkan dan membawa serta Perempuan tersebut.
Laki-laki tersebut tanpa berpikir dua tiga kali langsung melesat pergi dari kamar nya menuju kearah Dimana sang penelepon tadi menyebutkan lokasi yang harus Darrel datangi.
Darrel secepat kilat keluar dari kamar tersebut, bergerak turun ke arah lantai bawah menuju ke area di mana mobilnya terparkir di dalam garasi mansion tersebut.
Dia langsung naik ke atas mobilnya dengan cepat lantas membawa mobil kesayangannya menembus jalanan ibukota yang lengang.
"Sial"
Darrel mengumpat sejenak didalam hati nya.
*******
Rumah sakit xxxxxxx
Pusat kota.
Begitu tuan Oxtone jatuh tumbang jangan ditanya bagaimana perasaan sang istrinya, dengan begitu siaga dan cekatan wanita tersebut membawa suaminya pergi dari mansion Alisa.
Tidak dipedulikan lagi sang menantunya tersebut, meskipun Alisa mengikuti langkahnya dengan cepat dan ikut membawa suaminya bergerak menuju ke arah rumah sakit, tapi rasa marah dan kecewa nyonya Oxtone pada perempuan itu jelas menggebu.
Dia pikir bagaimana bisa menantu pilihan suaminya seperti itu.
Berbagai macam lembar foto perselingkuhan yang dilakukan Alisa benar-benar mengejutkan dirinya, dia tidak menyangka perempuan yang terlihat baik-baik saja dan sangat berbakti pada suami tersebut rupanya seorang pendusta dan juga seorang peselingkuh ulung juga unggul.
Sejak awal perempuan itu menikah dengan Darrel di mana Alisa menjadi perempuan pilihan suaminya, sebenarnya sudah membuat wanita tersebut tidak yakin dan sedikit kecewa.
Dia sama sekali kurang suka atas perjodohan yang dilakukan suaminya kala itu, seolah-olah hati seorang ibu berkata dia bukanlah istri yang terbaik untuk putranya.
Namun apa daya dia tidak memiliki kekuasaan apapun, di rumah apapun yang diucapkan oleh suaminya harus dipatuhi dan turutin bahkan termasuk semua orang harus menuruti ucapan suaminya.
Feeling seorang ibu jelas benar-benar kuat, seolah-olah hati kecilnya telah berkata perempuan itu memang tidak pantas mendampingi putranya.
Karena dia tahu siapa yang terbaik sebenarnya untuk putranya kala itu, namun dia sama sekali tidak bisa mengeluarkan suaranya atas apa yang dia pikirkan.
Dan kini lihatlah apa yang terjadi, apa yang dia takutkan pada akhirnya terjadi juga.
Suara decitan kasur branker yang digunakan untuk mengangkat putranya bergerak menuju ke arah dalam sembari mengeluarkan suara berisik nya di tengah-tengah rumah sakit tersebut.
Nyonya Oxtone terus bergerak mengejar langkah, sembari air matanya tumpah tanpa bisa dia halangi lagi karena khawatir soal suaminya.
Berbagai macam pikiran-pikiran buruk terhadap dirinya, ketakutan besar jelas mengelilingi isi pikiran dan juga perasaan yang saat ini.
Dia tampak linglung dan tidak tahu harus berkata apa, sedangkan di belakangnya Alisa terus bergerak mengejar langka.
Mereka larut pada pikiran mereka masing-masing, di mana Alisa jelas pasti ketakutan, takut juga mertua laki-lakinya ini juga mertua perempuannya bicara soalnya pada Darrel.
Dia tahu pada akhirnya semua akan usai dan hancur, dia pikir saat Darrel mengetahui semua kenyataan tidak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi berikutnya.
Alisa pikir dia benar-benar akan hancur saat ini, setidaknya sebelum dia hancur dia harus bertindak dengan cepat untuk menyusun strategi bagaimana caranya agar dia mendapatkan apapun yang diinginkannya.
Para tim dokter terus menggeret kasur branker yang membawa tuan Oxtone menuju ke ruang unit gawat darurat, mereka jelas tengah berusaha untuk melakukan pertolongan pertama. rumah
Karena kondisi laki-laki yang ada di atas kasur brankas tersebut tidak baik-baik saja, hal tersebut membuat nyonya Oxtone jelaskan kata-kata nya, dengan tangan sedikit gemetaran wanita tersebut mencoba untuk menghubungi seseorang.
Dia pikir Darrel harus tahu apa yang terjadi pada daddy nya saat ini dan wanita tersebut tahu ketika Darrel mengetahui soal segala sesuatu yang terjadi, maka dia paham dan tahu pada akhirnya mungkin rumah tangga putranya sama sekali tidak bisa diselamatkan lagi.
__ADS_1